Kisah Pilu Eks Anggota DPRD Indramayu: Dulu Duduk di Kursi Dewan, Kini Berjuang Sambung Hidup dengan Kondisi Stroke

INDRMAAYUUPDATE – Roda kehidupan berputar begitu cepat. Hal inilah yang dialami oleh Subada, mantan anggota DPRD Kabupaten Indramayu periode 2014-2019. Dulu hidupnya terhormat sebagai wakil rakyat, kini ia harus berjuang keras menyambung hidup sebagai pekerja serabutan di tengah kondisi fisiknya yang tak lagi sehat.

Kondisi Subada kian memprihatinkan setelah dirinya terserang stroke ringan yang melumpuhkan sebagian anggota tubuhnya. Saat ini, ia terpaksa menumpang di sebuah rumah sederhana milik saudaranya yang terletak di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

Saat ditemui, Subada menceritakan bagaimana peliknya menjalani hari-hari sejak penyakit stroke itu menyerang tubuhnya.

“Kalau jalan masih bisa cuma harus diseret, tangan juga cuma bisa diangkat segini (sedada),” ujar Subada lirih sembari memperlihatkan kondisi tangannya, Jumat (15/5/2026).

Catatan rekam jejak Subada di panggung politik Indramayu sebenarnya tidak sembarangan. Ia merupakan kader Fraksi PDI Perjuangan yang berhasil melenggang ke gedung parlemen melalui mekanisme Pengganti Antar Waktu (PAW) pada periode 2014-2019.

Selama duduk di kursi kedewanan, Subada dikenal sebagai sosok yang aktif. Ia tidak hanya vokal menyuarakan aspirasi masyarakat di daerah pemilihannya (dapil), tetapi juga menjadi salah satu legislator yang gencar menggaungkan isu-isu kebudayaan lokal Indramayu.

Namun, kejayaan itu sirna setelah masa jabatannya berakhir. Subada sempat mencoba peruntungan dengan mencalonkan diri kembali pada pemilu berikutnya, namun dewi fortuna sedang tidak berpihak kepadanya. Ia gagal terpilih.

Kegagalan di pemilu rupanya menjadi awal dari rentetan ujian hidup yang menerpa Subada. Tak berselang lama, usaha garam yang menjadi sumber penghasilannya gulung tikar alias bangkrut.

Cobaan hidupnya kian berat saat kehidupan rumah tangganya hancur. Ditengah keterpurukan ekonomi, ia ditinggal oleh sang istri. Subada sempat mencoba bangkit dan membangun bahtera rumah tangga yang baru dengan wanita lain. Namun takdir berkata lain, istri keduanya itu kini telah meninggal dunia.

Puncak penderitaannya terjadi saat tim medis mendiagnosisnya mengidap stroke ringan. Sejak fisik tak lagi berdaya, Subada praktis kehilangan tumpuan ekonomi dan mulai menggantungkan hidup pada belas kasihan saudaranya.

Meski fisiknya tak lagi sempurna, Subada enggan berpangku tangan. Setiap hari, dengan kaki yang harus diseret, ia tetap berjalan kaki keliling kampung. Harapannya sederhana: ada orang yang berbaik hati mau memberinya pekerjaan serabutan.

Namun kenyataan hidup begitu pahit. Kondisi fisiknya yang ringkih membuat banyak orang enggan mempekerjakannya. Alhasil, untuk sekadar mengisi perut, eks anggota dewan ini kini harus mengetuk pintu rumah tetangga dan kerabatnya.

“Kadang makan minta ke tetangga, kadang ke saudara,” ucapnya.

Di akhir perbincangan, pria yang kini hidup dalam kesederhanaan ekstrem ini menyelipkan sebuah pesan mendalam. Di tengah badai hidup yang belum mereda, ia mengajak semua orang untuk tidak lelah menebar kebaikan.

“Teruslah untuk berbuat kebaikan walaupun langit esok akan runtuh. Janganlah berbuat maksiat, yang baik-baik saja, ambil yang baik dan buang yang buruk,” pungkas Subada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *