INDRAMAYUUPDATE – Bencana tanah ambles di kawasan tanggul Sungai Cimanuk, tepatnya di Blok Gumiwang Utara, Desa/Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terus mengancam keselamatan warga.
Meski saat ini memasuki musim kemarau, pergerakan tanah masih terjadi dan membuat warga dihantui rasa waswas.
Fenomena pergerakan tanah itu diketahui mulai terjadi sejak 2021 dan hingga kini belum berhenti. Dalam sebulan terakhir, warga mencatat penurunan tanah di sekitar tanggul mencapai sekitar 1 hingga 2 meter.
Salah seorang warga, Harun (37), menjadi saksi bagaimana tanah di belakang rumahnya terus amblas. Rumah yang ditempatinya bersama keluarga merupakan bangunan yang paling dekat dengan bibir tanggul Sungai Cimanuk.
Harun mengenang, saat pertama kali membangun rumah, kondisi tanah di bagian belakang justru lebih tinggi dibandingkan halaman depan. Kini, kondisinya berubah drastis akibat terus mengalami penurunan.
“Ini itu dulu tinggi, Mas. Dibanding rumah saya, lebih tinggi ini,” kata Harun sambil menunjuk bagian belakang rumahnya yang amblas, Selasa (4/8/2026).
Pergerakan tanah yang terus terjadi membuat rumah Harun nyaris roboh. Ia mengaku sudah empat kali merenovasi rumahnya karena bangunan terus mengalami kemiringan.
Terbaru, Harun membuat fondasi darurat secara mandiri dengan menyusun karung berisi tanah yang disangga batang bambu. Upaya itu dilakukan agar bagian belakang rumah tidak semakin miring.
“Ini bikin sendiri (fondasi), dua hari kemarin baru selesai, itu saya beli tanah satu dump truck,” ujarnya.
Harun mengaku dirinya dan keluarga hidup dalam kecemasan setiap hari. Setiap merasakan getaran, ia langsung memeriksa kondisi rumah, terutama bagian belakang yang berada di dekat tanggul.
Bahkan saat bekerja sebagai satpam di sebuah pabrik, Harun mengaku akan segera pulang apabila mendapat kabar dari keluarganya mengenai adanya pergerakan tanah.
“Takut Mas, takut tiba-tiba roboh. Di rumah juga kan ada nenek-nenek, takut kenapa-napa. Kalau di rumah ini saya tinggal berlima, ada anak juga,” tuturnya.
Pemerintah melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung sebelumnya telah membangun tanggul darurat di lokasi tersebut. Namun, upaya itu belum mampu menghentikan pergerakan tanah karena tanggul kembali rusak.
Harun bersama warga lainnya kini berharap pemerintah segera menghadirkan solusi permanen. Jika penanganan teknis dinilai tidak memungkinkan, ia berharap ada kebijakan relokasi demi keselamatan warga.
“Saya siap direlokasi kalau memang ada tawaran dari pemerintahnya. Kalau bisa pindah mah ya pengennya cari tempat yang lebih aman buat ditinggali,” pungkasnya.






