INDRAMAYUUPDATE – PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balongan melakukan terobosan baru dengan melakukan uji coba pengolahan Used Cooking Oil (UCO) atau minyak goreng bekas (jelantah) menjadi produk energi bernilai tinggi di Unit Residue Catalytic Cracking (RCC).
Melalui inovasi hijau ini, minyak jelantah diolah menjadi berbagai produk energi, seperti Propylene, LPG, hingga Gasoline.
Wakil Direktur Utama PT Pertamina Patra Niaga Taufik Aditiyawarman mengatakan, langkah ini merupakan bagian dari upaya mendukung transisi energi nasional sekaligus Proyek Strategis Nasional Biohidrokarbon 2026 yang berfokus pada pemanfaatan limbah menjadi energi (waste to energy).
“Unit RCC Kilang Balongan memiliki kapasitas pengolahan sebesar 83 MBSD. Jika uji coba ini berhasil dan minyak jelantah dapat diolah secara berkelanjutan, dampaknya akan sangat besar, baik dalam aspek produksi green gasoline maupun perkembangan ekonomi sirkular,” ujar Taufik dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/9/2026).
Taufik pada kesempatan itu turut melakukan peninjauan langsung ke unit RCC untuk mengecek kesiapan sarana pertangkian dan fasilitas lainnya yang difungsikan sebagai fasilitas penerimaan serta pengolahan minyak jelantah.
Dalam peninjauan itu, ia menyampaikan bahwa hingga Rabu (9/9/2026), minyak jelantah yang diinjeksi ke Unit RCC untuk diolah menjadi produk green gasoline telah mencapai level 5 persen.
Pada kesempatan itu, Taufik juga menekankan bahwa bahwa ukuran keberhasilan uji coba bukan sekadar tingginya persentase minyak yang masuk ke unit pengolahan.
Akan tetapi, Aspek keselamatan, keandalan operasi, serta pencatatan data plant test yang akurat terkait kualitas produk juga harus menjadi prioritas utama selama proses uji coba berlangsung.
“Mari kita kawal ujicoba produk rendah karbon ini hingga selesai dan berhasil, guna membangun ekonomi sirkular melalui pemanfaatan minyak jelantah sebagai bahan baku energi,” kata Taufik.
Diketahui minyak goreng jelantah selama ini dikenal sebagai limbah rumah tangga maupun industri yang berpotensi mencemari lingkungan.
Penggunaannya yang berulang kali telah mengubah komposisi kimia di dalamnya sehingga berbahaya jika dibuang secara sembarangan.
Melalui terobosan ini, Kilang Balongan tak hanya memberi nilai tambah terhadap limbah cair tersebut, tetapi juga diproyeksikan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan baku fosil serta menekan angka impor minyak mentah (crude oil).
“Proyek ini adalah kontribusi nyata Pertamina dalam mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya terwujudnya swasembada energi, sekaligus memperkuat ketahanan dan kemandirian energi nasional,” tutur Taufik.
Dalam kesempatan sama, Direktur Operasi Kilang PT Pertamina Patra Niaga Didik Bahagia menyampaikan apresiasi atas kolaborasi seluruh tim di Kilang Balongan hingga uji coba pengolahan perdana ini dapat terealisasi.
Menurut Didik, pengolahan jelantah di Refinery Unit (RU) VI Balongan ini menjadi milestones penting dalam peta jalan transformasi bisnis kilang Pertamina menuju energi berkelanjutan.
“Pengolahan perdana minyak jelantah di RU Balongan ini merupakan langkah nyata transformasi bisnis kilang dalam mendukung transisi energi dan pengembangan energi berkelanjutan. Harapannya proyek ini berhasil dan bisa direplikasi di unit-unit kilang lainnya,” pungkas Didik.






