INDRAMAYUUPDATE – Tiga siswa SDN 4 Kedokan Agung, Kecamatan Kedokan Bunder, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tidak kunjung masuk sekolah selama berhari-hari. Pemerintah kecamatan bersama polisi hingga pihak desa turun tangan membujuk ketiganya agar kembali bersekolah.
Kasus tersebut terungkap setelah pihak SDN 4 Kedokan Agung melaporkan ketidakhadiran tiga siswanya kepada Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Kedokan Bunder.
Menindaklanjuti laporan itu, tim gabungan kemudian mendatangi rumah masing-masing siswa. Tim tersebut terdiri dari Kasi Kesejahteraan Sosial (Kesos) Kecamatan Kedokan Bunder, pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), Kepala Desa Kedokan Agung, hingga Kapolsek Kedokan Bunder.
Kapolsek Kedokan Bunder Ipda Eryana mengatakan, ketiga siswa tersebut bukan putus sekolah. Mereka tercatat masih berstatus sebagai siswa, namun tidak mau berangkat ke sekolah.
“Jadi UPTD SDN 4 Kedokan Agung itu terdata ada tiga siswa yang tidak mau sekolah, bukan putus sekolah. Jadi dari pihak kepala sekolah ngajak kecamatan, Polsek bersama-sama mendatangi orang tuanya, kenapa kok nggak masuk-masuk sekolah,” kata Eryana kepada Kompas.com, Jumat (7/8/2026).
Ketiga siswa tersebut masing-masing duduk di kelas 4, 5, dan 6. Dari hasil kunjungan, tim menemukan alasan ketiganya tidak masuk sekolah berbeda-beda.
Ada siswa yang terkendala kondisi orang tua yang tidak menetap di rumah. Sementara siswa lainnya disebut memang menolak ketika diminta orang tuanya untuk berangkat sekolah.
“Alasannya begitu macam-macam,” ujar Eryana.
Kedatangan tim gabungan tidak hanya untuk mengetahui penyebab ketidakhadiran mereka. Petugas juga melakukan pendekatan dan memberikan motivasi agar ketiga anak tersebut kembali mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Sejumlah pilihan solusi turut ditawarkan kepada keluarga. Salah satunya memfasilitasi perpindahan sekolah apabila anak merasa tidak cocok dengan sekolah saat ini.
Pihak pemerintah juga membuka opsi Sekolah Rakyat bagi anak yang memenuhi persyaratan, khususnya apabila terdapat kendala ekonomi keluarga.
“Kami dari kepolisian juga siap membantu, termasuk dari kecamatan, hingga pihak sekolah juga welcome akan mengurus secara administrasinya apabila anaknya mau pindah sekolah. Boleh, nanti akan diurus yang penting mah anak itu jangan sampai tidak sekolah,” kata Eryana.
“Atau kalau orang tuanya benar-benar nggak mampu, mau disekolahkan ke Sekolah Rakyat juga nanti akan dibantu. Solusi yang kami tawarkan seperti itu, tapi memang saat ini masih harus dibujuk dulu anaknya,” sambungnya.
Persoalan tiga siswa yang enggan sekolah tersebut juga telah dilaporkan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Indramayu.
Kepala Disdikbud Indramayu Caridin mengatakan pihaknya akan terus melakukan pendekatan persuasif kepada anak dan keluarga. Hal itu dilakukan agar ketiga siswa tersebut kembali mengikuti pendidikan secara reguler.
“Kami dari dinas akan melakukan upaya pendekatan terlebih dahulu kepada keluarga dan anak tersebut agar mau kembali sekolah secara reguler,” kata Caridin.
Namun, apabila upaya tersebut belum berhasil, Disdikbud menyiapkan alternatif pendidikan nonformal.
“Namun ketika tidak bisa, ada opsi lain seperti bersekolah di pendidikan non formal, supaya anak tersebut jangan sampai tidak sekolah,” pungkasnya.






