Bocah Down Syndrome di Surabaya Meninggal, Leher Dijerat Tali Sepatu dan Mulut Dijejali Sabun Oleh Anak Tetangga

Bocah 10 tahun penyandang down syndrome di Rungkut, Surabaya, meninggal dunia. Ayah menduga korban dianiaya dan melaporkan kasusnya ke polisi.

INDRAMAYUUPDATE – Seorang bocah berusia 10 tahun penyandang down syndrome di Kecamatan Rungkut, Surabaya, Jawa Timur, meninggal dunia dalam kondisi mengenaskan. Sang ayah menduga anaknya menjadi korban penganiayaan yang dilakukan dua anak di sekitar tempat tinggalnya.

Peristiwa tersebut terjadi pada Senin (12/9/2026). Dugaan itu mencuat setelah ayah korban berinisial SAW (53) memeriksa rekaman kamera pengawas atau CCTV di sekitar rumahnya.

Dikutip dari keterangan SAW kepada kumparan, Jumat (16/10), kejadian bermula ketika korban berada di teras rumah menggunakan kursi roda sekitar pukul 08.00 WIB.

Saat itu, SAW sedang tertidur setelah mengonsumsi obat seusai menjalani operasi ginjal. Sementara itu, istrinya, NF, pergi ke pasar untuk berjualan sari kedelai.

Sekitar pukul 09.00 WIB, NF pulang dan mendapati anaknya sudah tergeletak di teras rumah dalam kondisi tidak sadarkan diri. Wajah korban tampak membiru, sementara tali sepatu ditemukan melilit lehernya.

Ayah korban mengaku langsung terbangun setelah mendengar teriakan istrinya. Ia kemudian keluar rumah dan berusaha melepaskan ikatan di leher anaknya.

Menurut SAW, selain ditemukan tali sepatu yang melilit leher, terdapat bercak sabun colek di mulut korban. Ia juga menyebut tubuh anaknya ditaburi daun lamtoro.

SAW mengatakan hasil autopsi turut menemukan cairan sabun colek di dalam lambung korban.

“Saya ganti saya pangku anak saya, saya kendorkan jeratan-nya,” ujar SAW saat menceritakan kondisi anaknya.

Korban Sempat Dilarikan ke Rumah Sakit

Melihat kondisi anaknya, SAW berusaha meminta bantuan warga untuk mengantarkan korban ke rumah sakit terdekat.

Korban kemudian dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 09.45 WIB. Namun, setibanya di sana, nyawa bocah tersebut sudah tidak dapat diselamatkan.

SAW mengungkapkan, anaknya memiliki sejumlah kondisi kesehatan, yakni down syndrome, kelainan jantung berupa jantung bocor, cerebral palsy yang menyebabkan gangguan gerak, serta katarak.

Kondisi tersebut membuat korban tidak bisa berjalan, berbicara, maupun melihat dengan baik. Karena itu, SAW menduga anaknya tidak mampu meminta pertolongan saat kejadian berlangsung.

CCTV Rekam Dua Anak Masuk Rumah

Setelah kejadian, SAW memeriksa rekaman CCTV di sekitar rumahnya. Dari rekaman tersebut, ia mengaku melihat dua anak masuk ke rumahnya secara bergantian sekitar pukul 08.15 WIB.

Kedua anak yang dicurigai itu disebut tinggal tidak jauh dari rumah korban. Salah satunya bahkan berada di gang yang sama dengan keluarga korban.

SAW juga mengungkapkan bahwa sekitar sepekan sebelum kejadian, ia pernah menemukan tali tambang melingkar di pundak anaknya. Ia menduga peristiwa tersebut berkaitan dengan dugaan perundungan yang dialami korban.

“Seminggu sebelumnya ada (tali) tampar di pundak anak saya,” kata SAW.

Meski demikian, dugaan keterlibatan kedua anak tersebut masih perlu dibuktikan melalui proses penyidikan kepolisian.

Kasus Ditangani Polrestabes Surabaya

SAW mengaku telah melaporkan peristiwa tersebut ke Polrestabes Surabaya pada 12 September 2026. Laporan itu tercatat dengan nomor LP/B/1843/IX/2026/SPKT/Polrestabes Surabaya/Polda Jawa Timur.

Ia juga menyebut salah satu pihak yang diduga terlibat telah ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, Kasatres PPA dan PPO Polrestabes Surabaya, AKBP Melatisari, membenarkan bahwa kasus tersebut sedang ditangani oleh pihak kepolisian.

“Kita tangani, proses penyidikan,” kata Melatisari, Jumat (16/10).

Saat ditanya mengenai penetapan tersangka, Melatisari belum memberikan keterangan lebih lanjut.

Hingga informasi tersebut disampaikan, proses penyidikan masih berlangsung. Dugaan tindak pidana dalam kasus ini perlu dipastikan berdasarkan hasil penyelidikan dan alat bukti yang diperoleh penyidik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *