INDRAMAYUUPDATE – Saat sebagian warga masih terlelap, Suyani (60) sudah mengayuh sepeda tuanya dari Desa Tugu, Kecamatan Sliyeg, menuju pusat Kota Indramayu. Ia berangkat bukan untuk berolahraga, melainkan mencari nafkah sebagai “Abang Pengkian”, sebutan bagi buruh harian serabutan yang mangkal di sekitar Tugu Nol Kilometer Indramayu.
Sejak pukul 05.30 WIB, Suyani menembus dinginnya pagi dengan membawa harapan mendapat pekerjaan. Bersama sejumlah rekannya, ia menunggu panggilan warga di trotoar seberang Masjid Agung Indramayu.
“Kerja mah apa saja. Kadang beresin kebun, angkut bongkaran tembok, gali saluran, apa saja,” ujar Suyani, Jumat (31/7/2026).
Pekerjaan itu sudah digelutinya lebih dari 20 tahun. Meski usia tak lagi muda, Suyani mengaku belum terpikir untuk berhenti bekerja karena kebutuhan ekonomi masih menjadi tanggung jawabnya.
Ia pun selalu berusaha bekerja maksimal. Ketelitian dan hasil kerja yang rapi membuatnya memiliki pelanggan tetap yang rutin memanggilnya untuk membersihkan halaman rumah.
“Pokoknya sampai bersih, alhamdulillah jadi dipanggil lagi,” katanya.
Hal senada dirasakan Darpan (64), rekan sesama Abang Pengkian yang juga berasal dari Desa Tugu. Setiap pagi ia mengayuh sepeda tua dengan membawa cangkul, pengki, dan peralatan kerja lainnya.
Darpan mengaku pernah menjadi kuli bangunan hingga merantau ke Jakarta. Namun perkembangan teknologi membuat tenaga kasar semakin jarang dibutuhkan sehingga ia memilih kembali ke kampung halaman.
“Dulu di Jakarta masih banyak pekerjaan kuli, sekarang sudah pakai mesin semua,” ujarnya.
Menurut Darpan, menjadi buruh harian memang tidak memberikan kepastian. Tak jarang ia pulang tanpa membawa uang setelah seharian menunggu pekerjaan.
Meski begitu, kondisi tersebut tak membuatnya menyerah. Ia memilih tetap berangkat setiap hari dengan harapan ada warga yang membutuhkan jasanya.
“Daripada di rumah tidur-tiduran, lebih baik tetap berangkat. Siapa tahu ada yang membutuhkan,” katanya.
Darpan masih harus menghidupi keluarganya. Anak bungsunya bahkan masih berusia 10 tahun sehingga ia merasa harus terus bekerja selama fisiknya masih sanggup.
“Saya anak dua. Yang bungsu masih 10 tahun, nggak bisa cuma tidur-tiduran,” ucapnya.
Pendapatan yang diterima para Abang Pengkian pun tidak menentu. Besarnya tergantung jenis pekerjaan dan kesepakatan dengan pemberi kerja. Namun Darpan mengaku pernah mendapat upah hingga Rp400 ribu dalam sehari saat mengerjakan proyek borongan menggali septic tank.
“Kalau upah nggak tentu. Pernah borongan gali septic tank, alhamdulillah dapat Rp400 ribu sehari,” tuturnya.
Di tengah perubahan zaman dan semakin banyaknya pekerjaan yang digantikan mesin, para Abang Pengkian tetap bertahan. Setiap pagi mereka kembali mengayuh sepeda tua sambil membawa cangkul dan pengki, berharap ada rezeki yang datang dari tenaga yang masih mereka miliki.






