Menteri Wihaji Datang ke Indramayu, Ribuan Kader TPK Diminta Sukseskan Program MBG 3B

Menteri Wihaji meminta 4.000 TPK di Indramayu mengantarkan MBG 3B secara door to door untuk ibu hamil, ibu menyusui dan balita.

INDRAMAYUUPDATE – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji turun langsung ke Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ia meminta ribuan Tim Pendamping Keluarga (TPK) ikut menyukseskan program Makan Bergizi Gratis (MBG) 3B.

Wihaji datang ke Indramayu pada Kamis (17/9/2026) sore. Ia bertemu dengan ribuan kader TPK di Gedung Dakwah Muhammadiyah, Desa Sendang, Kecamatan Karangampel.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan dan pendistribusian MBG 3B berjalan di lapangan.

Program MBG 3B secara khusus menyasar tiga kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

“Ini menjadi tugas tambahan untuk Tim Pendamping Keluarga (TPK) untuk juga mendistribusikan MBG 3B, sesuai Perpres Nomor 115,” kata Wihaji.

Di Indramayu, terdapat sekitar 4.000 anggota TPK yang terdaftar. Wihaji meminta mereka tidak menunggu penerima manfaat datang ke Posyandu, tetapi mengantarkan makanan langsung ke rumah.

“Khusus MBG 3B, kita yang mendistribusikan. Jangan ibu hamil yang datang ke tempat Posyandu, tapi kita yang mengantarkan ke rumah-rumah penerima manfaat,” ujarnya.

127 SPPG Sudah Aktif

Wihaji mengatakan pelaksanaan MBG 3B di Indramayu sejauh ini sudah berjalan cukup baik. Berdasarkan pemantauan di lapangan, pelaksanaannya disebut telah mencapai sekitar 80-90 persen.

Dari 199 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ada, sebanyak 127 SPPG tercatat sudah aktif menjalankan MBG 3B.

Pemerintah, kata Wihaji, akan terus memantau SPPG yang masih mengalami kendala agar segera bisa menjalankan program tersebut.

Adapun penerima MBG 3B di Indramayu mencapai puluhan ribu orang. Rinciannya terdiri dari 69.963 balita non-PAUD, 8.216 ibu hamil, dan 23.116 ibu menyusui.

TPK Dapat Insentif Rp 1.000 per Ompreng

Untuk mendukung operasional kader TPK di lapangan, pemerintah memberikan insentif sebesar Rp 1.000 untuk setiap wadah atau ompreng makanan yang disalurkan.

Wihaji menyebut insentif tersebut sudah diterima para kader di Indramayu. Pembayarannya dilakukan setiap 10 hari sesuai prosedur yang berlaku.

“Tadi saya tanya, sudah dikasih belum insentifnya? Ternyata sudah. Berapa hari sekali? 10 hari sekali, sesuai dengan protapnya,” katanya.

Wihaji juga mengapresiasi para kader yang tetap bekerja di lapangan. Mereka mayoritas berasal dari unsur Posyandu, PKK, dan KB.

Menurutnya, para kader tetap menjalankan tugas meski harus berjalan kaki maupun menggunakan sepeda motor untuk mendatangi rumah penerima manfaat.

Wihaji Soroti Makanan Jangan Salah Sasaran

Selain memastikan makanan sampai ke penerima, Wihaji meminta kader memberikan edukasi kepada keluarga saat melakukan penyerahan MBG 3B.

Hal itu untuk memastikan makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh kelompok sasaran.

“Satu-dua kadang-kadang dikasih MBG 3B, tapi yang makan bukan penerima manfaat. Ini yang perlu kita selesaikan, evaluasi, dan perbaiki,” tegasnya.

Wihaji menekankan program MBG 3B sangat dibutuhkan untuk membantu pemenuhan gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

Namun, ia mengingatkan para TPK agar tidak melupakan tugas utama dalam upaya pencegahan dan penanganan stunting.

Stunting Indramayu 9,8 Persen

Wihaji menyebut Indramayu menjadi salah satu daerah percontohan dalam penanganan stunting. Angka stunting di Kabupaten Indramayu disebut berada di angka 9,8 persen, di bawah angka nasional yang disebut mencapai 19,8 persen.

Meski demikian, Wihaji meminta capaian tersebut tidak membuat pemerintah dan para kader berpuas diri.

Menurutnya, persoalan stunting tidak bisa diselesaikan hanya dengan pemberian makanan bergizi.

“Apakah langsung selesai stunting-nya? Enggak. Karena tidak hanya asupan gizi yang dibutuhkan, tapi butuh rumah layak, air bersih, edukasi, dan sanitasi,” paparnya.

Ia menyebut sejumlah persoalan yang masih menjadi tantangan di Indramayu, di antaranya pernikahan dini, akses air bersih, fasilitas MCK, hingga ketersediaan rumah layak huni.

“Jadi gizi ini hanya salah satunya saja. Insyaallah ini adalah ikhtiar kita bersama. Apakah sempurna? Belum. Apakah MBG sempurna? Kita terus perbaiki dengan berbagai problematika di kementerian kita, khusus menangani MBG 3B,” ujar Wihaji.

Wihaji mengatakan kunjungan langsung ke Indramayu juga merupakan bagian dari arahan Presiden Prabowo Subianto agar para menteri tidak hanya bekerja dari balik meja.

“Diminta oleh Pak Presiden jangan hanya di kantor, jangan hanya seminar atau diskusi. Hilangkan itu, sekarang terjun ke lapangan, selesaikan masalah,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page