Cerita Dibalik Deretan Wajah Ramah Pada Baliho Besar yang Terpajang di Acara Adat Ujungan Desa Malang Semirang Indramayu

PMI asal Malang Semirang turut melestarikan tradisi Unjungan Buyut Nuresih di Indramayu melalui donasi untuk menjaga warisan budaya leluhur.

INDRAMAYUUPDATE – Senyum sejumlah wajah dalam baliho berukuran besar tampak menghiasi sudut Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).

Di antara kemeriahan tradisi adat Unjungan Buyut Nuresih, baliho itu menjadi pemandangan yang mencuri perhatian. Wajah-wajah yang terpampang bukanlah pejabat ataupun pesohor, melainkan warga desa yang merantau ke luar negeri sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI), serta warga lokal yang turut menyumbangkan rezekinya.

Meski berada jauh dari kampung halaman, mereka tetap mengambil bagian dalam menjaga tradisi leluhur. Kontribusi itu diwujudkan melalui dukungan dana untuk penyelenggaraan Unjungan, sebuah tradisi yang terus dirawat masyarakat Malang Semirang dari tahun ke tahun.

Nama dan wajah mereka pun sengaja ditampilkan sebagai bentuk penghargaan atas kepedulian terhadap kampung halaman.

Kepala Desa Malang Semirang, Rusmono Syafi’i, mengatakan pemasangan baliho tersebut merupakan inisiatif panitia untuk mengapresiasi para donatur yang ikut mendukung terselenggaranya acara adat.

“Iya, sebagai bentuk penghargaan karena mereka menjadi sponsorsif. Jadi dipasang di spanduk, di media sosial juga,” ujar Rusmono saat ditemui seusai acara.

Bagi Rusmono, dukungan para donatur menjadi salah satu faktor penting yang membuat tradisi Unjungan tetap bertahan. Bahkan, kegiatan adat tersebut dapat diselenggarakan dengan meriah tanpa harus membebani anggaran kas desa ataupun memungut iuran dari masyarakat.

Ia menegaskan, partisipasi para donatur tidak bersifat wajib. Bantuan diberikan secara sukarela, berdasarkan kepedulian dan keinginan untuk melestarikan warisan budaya leluhur.

“Sudah beberapa tahun kita menerapkan pola seperti ini. Sekali lagi, ini bukan kewajiban ya, siapa yang mau menjadi sponsorsif monggo,” tuturnya.

Gotong Royong Menjadi Kekuatan Warga

Kemeriahan Unjungan Buyut Nuresih tidak hanya ditopang oleh warga yang menyumbangkan uang. Di balik acara tersebut, ada pula masyarakat yang memberikan tenaga dan waktu demi memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar.

Mereka bergotong royong menyiapkan kebutuhan acara, membantu pekerjaan panitia, hingga memastikan tradisi tahunan itu dapat dinikmati bersama.

Bagi warga yang tidak memiliki kemampuan untuk memberikan sumbangan materi, tenaga menjadi bentuk kontribusi yang tak kalah berarti.

Badrun (42), salah seorang warga setempat, mengaku bangga dengan kekompakan masyarakat Malang Semirang dalam mempertahankan tradisi tersebut.

“Warga ini swadaya dan gotong royong. Termasuk tenaga, ini tenaga sosial semua. Itulah kekompakan dari masyarakat Desa Malang Semirang,” ungkapnya.

Kebersamaan itulah yang membuat Unjungan bukan sekadar agenda adat tahunan. Di dalamnya, ada semangat saling membantu, kepedulian terhadap kampung halaman, serta keinginan bersama agar tradisi yang diwariskan para leluhur tidak hilang ditelan zaman.

260 Tenong Diarak Menuju Makam Buyut Nuresih

Puncak Unjungan Buyut Nuresih ditandai dengan arak-arakan ratusan tenong, wadah tradisional berbentuk bulat yang terbuat dari anyaman bambu.

Pantauan di lokasi, sedikitnya 260 tenong diarak menuju makam Buyut Nuresih, sosok yang dihormati sebagai sesepuh masyarakat setempat.

Tenongan menjadi salah satu ciri khas yang membedakan Unjungan Desa Malang Semirang dari tradisi serupa di desa-desa lain di Indramayu.

Di tengah perkembangan zaman, tradisi menggunakan tenong disebut masih dipertahankan di dua desa, yakni Malang Semirang dan Desa Longok, Kecamatan Sliyeg.

Setiap tenong ditempeli nama warga yang menyedekahkan isinya. Di dalamnya terdapat beragam makanan dan minuman yang disusun rapi sesuai ketentuan tradisi setempat.

Salah satu hidangan wajibnya adalah bekakak sepetarangan, berupa olahan ayam utuh yang disertai 12 butir telur. Selain itu, terdapat aneka minuman, buah-buahan, dan makanan lainnya sebagai pelengkap.

Menariknya, jumlah isi tenong diatur dalam kelipatan empat. Ketentuan itu berlaku untuk berbagai jenis makanan dan minuman yang dibawa dalam wadah tersebut.

“Isinya itu kelipatan empat. Kalau ada Fanta ya empat, Sprite empat, buah juga empat. Telurnya minimal 12 karena nanti dibagikan untuk empat orang. Tempat duduknya memang dikondisikan untuk empat orang,” terang Rusmono.

Susunan tersebut bukan sekadar soal kerapian. Ada ketentuan tradisi yang terus diikuti masyarakat, termasuk dalam pembagian hidangan kepada warga.

Jejak Hubungan dengan Keraton Kasepuhan Cirebon

Penggunaan tenong dalam tradisi Unjungan Malang Semirang juga menyimpan cerita sejarah yang diwariskan secara turun-temurun.

Berdasarkan penuturan sesepuh desa yang disampaikan Rusmono, Malang Semirang pada masa lampau merupakan desa utusan resmi Keraton Kasepuhan Cirebon.

Dalam tradisi tersebut, tenong digunakan sebagai wadah untuk membawa hantaran atau seserahan makanan ke keraton.

“Kita mengikuti tradisi leluhur. Dari dulu kita menggunakan tenong karena Desa Malang Semirang adalah desa utusan dari Keraton Kasepuhan. Setiap tahun, kalau kita mau ngirim hantaran atau seserahan makanan ke keraton, ditaruh di dalam tenong,” jelasnya.

Kisah itu menjadi salah satu alasan masyarakat tetap mempertahankan penggunaan tenong dalam setiap penyelenggaraan Unjungan.

Wadah anyaman bambu tersebut bukan hanya berfungsi sebagai tempat membawa makanan. Bagi masyarakat setempat, tenong juga menjadi bagian dari identitas budaya yang menghubungkan kehidupan masa kini dengan tradisi leluhur.

Melalui Unjungan, masyarakat mengekspresikan rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap warisan yang telah dijaga lintas generasi.

Dari Perantauan, Kepedulian Itu Tetap Pulang

Di antara arak-arakan tenong, hidangan tradisional, dan kebersamaan warga, baliho berisi wajah para donatur menghadirkan cerita tersendiri.

Sebagian dari mereka menjalani kehidupan jauh dari Indramayu. Namun, jarak tidak serta-merta memutus ikatan dengan tempat mereka berasal.

Dukungan para PMI dan warga lokal menunjukkan bahwa merawat kampung halaman tidak selalu harus dilakukan dengan hadir secara fisik. Kepedulian juga dapat diwujudkan melalui bantuan yang memungkinkan tradisi tetap berlangsung.

Sementara itu, warga yang berada di desa mengambil bagian melalui tenaga dan gotong royong. Sumbangan materi dan tenaga berpadu menjadi kekuatan untuk menyelenggarakan acara tanpa menjadikannya beban bagi masyarakat.

Baliho itu mungkin hanya terpasang selama rangkaian Unjungan berlangsung. Namun, pesan yang dibawanya lebih panjang daripada usia sebuah perayaan.

Di Desa Malang Semirang, pelestarian budaya bukan hanya tentang mempertahankan arak-arakan tenong atau menggelar ritual tahunan. Lebih dari itu, tradisi ini memperlihatkan bagaimana warga yang tinggal di kampung maupun di perantauan tetap terhubung oleh akar budaya yang sama.

Selama kepedulian itu terus tumbuh dan kebersamaan tetap terjaga, warisan leluhur memiliki alasan untuk terus hidup di tengah perubahan zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *