Bisnis  

Ono Surono Tanggapi Rencana Bandara Kertajati Jadi Bengkel Pesawat Hercules AS: Bisa Jadi Opsi Solusi Hidupkan Bandara

INDRAMAYUUPDATE – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Ono Surono, angkat bicara soal wacana Bandara Internasional Jawa Barat Kertajati dijadikan pusat pemeliharaan atau Maintenance, Repair, and Overhaul (MRO) pesawat angkut militer turboprop C-130 Hercules milik Amerika Serikat.

Menurut Ono, opsi tersebut cukup realistis ditempuh ketimbang aset negara bernilai triliunan rupiah itu tidak dimanfaatkan secara maksimal.

“Intinya aset yang sampai senilai Rp 5 triliun itu sayang apabila tidak dimanfaatkan. Sehingga opsi untuk dijadikan bengkel perawatan pesawat, ya itu pun menjadi sebuah opsi yang harus ditempuh,” kata Ono saat ditemui di Stadion Tridaya Indramayu, Jumat (29/5/2026).

Ono menjelaskan, saat ini kawasan Rebana yang meliputi Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Subang hingga Sumedang mulai tumbuh menjadi kawasan industri baru sekaligus motor pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.

Karena itu, ia menilai sangat disayangkan bila Bandara Kertajati terus sepi aktivitas. Berbagai opsi, termasuk dijadikan MRO pesawat Hercules, dinilai layak dicoba pemerintah.

Meski begitu, Ono memahami munculnya kekhawatiran sejumlah pihak terkait aspek keamanan apabila wacana tersebut benar-benar direalisasikan. Namun menurutnya, pemerintah tentu akan melakukan kajian matang sebelum mengambil keputusan.

“Dari awal pembangunan bandara juga kan dalam DED sudah mempertimbangkan berbagai macam aspek termasuk keamanan,” ujarnya.

Di sisi lain, Ono mengaku masih berharap Kertajati tetap bisa dimaksimalkan untuk penerbangan komersial. Ia pun menyinggung rencana reaktivasi Bandara Husein Sastranegara di Bandung.

Menurut Ono, pemerintah sebaiknya tidak memaksakan pengoperasian penuh Bandara Husein karena statusnya merupakan pangkalan udara milik TNI AU, bukan murni bandara komersial.

“Begitu juga dengan Halim kan, Halim pun sebenarnya statusnya adalah pangkalan udara dari TNI AU,” katanya.

Ono mengingatkan, salah satu alasan utama dibangunnya Bandara Kertajati ialah untuk memindahkan sebagian penerbangan komersial dari Bandara Husein ke Kertajati. Selain itu, kondisi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta yang sudah overload juga membuat Kertajati seharusnya bisa menjadi alternatif pengalihan penerbangan.

“Kalau saya tetap berharap bahwa Husein dengan keterbatasan fasilitasnya sebaiknya tidak dimaksimalkan atau dipaksakan, artinya tetap Kertajati yang harus didorong. Apalagi Tol Cisumdawu juga sekarang sudah ada,” ujar dia.

Meski demikian, Ono mengakui menghidupkan penerbangan komersial di Kertajati bukan perkara mudah. Menurutnya ada dilema klasik antara ketersediaan maskapai dan jumlah penumpang.

“Tinggal misalnya problemnya antara telur dan ayam ya, apakah penumpang dulu atau ada maskapai dulu. Nah itu kan harus diselesaikan dengan political will atau komitmen nyata dari pemerintah pusat maupun Jawa Barat,” ucapnya.

Sembari menunggu komitmen pemerintah menghidupkan penerbangan komersial, Ono menilai opsi menjadikan Kertajati sebagai pusat perawatan pesawat Hercules bisa menjadi solusi jangka pendek yang realistis.

“Paling tidak kalau misalnya komersil itu sulit di Bandara Kertajati, maka bisa dijadikan tempat perawatan dulu sambil fasilitasnya dilengkapi,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *