INDRAMAYUUPDATE – Bupati Indramayu, Lucky Hakim, menggulirkan wacana besarnya untuk mengatasi persoalan sampah di Indramayu melalui program sampah terpilah.
Pada tahap awal, program inovatif ini akan difokuskan dengan melibatkan para siswa sekolah. Mereka diminta rutin membawa sampah plastik dari rumah ke sekolah untuk dikumpulkan.
Konsep ini lahir dari kebutuhan penyesuaian kebijakan agar masalah sampah dapat diatasi secara maksimal sekaligus memberikan manfaat ekonomi secara langsung.
“Saya mencanangkan di Indramayu bisa ada sampah terpilah. Dimulai dari mana? Kalau dari masyarakat umum sepertinya agak berat, tapi coba kita mulai dari sekolah-sekolah,” kata Lucky di Pendopo Indramayu, Jumat (15/5/2026).
Menurut Lucky, pemilahan sampah sebenarnya bukan hal yang baru di Indramayu.
Fasilitas tempat sampah organik dan non-organik pun sudah banyak tersedia di ruang publik. Namun, pada praktiknya, sampah yang terkumpul itu selalu tercampur diakhir sehingga sulit untuk dipilah.
“Sampah itu tidak ada nilainya kalau tercampur tapi kalau itu terpilah, sampah bisa jadi bernilai. Maka dari itu kita pancing dari SD dan SMP agar para siswa membawa sampah plastik dan ditukar menjadi uang,” ujar dia.
Lucky menjelaskan, bahwa uji coba program ini telah dilakukan di salah satu SD di Kecamatan Krangkeng dan membuahkan hasil yang positif.
Dalam kurun waktu satu bulan, sampah plastik yang terkumpul cukup banyak dan menghasilkan uang yang lumayan ketika dijual.
“Itu berhasil, jadi selama satu bulan plastik yang terkumpul itu banyak. Dan itu bisa dijual dan jadi uang, ini lumayan buat siswa,” kata Lucky.
Menyusul keberhasilan tersebut, Lucky menginstruksikan seluruh SD dan SMP di Kecamatan Krangkeng untuk mulai berkoordinasi dengan wali murid sedari sekarang untuk menerapkan hal serupa.
Ia juga menargetkan program ini bisa diaplikasikan ke sekolah-sekolah di kecamatan lain se-Kabupaten Indramayu.
“Kalau misal satu sekolah bisa ngumpulin dalam satu bulan sekitar 3-5 kwintal satu sekolah, dikali berapa sekolah, dikali berapa se-Indramayu. Saya ada optimisme maka sampah-sampah di Indramayu bisa terpilah dengan baik,” kata Lucky.
Tak hanya di tingkat SD dan SMP, Lucky juga berencana memohon kepada Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, agar para pelajar di tingkat SMA juga diizinkan untuk berpartisipasi dalam program ini.
“Bisa dibayangkan jika SMA juga dilibatkan, ada berapa banyak sampah yang bisa kita pilah,” lanjutnya.
Masih disampaikan Lucky, untuk mendongkrak antusiasme pihak sekolah dan siswa, Lucky juga berencana untuk menyiapkan skema semacam kompetisi berhadiah bagi sekolah yang paling maksimal memilah dan mengumpulkan sampah plastik.
“SD di kecamatan yang terbanyak mengumpulkan plastik itu akan mendapat hadiah apa. Itu nanti akan tentukan, saya baru akan rapat hari Kamis nanti. SMP juga sama, nanti grand championnya di tingkat kabupaten agar lebih menarik,” kata Lucky.
Lebih lanjut, Lucky menargetkan, program sampah terpilah ini bisa mulai terealisasi secara serentak pada Juni 2026 mendatang.
Jika terbukti efektif memangkas volume sampah, Lucky berharap ke depannya setiap desa di Indramayu juga bisa menerapkan sistem serupa.
“Nanti kita lihat seberapa efektif wacana ini untuk mengatasi sampah di Indramayu,” ujar dia.






