INDRAMAYUUPDATE – Di tengah panasnya jalanan Kota Indramayu, Pais (28) mengayuh sepeda yang telah dimodifikasi menjadi bengkel jahit berjalan. Dengan mesin jahit manual di bagian depan, ia menyusuri jalan demi jalan, berharap ada warga yang membutuhkan jasanya.
Bagi sebagian orang, pekerjaan sebagai penjahit keliling mungkin bukan pilihan yang menarik. Namun, bagi Pais, pekerjaan itu menjadi jalan untuk mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga kecilnya.
Pemuda kelahiran 1998 asal Desa Kedungwungu, Kecamatan Krangkeng, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, itu mengaku tak pernah gengsi menjalani profesinya. Baginya, selama pekerjaan tersebut halal, apa pun akan dilakukan demi anak dan istrinya di rumah.
“Alhamdulillah rezeki sih ada saja, kebutuhan keluarga juga bisa tercukupi, buktinya saya masih bertahan sampai sekarang,” kata Pais saat ditemui di Jalan Tridaya Barat, Indramayu, Senin (19/10/2026).
Berawal dari Kebiasaan di Keluarga
Kemampuan Pais menjahit bukan datang begitu saja. Sejak kecil, ia sudah akrab dengan mesin jahit karena sebagian besar anggota keluarganya berprofesi sebagai penjahit.
Lingkungan itulah yang membuatnya terbiasa melihat benang, jarum, dan mesin jahit bekerja memperbaiki pakaian.
Setelah lulus SMA, Pais memutuskan menekuni pekerjaan tersebut. Sejak 2018, ia memilih menjadi penjahit keliling dan menjalani profesi itu hingga sekarang.
Alih-alih membuka toko dengan menyewa tempat, Pais justru memodifikasi sepeda kayuhnya menjadi bengkel jahit sederhana.
Rangka becak dipadukan dengan sepeda tersebut untuk menopang mesin jahit manual di bagian depan. Di dekatnya, tersedia gulungan benang aneka warna, gunting, jarum cadangan, dan perlengkapan lain yang dibutuhkan untuk memperbaiki pakaian pelanggan.
Dengan modal sederhana itu, Pais setiap hari mengayuh sepeda menyusuri sudut-sudut Kota Indramayu.
“Rutenya mah bebas, muter saja. Kadang ke daerah Samsu, kadang ke sini (Jalan Tridaya Barat), ya ke mana saja,” tuturnya.
Bisa Perbaiki Pakaian dalam Hitungan Menit
Pekerjaan Pais terlihat sederhana, tetapi membutuhkan keterampilan dan ketelitian. Berbagai jenis pakaian, mulai dari kemeja, kaus, hingga celana bahan, bisa ia tangani.
Saat ditemui, Pais tengah memperbaiki sekitar lima helai pakaian milik seorang pelanggan. Kerusakannya terbilang ringan, seperti bagian celana yang robek atau berlubang.
Tak membutuhkan waktu lama, pakaian-pakaian itu kembali rapi setelah dijahit.
Pengalaman selama bertahun-tahun membuat Pais terbiasa menangani kerusakan pakaian sehari-hari. Ia mengaku banyak belajar dari keluarganya yang juga berprofesi sebagai penjahit.
“Sudah biasa, keluarga di rumah juga banyak yang jadi tukang jahit, belajar dari situ,” jelasnya.
Soal tarif, Pais memasang harga yang relatif terjangkau. Untuk menambal baju atau celana yang berlubang, pelanggan cukup membayar Rp 3.000 hingga Rp 5.000 per helai.
Sementara untuk memotong celana atau melakukan perbaikan ringan lainnya, tarifnya sekitar Rp 10.000 per helai.
Meski begitu, tidak semua pakaian bisa ia kerjakan. Untuk jas, misalnya, Pais mengaku belum memiliki keterampilan yang cukup karena pengerjaannya lebih rumit.
“Kecuali jas ya, jas mah agak susah, belum bisa. Rata-rata penjahit keliling memang agak kesulitan kalau jas,” ungkapnya.
Pais sebenarnya bisa menjalankan pekerjaannya di kampung halaman. Namun, ia menilai pusat Kota Indramayu menawarkan peluang yang lebih menjanjikan dibandingkan daerah asalnya yang berbatasan dengan Kabupaten Cirebon.
Demi mendekatkan diri dengan pelanggan, Pais memilih tinggal di tempat kos di Kota Indramayu.
Ia tidak sendirian. Ada tiga rekan sekampung yang tinggal bersamanya dan sama-sama bekerja sebagai penjahit keliling. Di kawasan Tembaga, ia juga mengetahui ada sekitar enam penjahit keliling yang tinggal di tempat kos.
Bagi Pais, berkeliling justru menjadi keunggulan dibandingkan membuka toko jahit menetap.
Ia pernah melihat temannya mencoba menyewa tempat untuk membuka usaha jahit. Namun, karena pelanggan sepi, temannya itu akhirnya kembali berkeliling.
“Pernah teman coba nyewa tempat, cuma sepi. Akhirnya keliling lagi. Lebih menjanjikan keliling. Soalnya kadang orang malas ke tempat,” ujarnya.
Selain menunggu pelanggan di jalan, Pais juga menerima pesanan panggilan. Sejumlah pelanggan menghubunginya melalui telepon ketika membutuhkan jasa perbaikan pakaian.
Ia pun bersedia mendatangi pelanggan, meski harus menempuh jarak tertentu.
Panas dan Hujan Jadi Tantangan
Menjadi penjahit keliling bukan berarti selalu mudah. Pais harus menghadapi penghasilan yang tidak menentu, sekaligus cuaca yang terkadang menyulitkan aktivitasnya.
Saat matahari terik, ia harus tetap mengayuh sepeda menyusuri jalanan Pantura. Sementara ketika musim hujan tiba, pergerakannya menjadi terbatas karena harus mencari tempat berteduh.
“Kalau lagi musim hujan yang berat, soalnya susah keliling. Tapi kalau musim panas ya alhamdulillah, ada saja rezekinya,” kata Pais.
Meski begitu, ia tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti bekerja.
Ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi setiap hari. Ada pula masa depan anak yang ingin terus ia perjuangkan.
Kini, Pais telah dikaruniai seorang anak berusia tujuh tahun yang duduk di kelas II sekolah dasar.
Dari penghasilannya sebagai penjahit keliling, ia berusaha memenuhi kebutuhan rumah tangga, mulai dari kebutuhan dapur hingga perlengkapan sekolah sang anak.
“Alhamdulillah cukup buat keluarga. Anak juga bisa sekolah, buat beli buku, beli seragamnya,” ucapnya sambil tersenyum.
Bagi Pais, kebahagiaan bukan semata-mata tentang seberapa besar penghasilan atau seberapa mewah tempat bekerja. Selama bisa membawa pulang rezeki halal dan memastikan anaknya tetap bersekolah, ia merasa bersyukur.
Setiap kayuhan sepeda dan tusukan jarum yang ia lakukan menjadi bagian dari perjuangannya menjaga keluarga.
Di jalanan Kota Indramayu, Pais memang hanya terlihat sebagai penjahit keliling dengan mesin jahit sederhana. Namun, di balik pekerjaannya itu, ada tanggung jawab seorang ayah yang terus berusaha memberikan kehidupan terbaik bagi keluarganya.