INDRAMAYUUPDATE – Kelangkaan gas LPG 3 kilogram mulai dikeluhkan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Kondisi ini membuat pedagang kecil harus berkeliling dari satu warung ke warung lain demi mendapatkan gas bersubsidi tersebut.
Salah satunya dialami Wawan, pedagang sempol yang biasa berjualan di depan SMAN 1 Sindang. Ia mengaku harus mendatangi empat warung sebelum akhirnya berhasil membeli gas melon.
“Iya lagi langka, harus muter-muter dulu baru dapat,” kata Wawan kepada Kompas.com, Kamis (30/7/2026).
Menurutnya, kelangkaan sudah terjadi sekitar satu hingga dua pekan terakhir. Meski demikian, ia masih bisa memperoleh gas karena pasokan biasanya datang ke warung pada sore hari.
“Sore biasanya datang kiriman, ya alhamdulillah masih ada walau langka,” ujarnya.
Kelangkaan ini membuat Wawan khawatir usahanya terganggu. Sebab, berjualan sempol merupakan satu-satunya sumber penghasilan untuk menghidupi istri dan dua anaknya.
Ia juga mengaku hanya memiliki satu tabung LPG yang dipakai bergantian untuk berdagang dan memasak di rumah.
“Cuma punya satu, sebelumnya ada dua, cuma dijual karena ekonomi. Jadinya bongkar pasang, pagi dipakai jualan, sorenya dipakai masak di rumah,” tuturnya.
Tak hanya sulit didapat, harga LPG 3 kg di tingkat pengecer juga mulai naik. Wawan kini harus membayar Rp 25 ribu per tabung, dari sebelumnya sekitar Rp 21 ribu.
Di sisi lain, biaya produksi juga bertambah karena harga bahan baku seperti ayam dan telur ikut naik.
“Ayam sekarang Rp 38 ribu per kilogram, telur Rp 27 ribu per kilogram. Kondisi ekonominya lagi begini,” keluhnya.
Keluhan serupa disampaikan Selamet (48), penjual masakan di Kecamatan Sindang. Ia mengaku harus mencari gas ke 10 warung sebelum akhirnya mendapat satu tabung.
“Kosong terus, di warung ke-10 baru ada,” katanya.
Sementara itu, warga Kecamatan Haurgeulis bernama Imam juga mengaku kesulitan mendapatkan LPG 3 kg. Bahkan, ia harus membeli dengan harga lebih mahal.
“Kemarin saya beli Rp 30 ribu. Mau nggak mau daripada nggak bisa masak, terpaksa dibeli,” ujarnya.
Penjaga warung di Kecamatan Sindang, Ahmad (36), membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, pasokan yang datang langsung habis diserbu pembeli.
“Sekarang sudah kosong lagi. Begitu ada, langsung banyak yang beli,” katanya.
Hingga kini, warga maupun pedagang mengaku belum mengetahui penyebab pasti kelangkaan LPG 3 kg tersebut. Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah agar pasokan gas bersubsidi kembali normal.






