INDRAMAYUUPDATE – Perjalanan hidup Tri Atini (30), mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Desa Gunungsari, Kecamatan Sukagumiwang, Kabupaten Indramayu, berubah drastis setelah dirinya divonis mengalami gagal ginjal stadium lima.
Vonis tersebut diterimanya setelah sebelumnya jatuh sakit ketika bekerja sebagai PMI di Taiwan. Kondisi kesehatan Tri yang terus menurun membuatnya harus beberapa kali menjalani perawatan di rumah sakit hingga akhirnya dipulangkan ke Indonesia.
Tri mengaku pertama kali mengetahui dirinya mengalami gangguan ginjal pada 2023. Saat itu, penyakitnya masih berada pada tahap awal.
Namun, setelah kembali ke Tanah Air dan menjalani pengobatan, kondisi kesehatannya justru semakin memburuk.
“Di Taiwan itu sudah didiagnosa gagal ginjal, tapi itu masih awal-awal. Pulang ke Indonesia, lanjutin berobat, tapi gak membaik, malah tambah parah, kata dokter sudah stadium 5,” ujar Tri saat ditemui di rumahnya, Jumat (4/9/2026).
Berdasarkan hasil diagnosis medis yang ditunjukkannya, Tri mengalami Chronic Kidney Disease (CKD) Endstage on HD atau penyakit ginjal kronis stadium akhir yang membutuhkan hemodialisis.
Tak hanya gagal ginjal, sejumlah masalah kesehatan lain juga sempat dialaminya, antara lain hipertensi, anemia renal, gastritis, ascites, hingga asma bronchiale akut.
Kondisi tersebut membuat Tri sempat kehilangan harapan. Penyakit yang dideritanya bukan hanya membuat tubuhnya lemah, tetapi juga memengaruhi kondisi psikologis dan kehidupan rumah tangganya.
Tri bahkan mengaku sempat membayangkan kematian. Di tengah kondisi tersebut, ia juga harus menghadapi kenyataan bahwa suaminya meninggalkan dirinya ketika membutuhkan dukungan.
Harapan mulai tumbuh ketika Tri mendapat pendampingan dari Bripka Rusmanto, anggota Polri yang bertugas sebagai Bhabinkamtibmas Desa Singaraja, Polsek Indramayu.
Pertemuan itu bermula dari permintaan salah seorang kerabat Tri pada 2024. Rusmanto kemudian mendatangi rumah Tri untuk melihat kondisinya.
“Saya diminta tolong sama saudaranya Tri, karena sudah berobat tapi tidak kunjung sembuh. Setelah selesai tugas, saya langsung datang ke rumah Tri,” kata Rusmanto.
Ketika pertama kali didatangi, kondisi Tri disebut sangat lemah. Ia lebih banyak terbaring di tempat tidur dan harus dibantu ketika hendak berjalan.
Rusmanto kemudian memberikan pendampingan secara psikologis dan spiritual. Ia terus memotivasi Tri agar tidak menyerah, tetap menjalani pengobatan medis, serta berusaha mengurangi tekanan pikiran yang dialaminya.
Pendampingan itu dilakukan secara konsisten sejak 2024. Namun, Rusmanto menegaskan tugasnya sebagai anggota Polri tetap menjadi prioritas.
“Tugas negara (Polri) tetap nomor satu. Saya melakukan terapi menolong orang sakit ini hanya ketika lepas dari jam dinas,” ujarnya.
Seiring waktu, kondisi Tri mulai menunjukkan perubahan. Selain mendapatkan pendampingan, Tri tetap menjalani perawatan medis dan rutin melakukan cuci darah.
Rusmanto juga terus memantau perkembangan kondisi Tri, termasuk meminta hasil pemeriksaan medis terbarunya.
“Saya minta juga kan ya bagaimana hasil medis terbarunya, alhamdulillahnya bagus ternyata,” tutur Rusmanto.
Kini, Tri sudah jauh lebih aktif. Ia masih menjalani cuci darah dua kali dalam sepekan di RS Mitra Plumbon Indramayu. Namun, sejumlah keluhan dan komplikasi yang sebelumnya dirasakan sudah jauh berkurang.
“Kalau ke rumah sakit masih rutin seminggu dua kali cuci darah di RS Mitra Plumbon Indramayu. Tapi sekarang sudah mendingan, kata dokter juga penyakit yang sebelumnya sudah sembuh, tinggal gagal ginjal saja,” ungkapnya.
Tri pun mulai kembali menata kehidupannya. Dari rumah, ia merintis usaha pembuatan kue dan membuka jasa titip barang dari luar negeri.
Aktivitas tersebut menjadi cara Tri menjaga semangat sekaligus mengisi hari-harinya dengan kegiatan positif.
“Saya bawa happy aja Mas, jalan-jalan ke mall, bikin usaha kue, usaha jastip, pokoknya bawa happy. Yang lalu gak mau dijadikan beban pikiran,” kata Tri.
Meski masih harus menjalani cuci darah secara rutin, Tri kini memilih melihat kehidupannya dari sisi berbeda. Masa ketika dirinya hanya bisa terbaring di tempat tidur menjadi pelajaran untuk terus menjaga semangat dan mensyukuri setiap perkembangan yang dirasakannya.
Ia juga kini mampu pergi menjalani pengobatan tanpa harus selalu didampingi.
Bagi Tri, kesembuhan bukan hanya soal kondisi fisik. Dukungan orang-orang di sekitarnya, semangat untuk terus menjalani pengobatan, serta kemampuan berdamai dengan keadaan menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya.
Dari seorang perempuan yang sempat kehilangan harapan, Tri kini perlahan kembali berdaya dan membangun kehidupannya dari rumah.






