INDRAMAYUUPDATE – Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Cikaracak, Kecamatan Argapura, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mendadak menjadi perbincangan di media sosial.
Rekaman udara yang memperlihatkan bangunan koperasi dikelilingi pepohonan rimbun memunculkan anggapan lokasi tersebut berada di tengah hutan dan jauh dari permukiman.
Kepala Desa Cikaracak, Aon, menilai viralnya video itu membawa dampak positif karena membuat desanya semakin dikenal masyarakat luas. Meski demikian, ia berharap para pembuat konten menyajikan informasi secara utuh agar tidak memunculkan persepsi yang keliru.
“Saya dari pemerintah desa berterima kasih kepada yang kemarin mengeshoot video sehingga jadi ramai. Bagi saya ini berkah karena desa jadi ramai,” kata Aon saat ditemui di Kopdes Merah Putih, Rabu (5/8/2026).
Aon menjelaskan, kondisi Desa Cikaracak yang tampak dipenuhi pepohonan memang dipengaruhi letak geografisnya di kaki Gunung Ciremai, tepatnya di ketinggian sekitar 950 meter di atas permukaan laut. Sekitar 30 persen wilayah desa merupakan hutan bambu produktif sehingga dari udara terlihat seperti kawasan hutan lebat.
“Kalau masalah hutan segala macam, memang 30 persennya desa ini hutan bambu, dan itu hutan bambu yang produktif,” ujarnya.
Ia juga meluruskan anggapan bahwa Kopdes tersebut berada di lokasi terpencil. Menurutnya, bangunan koperasi berdiri tepat di pinggir jalan kabupaten yang menghubungkan Kecamatan Argapura dengan Kecamatan Sindang.
Dari hasil pantauan di lokasi, jalan di depan Kopdes cukup ramai dilintasi kendaraan roda dua maupun roda empat. Jaraknya dari Kantor Desa Cikaracak maupun pusat permukiman sekitar 900 meter, sedangkan ke Desa Sangkanurip hanya sekitar 1,5 kilometer.
“Bahkan kalau malam juga masih ramai karena yang dari Cirebon kadang lewat sini untuk mendaki ke atas,” katanya.
Di balik viralnya Kopdes tersebut, pemerintah desa justru tengah menyiapkan koperasi sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat.
Aon mengatakan sekitar 80 persen warga Desa Cikaracak berprofesi sebagai petani sayuran. Selama ini hasil panen dijual ke luar desa. Ke depan, hasil pertanian akan dipusatkan penjualannya melalui Kopdes Merah Putih.
Menurutnya, sejumlah perusahaan juga telah menyatakan kesiapan untuk menyerap hasil pertanian warga. Selain sayuran, Desa Cikaracak dikenal memiliki komoditas bambu dan biji kopi.
“Sejauh ini warga kami biasanya menjual hasil pertanian ke luar desa. Nanti akan kita pusatkan di sini untuk sentral penjualannya,” ujarnya.
Koperasi itu juga akan dilengkapi layanan simpan pinjam, penyediaan pupuk, hingga obat-obatan pertanian. Dengan begitu, petani tidak perlu lagi menempuh perjalanan sekitar 15 kilometer ke Pasar Maja atau Pasar Rajagaluh untuk memenuhi kebutuhan bertani.
“Sehingga nanti sudah saja perputaran uangnya di sini saja, tidak perlu ke desa lain,” ucapnya.
Viralnya Kopdes juga menjadi pembicaraan warga Desa Cikaracak. Tisna (52), warga setempat, mengaku tidak mempermasalahkan ramainya komentar di media sosial.
“Saya sudah melihat videonya dan memang sedemikian adanya. Mudah-mudahan ke depannya Kopdes ini bisa ramai dan bisa meningkatkan ekonomi rakyat. Kalau saya ambil sisi positifnya saja,” katanya.
Hal senada disampaikan Windi (26). Petani sekaligus warga Desa Cikaracak itu menegaskan lokasi Kopdes justru berada di jalur utama yang setiap hari dilalui masyarakat.
“Kalau menurut saya koperasi ini strategis tempatnya karena di jalan utama. Apa-apa kami kalau belanja atau beli pupuk ke luar desa, lewatnya jalan ini,” ujar Windi.
Sebelumnya, video drone yang memperlihatkan bangunan Kopdes berdiri di tengah hamparan pepohonan di kaki Gunung Ciremai viral usai diunggah seorang influencer di Instagram. Dalam keterangannya, ia mengajak warganet melihat lokasi Kopdes yang disebut berada jauh dari rumah penduduk. Namun, pemerintah desa menegaskan bangunan koperasi tersebut bukan berada di tengah hutan, melainkan di lingkungan desa yang masih asri dengan akses jalan yang mudah dijangkau.






