Kualitas Udara Indramayu Berada di Level Sedang di Tengah Isu Abu Vulkanik Erupsi Gunung Anak Krakatau

Kualitas udara Indramayu berada di level sedang dengan PM2,5 mencapai 61. DLH menyebut kondisi masih aman.

INDRAMAYUUPDATE – Kualitas udara di Kabupaten Indramayu berada pada kategori sedang di tengah ramainya isu paparan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Hasil pemantauan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Indramayu menunjukkan konsentrasi PM2,5 mengalami peningkatan.

Pemantauan dilakukan menggunakan Air Quality Monitoring System (AQMS) yang terpasang di wilayah pusat kota Indramayu. Berdasarkan data terbaru hingga Selasa (8/9/2026) sekitar pukul 15.00 WIB, kualitas udara tercatat berada pada level sedang.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan DLH Indramayu, D Subyar Mujihandono, mengatakan status tersebut terutama dipengaruhi oleh konsentrasi PM2,5 yang mencapai angka 61.

“Alat untuk mengecek kualitas udara ini namanya AQMS, ini bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup,” kata Subyar saat ditemui di kantornya.

Menurutnya, angka PM2,5 tersebut menunjukkan tren meningkat sejak dini hari hingga siang menjelang sore. Sementara itu, parameter polutan lainnya masih berada dalam kondisi baik.

Meski masuk kategori sedang, Subyar menyebut kondisi udara di Indramayu masih aman dan dapat diterima oleh tubuh.

Tak Bisa Pastikan PM2,5 dari Abu Vulkanik

Subyar menegaskan data AQMS memang dapat menunjukkan kondisi kualitas udara secara real time. Namun, alat tersebut tidak dapat memastikan sumber atau asal partikel yang terdeteksi.

Karena itu, peningkatan PM2,5 di Indramayu belum bisa dikaitkan secara langsung dengan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau.

“Jadi tidak bisa dipastikan itu apakah disebabkan oleh abu vulkanik atau bukan, karena ada beberapa kemungkinan,” jelasnya.

Selain kemungkinan adanya partikel dari aktivitas vulkanik, peningkatan PM2,5 juga dapat dipengaruhi berbagai faktor lain. Di antaranya emisi kendaraan bermotor dan meningkatnya paparan debu selama musim kemarau.

Warga Tak Perlu Panik

Isu mengenai abu vulkanik Gunung Anak Krakatau sempat membuat sebagian warga Indramayu khawatir. Subyar mengaku sejumlah warga bahkan menanyakan apakah perlu menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Terkait penggunaan masker, dia menyerahkan keputusan tersebut kepada masing-masing warga.

“Ada yang bertanya seperti itu, tapi itu kan ranahnya pimpinan ya, kalau saya dikembalikan lagi ke pribadinya masing-masing. Boleh pakai masker, kalau tidak juga tidak apa-apa, karena hasil kualitas udara juga masih tergolong aman,” ujarnya.

Dia mengimbau masyarakat tidak berlebihan dalam menyikapi isu tersebut dan dapat memantau kondisi kualitas udara secara mandiri.

Masyarakat dapat menggunakan aplikasi ISPUnet KLH untuk melihat informasi kualitas udara yang tersedia.

“Iya bisa dicek mandiri, masyarakat bisa download aplikasi ISPUnet KLH, itu langsung muncul analisisnya,” kata Subyar.

Namun, data tersebut saat ini baru menggambarkan kondisi udara di sekitar pusat kota Indramayu. Hal itu karena DLH Indramayu baru memiliki satu alat pemantauan AQMS.

“Jangkauannya terbatas karena alatnya cuma satu buah,” imbuhnya.

DLH Rutin Pantau Kualitas Udara

Subyar menegaskan pemantauan kualitas udara sebenarnya bukan hanya dilakukan ketika muncul isu abu vulkanik. DLH Indramayu secara rutin memonitor kondisi udara melalui AQMS.

Jika indikator menunjukkan kualitas udara memburuk hingga masuk kategori tidak sehat atau berbahaya, pemerintah daerah akan mengambil langkah mitigasi.

“Tapi alhamdulillah sampai dengan saat ini tidak pernah sampai kualitas udara di Indramayu dalam tidak sehat atau berbahaya,” ujarnya.

Selain pemantauan, Pemkab Indramayu juga menjalankan sejumlah program untuk menjaga kualitas udara. Upaya tersebut antara lain penanaman pohon, pengelolaan sampah, serta pelaksanaan Car Free Day dan Car Free Night.

Menurut Subyar, menjaga kualitas udara bukan hanya menjadi tanggung jawab DLH. Diperlukan keterlibatan berbagai instansi pemerintah dan masyarakat.

“Karena udara ini sesuatu yang tidak hanya bisa oleh DLH saja yang menangani, perlu juga langkah dari instansi lain, termasuk juga masyarakat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page