Tradisi Nyala Seribu Lilin di Makam dan Sejarah Panjang di Balik Usia ke-547 Ujungan Desa Kedokan Bunder Indramayu

Tradisi Malam Seribu Lilin di Kedokan Bunder, Indramayu, menerangi makam leluhur dalam rangkaian unjungan yang disebut telah berusia 547 tahun.

INDRAMAYUUPDATE – Ribuan nyala lilin menerangi kompleks Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Kedokan Bunder, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.

Cahaya kemerahan yang menyebar di antara makam menciptakan suasana khidmat dalam tradisi adat yang dikenal sebagai Malam Seribu Lilin.

Sejak malam tiba, ratusan warga berdatangan ke pemakaman untuk menyalakan lilin di makam keluarga masing-masing. Salah satu makam yang menjadi perhatian warga adalah makam Buyut Nyimas Ratu Kawunganten, sosok leluhur yang memiliki tempat penting dalam sejarah masyarakat setempat.

Tradisi ini bukan sekadar bagian dari kemeriahan acara adat. Bagi masyarakat Kedokan Bunder, Malam Seribu Lilin juga menjadi momen untuk mengenang keluarga yang telah meninggal dunia sekaligus mendoakan para leluhur.

Kepala Desa Kedokan Bunder, Waskim, mengatakan penyalaan lilin merupakan bagian dari rangkaian unjungan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten yang rutin digelar setiap tahun.

“Tradisi ini setiap tahun kita gelar setiap acara adat unjungan desa,” kata Waskim saat menceritakan tradisi tersebut, Minggu (25/10/2026).

Menurut Waskim, unjungan di Kedokan Bunder memiliki sejumlah rangkaian kegiatan yang menjadi ciri khas desa. Selain Malam Seribu Lilin, masyarakat menggelar sedekah bumi, festival arak-arakan, hingga tradisi menguras Sumur Gede yang diyakini sebagai peninggalan Buyut Nyimas Ratu Kawunganten.

Di antara berbagai kegiatan tersebut, Malam Seribu Lilin menjadi puncak acara yang paling dinantikan masyarakat.

“Dan tradisi malam seribu lilin ini adalah acara puncaknya,” ujarnya.

Berawal dari Sejarah Leluhur Desa

Di balik tradisi yang masih bertahan hingga sekarang, terdapat kisah tentang sosok yang dipercaya memiliki peran dalam terbentuknya Desa Kedokan Bunder.

Waskim menjelaskan, masyarakat setempat menghubungkan sejarah desa dengan Nyi Mas Ratu Kawunganten, yang menurut penuturan turun-temurun merupakan putri Adipati Banten dan istri Sunan Gunung Jati.

Ia menuturkan, sosok tersebut dipercaya mendapat tugas menyebarkan agama Islam sekaligus membuka kawasan hutan Lebak Sungsang hingga berkembang menjadi sebuah pedukuhan.

“Nyi Mas Ratu Kawunganten itu adalah putri dari Adipati Banten. Kebetulan diperistri oleh Sunan Gunung Jati dan diperintahkan untuk menyebarkan agama Islam, serta membabat hutan Lebak Sungsang menjadi pedukuhan, yang sampai sekarang berkembang menjadi Kedokan Bunder,” tutur Waskim.

Kisah tersebut menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Karena itu, unjungan tidak hanya dipandang sebagai perayaan tahunan, tetapi juga sebagai sarana mengenang sejarah asal-usul desa.

Lilin sebagai Simbol Penerang

Waskim menyebut, tradisi menyalakan lilin di makam berawal dari kebiasaan masyarakat. Dalam perkembangannya, nyala lilin dimaknai sebagai simbol penerang bagi keluarga dan leluhur yang telah meninggal dunia.

Masyarakat juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berziarah dan memanjatkan doa bagi anggota keluarga yang telah berpulang.

“Kalau istilah orang Jawa mah ‘ngembang’ gitu, Mas. Jadi untuk menerangi istilahnya seperti itu,” jelasnya.

Kebiasaan tersebut terus dipertahankan hingga kini. Ketika lilin-lilin dinyalakan bersamaan, area pemakaman yang semula gelap berubah menjadi hamparan cahaya yang menjadi pemandangan khas setiap perayaan unjungan.

Menurut Waskim, tradisi itu telah berlangsung selama ratusan tahun. Pada 2026, peringatan unjungan tersebut disebut telah memasuki usia ke-547, yang juga merujuk pada usia Desa Kedokan Bunder menurut penuturan pemerintah desa.

“Iya usia tersebut sesuai juga dengan usia desa,” katanya.

Menjaga Warisan di Tengah Modernisasi

Bagi Waskim, keberlangsungan Malam Seribu Lilin memiliki arti tersendiri. Ia mengaku bersyukur karena tradisi yang dikenalnya sejak kecil itu masih dijalankan oleh masyarakat hingga sekarang.

Lebih dari sekadar keramaian pesta adat, kegiatan tersebut menjadi ruang bagi warga untuk mempererat hubungan kekeluargaan sekaligus mengenalkan sejarah desa kepada generasi muda.

Pemerintah desa pun berkomitmen mendukung pelestarian unjungan agar tradisi tersebut tidak terputus di tengah perubahan zaman.

“Bagaimanapun juga, kearifan lokal harus dijaga dan dirawat agar nanti anak cucu kita tidak putus mengetahui jejak sejarah leluhurnya. Pendiri yang membabat Desa Kedokan Bunder itu adalah seorang tokoh yang harus terus kita hargai,” pungkasnya.

Malam Seribu Lilin menjadi gambaran bagaimana masyarakat Kedokan Bunder merawat ikatan dengan masa lalu. Di antara cahaya yang menyala di kompleks pemakaman, tersimpan pesan tentang pentingnya mengenang leluhur, menjaga kebersamaan, dan meneruskan warisan budaya kepada generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *