Berdiri di Bantaran Cimanuk, Tugu Perahu Jaga Kenangan Warga Krasak Indramayu Tentang Perahu Tambangan

Tugu Perahu di bantaran Sungai Cimanuk menjadi pengingat sejarah warga Desa Krasak Indramayu saat masih mengandalkan perahu tambangan sebelum jembatan gantung dibangun.

Screenshot

INDRAMAYUUPDATE – Sebuah tugu berbentuk perahu berdiri di bantaran Sungai Cimanuk, Desa Krasak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Monumen tersebut bukan sekadar penghias desa, tetapi menjadi pengingat masa ketika warga mengandalkan perahu tambangan untuk menyeberangi sungai.

Tugu Perahu itu berdiri berdampingan dengan jembatan gantung yang kini menjadi akses utama warga. Kehadirannya sengaja dibuat untuk menjaga ingatan masyarakat terhadap sejarah penyeberangan di Desa Krasak.

Kepala Desa Krasak Khairul Isma Arif mengatakan, sebelum jembatan gantung dibangun dan beroperasi pada 2024, warga mengandalkan perahu kayu untuk menyeberangi Sungai Cimanuk.

“Dulu sebelum ada jembatan gantung, kita menggunakan tambatan perahu untuk penyeberangan. Makanya setelah jembatan dibangun pada tahun 2024, kita bikin ciri khas Tugu Perahu di situ sebagai pengingat warga tentang nilai historis Desa Krasak,” ujar Arif saat ditemui di balai desa, Senin (21/9/2026).

Pada masa itu, perahu tambangan bahkan beroperasi selama 24 jam. Selain digunakan warga untuk aktivitas sehari-hari, jalur tersebut juga menjadi akses alternatif bagi mahasiswa Politeknik Negeri Indramayu (Polindra).

Mahasiswa dari arah Sliyeg disebut kerap menggunakan perahu tersebut untuk memangkas waktu perjalanan menuju kampus yang berada di Kecamatan Lohbener.

“Perputaran uangnya dulu memang lumayan,” kata Arif.

Meski begitu, keberadaan jembatan gantung pada akhirnya menggantikan fungsi perahu tambangan. Pergantian tersebut berjalan tanpa penolakan dari pengelola karena sarana penyeberangan sebelumnya merupakan aset desa.

“Seperangkat alat perahu itu aset desa semua. Setiap tahun pengelolanya kita lelang, sistemnya sama seperti lelang tanah titisara (bengkok) dan tanah desa. Jadi saat diganti jembatan, aman tidak ada yang protes,” ungkapnya.

Mantan Pengelola Perahu Dialihkan ke Pertanian

Pemerintah Desa Krasak juga berupaya agar para warga yang sebelumnya menggantungkan penghasilan dari perahu tambangan tidak kehilangan mata pencaharian.

Desa memfasilitasi mereka untuk menggarap lahan kosong milik Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung di sekitar sungai. Penggunaan lahan tersebut dilakukan dengan ketentuan tidak merusak tanggul.

“Kita kasih lahannya, silakan yang tadinya mengelola perahu untuk menggarap di situ. Sekarang mereka pada bekerja mengurus pertanian, ada yang mengurus kebun mangga, sampai membuat bata merah di sekitaran bantaran Cimanuk,” jelas Arif.

Kini, warga di seberang Sungai Cimanuk tidak lagi harus mengeluarkan uang untuk menyeberang ketika hendak mengurus berbagai keperluan administrasi di balai desa.

“Dulu warga yang di seberang kalau mau mengurus dokumen penting pribadi seperti rekam KTP harus mengeluarkan uang untuk biaya perahu. Kalau sekarang tinggal menyeberang saja, mau ke kecamatan atau ke mana pun aksesnya jauh lebih enak dan gratis,” katanya.

Jembatan Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan gantung Desa Krasak kini juga menjadi ruang publik baru bagi warga. Setiap sore, anak-anak muda hingga warga sekitar kerap berkumpul menikmati suasana Sungai Cimanuk.

Aktivitas tersebut turut membuka peluang bagi pelaku UMKM untuk berjualan di sekitar jembatan.

Jembatan gantung Desa Krasak dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan diresmikan pada 2024. Pembangunannya menelan anggaran sekitar Rp 20,7 miliar.

Jembatan tersebut memiliki panjang total 180 meter dengan bentang utama 120 meter. Lebarnya 1,8 meter dan menggunakan struktur atas rangka rigid simetris.

Kehadiran jembatan tersebut kini membuat akses warga di kedua sisi Sungai Cimanuk menjadi lebih mudah. Namun bagi warga Desa Krasak, kisah tentang perahu tambangan tetap menjadi bagian dari perjalanan desa.

Tugu Perahu di bantaran Cimanuk pun hadir untuk menjaga cerita itu agar tidak hilang ditelan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page