Kisah Titin, Guru Disabilitas di Indramayu yang Mengabdi Tanpa Batas hingga Dapat Apresiasi

INDRAMAYUUPDATE – Titin Maryatin (35) tak kuasa menyembunyikan rasa haru saat rumahnya di Blok Rancakitiran, Desa Kroya, Kecamatan Kroya, Kabupaten Indramayu, mendadak didatangi rombongan tamu pada Rabu (10/6/2026).

Bukan tamu biasa. Rombongan yang datang terdiri dari perwakilan Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Indramayu, Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah (FKDT), hingga Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kabupaten Indramayu.

Kedatangan mereka untuk memberikan apresiasi kepada Titin atas dedikasinya sebagai guru madrasah yang selama ini mengabdi di tengah berbagai keterbatasan yang dimilikinya.

“Ya Allah, saya bahagia dan terharu, Pak. Saya dikasih uang banyak. Nggak nyangka yang datang sampai tiga mobil,” kata Titin saat ditemui, Sabtu (13/6/2026).

Titin merupakan guru disabilitas di Madrasah Diniyah Takmiliyah Ula (MDTU) Dalilun Ni’mah. Sejak lahir, ia mengalami keterbatasan fisik karena kedua kakinya tidak tumbuh sempurna.

Namun kondisi tersebut tak pernah menghalanginya untuk mengejar cita-cita menjadi seorang guru.

Perjalanan hidup Titin juga tak selalu mudah. Ia harus menghadapi cobaan berat saat kehilangan ibu kandung dan suaminya dalam rentang waktu yang berdekatan.

“Saya sempat merasa seperti orang yang tidak punya pegangan hidup. Untungnya saya terus membaca Al-Qur’an. Akhirnya saya bisa bangkit lagi,” tuturnya.

Meski hanya menempuh pendidikan formal hingga tingkat SMP, Titin tetap bertekad mengajar dan berbagi ilmu kepada anak-anak di lingkungannya.

Kini, hampir seluruh waktunya dihabiskan untuk mendidik generasi muda. Selain mengajar di madrasah diniyah, ia juga membuka kelas privat bagi anak-anak di sekitar rumahnya.

Dedikasi itulah yang akhirnya mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Dalam kunjungan tersebut, hadir langsung Kepala Kemenag Indramayu Aghuts Muhaimin, Kasi Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Ahmad Fadlali, Ketua Baznas Indramayu Aspuri, serta pengurus FKDT Indramayu Taufik Hidayat dan Ediyanto.

Dari pihak madrasah diketahui bahwa usulan pemberian penghargaan kepada Titin sebenarnya telah diajukan sejak beberapa waktu lalu.

Namun, demi menjaga kenyamanan Titin, penghargaan tersebut tidak diberikan melalui acara seremonial besar. Sebaliknya, para pejabat memilih datang langsung ke tempat ia mengajar dan tinggal.

Selain memberikan penghargaan kepada Titin, rombongan juga melakukan monitoring pelaksanaan Penilaian Akhir Tahun (PAT) di madrasah tersebut.

Sebagai bentuk apresiasi, Titin menerima bantuan uang tunai sebesar Rp 3 juta beserta sejumlah hadiah lainnya.

“Alhamdulillah saya bersyukur sekali,” ucapnya.

Kisah Titin menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk terus berkarya dan mengabdi. Ketekunan serta semangatnya dalam mendidik anak-anak kini menjadi inspirasi bagi banyak orang di Indramayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page