INDRAMAYUUPDATE – Aroma sawah di Jalan Tembaga, bau kayu dari perahu nelayan di Karangsong, hingga aroma khas batik di Paoman masih melekat dalam ingatan Nang Sadewo (52).
Bagi sebagian orang, aroma tersebut mungkin hanya bagian dari keseharian. Namun bagi Sadewo, semuanya merupakan potongan memori tentang kehidupan dan peradaban Indramayu.
Ia khawatir ingatan itu perlahan hilang seiring perubahan zaman. Karena itu, sejak masih duduk di bangku SMA, Sadewo mulai menaruh perhatian pada sejarah dan benda-benda masa lalu.
Kecintaannya terhadap tanah kelahiran kemudian membawanya pada perjalanan panjang untuk merawat memori Indramayu.
Salah satu wujudnya kini terlihat di Museum Bandar Cimanuk yang berada di Jalan Veteran, Kelurahan Lemahabang, Kecamatan/Kabupaten Indramayu.
Di museum tersebut, berbagai benda yang bagi sebagian orang sudah tidak memiliki nilai guna justru disimpan dan dirawat.
Ada naskah kuno, benda pusaka, artefak sejarah, foto-foto lama Indramayu, dokumentasi bupati dari masa ke masa, hingga berbagai koleksi seni dan budaya.
Benda-benda sederhana seperti alat penumbuk padi, jaring nelayan, takaran minyak tanah, kaleng kerupuk, setrika arang, dan peralatan rumah tangga tempo dulu juga tersimpan di sana.
Koleksi tersebut seolah membawa pengunjung kembali melihat kehidupan masyarakat Indramayu pada masa lalu.
Sadewo mengatakan zaman boleh berubah. Namun selama dirinya masih hidup, ia ingin terus menularkan ingatan tentang daerahnya kepada generasi penerus.
“Manusia itu kan punya akal punya nalar, nah saya itu lihat bahwa tempat tinggal saya itu asri indah. Saat saya lewat ke Jalan Tembaga itu tercium aroma khas sawah, terus main ke Karangsong ada aroma khas bau-bau kayu orang bikin kapal, main ke Paoman bau batik. Saya tidak mau ingatan tersebut hilang,” kata Sadewo saat ditemui di Museum Bandar Cimanuk, Minggu (13/9/2026).
Keinginan menyelamatkan ingatan tersebut kemudian mempertemukan Sadewo dengan sejumlah pegiat sejarah dan budaya lainnya di Indramayu.
Mereka membentuk Yayasan Indramayu Historia yang kemudian berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk membangun museum.
Sekitar 2015, Museum Bandar Cimanuk akhirnya berdiri. Gagasan pendiriannya berawal dari upaya mengumpulkan, mendokumentasikan, sekaligus menyelamatkan benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan perjalanan Kabupaten Indramayu.
Namun berdirinya museum bukan menjadi akhir perjuangan. Justru dari sanalah perjalanan Sadewo dan para pegiat sejarah serta budaya semakin panjang.
Tak Banyak Pengunjung, Sadewo Tetap Bertahan
Sadewo tidak menampik berbagai tantangan kerap dihadapi untuk mempertahankan Museum Bandar Cimanuk.
Satu per satu orang yang sebelumnya ikut berjuang dalam pelestarian sejarah dan budaya mulai meninggalkan aktivitas tersebut. Sebagian memilih berhenti karena harus memenuhi kebutuhan hidup dan ekonomi.
Sadewo menjadi salah satu yang masih bertahan hingga sekarang.
Bukan karena museum memberikan keuntungan besar. Sebaliknya, pemasukan museum terbilang minim.
Pengunjung hanya dikenakan tiket Rp 5.000 per orang. Jumlah kunjungan pun tidak selalu ramai.
Lantas, apa yang membuat Sadewo masih bertahan?
Jawabannya sederhana: moral.
“Lalu kenapa saya masih bertahan? Itu karena moral. Karena konsep hidup itu kita harus bisa memberikan manfaat untuk orang lain,” ujarnya.
Sadewo menyadari pelestarian sejarah tidak mungkin sepenuhnya bergantung pada pemasukan museum.
Di luar aktivitasnya mengurus museum, Sadewo diketahui merupakan seorang pengusaha. Sebagian keuntungan dari usahanya tidak jarang ia gunakan kembali untuk memenuhi kebutuhan museum, selain pendanaan yang dibantu melalui yayasan.
Langkah tersebut juga mendapat dukungan penuh dari keluarga.
Istrinya bahkan ikut membantu mengelola museum.
“Keluarga saya mendukung penuh, yang gak didukung keluarga saya cuma satu. Ikut-ikutan politik,” kata Sadewo sambil bergurau.
Berburu Jejak Sejarah hingga ke Belanda
Perjalanan Sadewo dalam mengumpulkan benda-benda bersejarah sebenarnya sudah dimulai jauh sebelum Museum Bandar Cimanuk berdiri.
Bersama rekan-rekannya, ia mulai mengumpulkan benda-benda tersebut sekitar 2005.
Mereka berkeliling ke berbagai wilayah di Indramayu untuk mencari dan menyelamatkan benda yang dianggap memiliki nilai sejarah maupun budaya.
Pada 2010, Sadewo bahkan melakukan ekspedisi ke Belanda untuk mencari arsip lama mengenai keberadaan Belanda di Indramayu pada masa penjajahan.
Perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Namun Sadewo memilih menikmati prosesnya.
Ia bersyukur masyarakat yang memiliki benda-benda lama cukup terbuka untuk mendukung upaya pelestarian yang dilakukan Yayasan Indramayu Historia.
“Alhamdulillah sih kalau kendala tidak ada, mereka juga berkenan barang-barang tersebut disimpan di sini,” tuturnya.
Bagi Sadewo, sebuah benda tidak harus berkaitan dengan peristiwa besar untuk dianggap memiliki nilai sejarah.
Peralatan petani dan nelayan, misalnya. Benda-benda sederhana itu justru menjadi jendela untuk melihat bagaimana kehidupan masyarakat pada masa lalu.
Benda yang dahulu sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari kini perlahan menjadi barang langka.
Museum Bandar Cimanuk berusaha menjaga benda-benda tersebut agar generasi muda dapat melihat secara langsung apa yang pernah digunakan orang tua dan kakek-nenek mereka.
“Itu bagian penting dari upaya kami menghidupkan lagi memori kota,” kata Sadewo.
Sejarah Bukan Sekadar Cerita Penjajahan
Menurut Sadewo, Indramayu memiliki perjalanan sejarah panjang yang mencakup berbagai periode, mulai masa kerajaan hingga kolonialisme.
Museum Bandar Cimanuk menjadi salah satu tempat masyarakat dapat mempelajari perjalanan tersebut.
Bagi Sadewo, belajar sejarah bukan semata-mata untuk membuka kembali luka masa lalu dan menempatkan Indonesia sebagai korban penjajahan.
Sejarah, menurutnya, harus memberikan gambaran yang utuh tentang bagaimana masyarakat terdahulu membangun peradaban, mengapa bangsa asing datang ke Indonesia, hingga bagaimana masyarakat menghadapi penjajahan.
“Makanya saat ada anak-anak sekian ribu datang ke sini, kemudian ada juga orang asing datang ke sini, itu menimbulkan kesan tersendiri bagi saya. Kita ingin tanamkan nilai-nilai perjuangan, nilai-nilai peradaban dari sejak bangsa ini sebelum menjadi Republik,” tuturnya.
Jejak sejarah Indramayu juga tidak hanya tersimpan di dalam museum.
Sejumlah bangunan lama masih berdiri hingga sekarang, di antaranya Gedung Landraad dan Gedong Duwur yang dahulu menjadi kantor Asisten Residen pada masa kolonial Belanda.
Yayasan Indramayu Historia kemudian membuka layanan wisata sejarah dengan memanfaatkan Bus Indramayu Tour On Bus (Intros) milik pemerintah daerah.
Pengunjung diajak melihat langsung sejumlah bangunan bersejarah sekaligus belajar mengenai cerita di baliknya.
Khawatir Tak Ada yang Meneruskan
Bagi Sadewo, merawat sejarah dan budaya merupakan caranya mengisi waktu di usia senja.
Selama tubuhnya masih sehat dan kakinya masih kuat berdiri, ia ingin terus menanamkan kecintaan terhadap daerah asal kepada generasi muda.
Ia percaya belajar sejarah merupakan salah satu cara mengenal jati diri sebelum membangun masa depan.
Dari sejarah, generasi muda dapat belajar bagaimana masyarakat terdahulu membangun kehidupan dan menjadikannya bekal untuk membangun Indramayu menjadi lebih baik.
Ke depan, Sadewo juga memiliki keinginan menata ulang bagian dalam Museum Bandar Cimanuk agar lebih menarik bagi pengunjung.
Salah satunya dengan memberikan keterangan yang lebih informatif pada setiap koleksi.
Dengan begitu, pengunjung tidak sekadar melihat benda tua, tetapi juga memahami cerita di balik benda tersebut.
Sebab bagi Sadewo, koleksi museum bukan sekadar barang yang tersisa dari masa lalu.
Di dalamnya terdapat ingatan, kehidupan, identitas daerah, sekaligus pesan yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Ini sangat penting, minimal dia paham soal jati diri dirinya, tahu orang tua terdahulunya siapa, kenapa ada Indramayu,” katanya.
Kini usia Sadewo telah 52 tahun.
Di balik semangatnya merawat museum, terselip kekhawatiran lain: siapa yang akan meneruskan perjuangan tersebut ketika dirinya tidak lagi mampu.
Namun ia percaya perubahan zaman tidak akan pernah benar-benar menghapus sejarah selama masih ada orang yang mau merawat dan menceritakannya.
Selama masih sehat, Sadewo akan terus berusaha menularkan kecintaannya terhadap Indramayu kepada generasi penerus.
Ia juga berharap pemerintah semakin memiliki keberpihakan terhadap sejarah dan kebudayaan daerah.
“Saya yakin budaya dan sejarah ini tidak akan pernah mati sampai kapanpun. Saya juga yakin negara juga pastinya akan mengupayakan tersebut,” pungkasnya.






