INDRAMAYUUPDATE – Ribuan orang memadati kawasan Gedung DPRD Indramayu, Jawa Barat, Rabu (7/10/2026). Kabupaten di pesisir utara Jawa Barat itu tengah merayakan puncak Hari Jadi ke-499.
Keramaian bahkan membuat Jalan Jenderal Sudirman yang berada tepat di depan Gedung DPRD Indramayu ditutup. Ruas jalan tersebut berubah menjadi area parkir kendaraan, baik roda dua maupun roda empat.
Di dalam gedung, para pejabat dari berbagai unsur pemerintahan mengikuti Rapat Paripurna Istimewa dengan khidmat.
Namun, suasana berbeda terlihat di luar gedung. Di bawah terik matahari Indramayu, sejumlah pedagang kaki lima (PKL) justru sibuk melayani pembeli yang datang silih berganti.
Bagi mereka, perayaan Hari Jadi Indramayu ke-499 bukan hanya tentang seremoni. Kerumunan warga yang datang menjadi peluang untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Salah satunya Daya (45), pedagang minuman asal Kelurahan Karanganyar, Indramayu. Sejak pagi, ia membawa gerobak dagangannya ke kawasan Gedung DPRD.
Biasanya, Daya berjualan di sekitar Alun-alun Indramayu. Namun, khusus saat ada perayaan Hari Jadi Indramayu, ia memilih berpindah lokasi untuk mendekati kerumunan warga.
“Biasa kalau orang dagang mah begini, cari tempat yang lagi ramai,” ujar Daya saat ditemui di sela kesibukannya melayani pembeli.
Keputusan Daya memindahkan gerobaknya rupanya membuahkan hasil. Sejumlah pembeli terus berdatangan untuk membeli minuman.
Tangannya terlihat tak berhenti bekerja. Es hingga kopi saset diraciknya satu per satu untuk memenuhi pesanan pembeli.
“Kalau ada acara seperti ini ya lumayan ramai, lebih banyak dari hari-hari biasa, meskipun kadang tidak tentu juga,” tuturnya.
Daya bukan pedagang musiman yang hanya berjualan ketika ada keramaian. Ia sudah menekuni usaha tersebut selama 12 tahun.
Sebelum menjadi pedagang minuman, Daya pernah bekerja di sebuah proyek. Setelah tidak lagi bekerja di sana, ia memilih membangun usaha sendiri dari nol.
“Usaha begini sudah 12 tahun. Bertahap dari satu gerobak, gerobaknya juga bikin sendiri,” kenangnya.
Kegigihannya perlahan membuahkan hasil. Dari awalnya hanya memiliki satu gerobak, kini Daya telah mempunyai lima unit gerobak dagangan.
Usaha tersebut menjadi sumber penghasilan untuk menghidupi istri dan seorang anaknya. Tak hanya untuk keluarganya, usaha itu juga menjadi tempat mencari nafkah bagi tiga orang pekerja yang kini ikut membantunya.
“Anak buah ada tiga, mereka minta kerjaan. Saya juga kan mau tidak mau harus cari orang juga untuk bantu kerja,” katanya.
Saat ditanya mengenai omzet yang diperoleh pada perayaan Hari Jadi Indramayu ke-499, Daya memilih tidak menyebutkan nominalnya.
Ia hanya mengatakan pendapatannya hari itu lebih baik dibandingkan saat berjualan pada hari-hari biasa.
Kisah serupa dialami Selamet (49), pedagang minuman lainnya yang ikut memanfaatkan keramaian perayaan Hari Jadi Indramayu.
Ayah tiga anak itu tampak sibuk melayani pembeli. Baginya, setiap gelas minuman yang terjual memiliki arti bagi keluarganya di rumah.
“Alhamdulillah, lumayan buat jajan anak,” ucap Selamet singkat.
Pantauan di lokasi, sejumlah gerobak PKL berjajar di sekitar kawasan Gedung DPRD Indramayu. Mereka menjajakan berbagai dagangan, mulai dari minuman hingga makanan.
Keramaian warga yang datang membuat para pedagang tersebut sibuk melayani pembeli. Ada yang meracik minuman, ada pula yang menyiapkan makanan untuk pelanggan.
Di tengah kemeriahan perayaan Hari Jadi Indramayu ke-499, para PKL itu menjadi bagian lain dari cerita hari jadi daerah tersebut.
Tak ada panggung khusus untuk mereka. Nama mereka juga tidak tercantum dalam daftar pejabat yang hadir dalam rapat paripurna.
Namun, di balik keramaian itu, mereka tetap bekerja. Mereka datang membawa gerobak, mengandalkan kerumunan, dan berharap bisa membawa pulang rezeki lebih banyak untuk keluarga.
Bagi Daya, Selamet, dan para pedagang lainnya, Hari Jadi Indramayu ke-499 bukan sekadar perayaan tahunan.
Di tengah hiruk-pikuk seremoni, bagi mereka, hari jadi itu juga menjadi kesempatan untuk terus menghidupi keluarga dan memastikan dapur tetap mengepul.




