INDRAMAYUUPDATE – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunjungi kediaman keluarga anak kembar lima di Desa Bodas, Kecamatan Tukdana, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Dalam kunjungannya tersebut, Dedi tidak hanya melihat langsung kondisi keluarga, tetapi juga memberikan bantuan modal usaha serta solusi pekerjaan bagi sang ayah, Warsilah (41), demi menghidupi istri dan keenam anaknya.
Pasangan Warsilah dan Nuraeni (34) ini diketahui memiliki enam orang anak.
Anak pertama mereka kini duduk di bangku kelas 5 SD, sementara lima anak kembarnya masih berusia dua tahun.
Kelima anak kembar itu sebelumnya lahir pada 7 Juli 2024 di RSUD Indramayu.
Masing-masing anak diberi nama Arsyla Putri Nurilah, Arisha Putri Nurilah, Aisyah Putri Nurilah, Azzahra Putri Nurilah, dan si bungsu laki-laki, Ahmad Al Fatih Putra Nurilah.
Uniknya, kelima anak ini oleh orang tuanya diberi julukan dengan singkatan ‘A5’.
“Kalau dulu lahirannya dibantu siapa? Pemda?” tanya Dedi Mulyadi dalam tayangan di kanal YouTube pribadinya, Rabu (5/8/2026).
“Dibantu dari BPJS Kesehatan,” jawab Warsilah.
Dedi pun menyadari betapa beratnya perjuangan Warsilah dan Nuraeni dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga besar mereka.
Sebelumnya, Warsilah diketahui berprofesi sebagai petani. Namun, karena desakan ekonomi, ia terpaksa menjual sawah seluas 40 bata atau sekitar 560 meter persegi.
Sawah itu dijual seharga Rp 80 juta dan uangnya digunakan untuk kebutuhan kelima anak kembar mereka serta kebutuhan hidup sehari-hari. Selain mengandalkan uang tabungan yang selama ini mereka kumpulkan.
Bahkan, sang istri, Nuraeni, bercerita ia dan suaminya terpaksa harus menjual sepeda motor hingga perhiasan emas demi bisa menyambung hidup.
“Mau gimana lagi, sedangkan bapak (suaminya) sehari-hari cuma di warung saja,” jelas Nuraeni.
Di warung kecil depan rumahnya ini menjadi satu-satunya penopang ekonomi keluarga ini.
Kondisi kelima anak yang masih balita pun menjadi kendala bagi Warsilah untuk mencari pekerjaan lain, selain karena sulitnya mencari pekerjaan.
Permasalahan tidak berhenti di situ, warung tersebut diketahui juga kondisinya sepi karena kekurangan modal.
Hasil dari warung terus tersedot untuk memenuhi kebutuhan harian yang cukup besar, sehingga tidak bisa berputar untuk belanja barang untuk dijual kembali.
Pengeluaran ini, diungkap Nuraeni, belum termasuk kebutuhan susu hingga popok, mendengar keluh kesah itu, Dedi pun memotivasi Warsilah untuk kembali bekerja.
Ia mengingatkan, anak kembarnya akan terus tumbuh dan membutuhkan biaya lebih besar ke depannya, sehingga tidak bisa jika hanya mengandalkan tabungan yang tersisa.
“Bapak kalau diam terus enggak akan dapat-dapat (rezeki), harus usaha,” ujar Dedi memberikan semangat.
Meski Warsilah sempat mengaku bingung mencari pekerjaan dan terkendala urusan mengasuh anak, Dedi langsung menawarkan solusi nyata.
Ia menyarankan Warsilah untuk mengikuti pendidikan sekuriti dan berjanji akan menyalurkannya ke sebuah pabrik di Indramayu yang sebelumnya pernah ia resmikan.
“Bapak mau ya? Daripada di rumah terus,” tawar Dedi, yang langsung disambut kesanggupan oleh Warsilah.
Pada kesempatan itu, Dedi memberikan perbandingan antara pola hidup di masa lalu dan kini. Menurutnya di zaman sekarang banyak anak membuat pengeluaran keluarga juga akan semakin banyak.
“Dulu anaknya banyak tapi orang-orang bisa bertahan, karena orang tua dulu tidak beli pempes, tidak beli susu. Kalau sekarang 3 anak saja repot karena sekarang itu pola hidup sudah berubah,” pungkas Dedi.
Untuk memastikan roda ekonomi keluarga tersebut kembali berputar, selain menjamin Warsilah mendapat pekerjaan, sang Gubernur Jabar juga turut memberikan bantuan modal usaha sebesar Rp 5 juta agar warung milik pasutri tersebut bisa kembali beroperasi.
“Alhamdulillah Pak, terima kasih banyak,” ucap Nuraeni dan Warsilah penuh syukur.






