Berita  

Mengenal Memitu, Tradisi Syukuran 7 Bulan Kandungan di Indramayu yang Masih Dijaga Warga

Screenshot

INDRAMAYUUPDATE – Tradisi leluhur di tengah perkembangan zaman masih terus dijaga masyarakat Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Salah satunya tradisi memitu atau syukuran tujuh bulan kehamilan yang hingga kini tetap lestari di Desa Leuwigede, Kecamatan Widasari.

Bagi masyarakat setempat, memitu bukan sekadar ritual adat. Tradisi ini menjadi bentuk rasa syukur, doa keselamatan, sekaligus sarana mempererat silaturahmi antar warga.

Tokoh masyarakat Desa Leuwigede, Ahmad Khoeri, mengatakan tradisi memitu masih dipegang teguh oleh masyarakat hingga sekarang.

“Memitu biasanya diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan dan umumnya dilakukan ketika anak yang dikandung merupakan anak pertama bagi ibu, ayah, ataupun keduanya,” kata Khoeri, Minggu (17/5/2026).

Khoeri menjelaskan, kata memitu berasal dari bahasa Jawa yakni pitu yang berarti tujuh. Angka tersebut merujuk pada usia kandungan calon ibu.

Menurutnya, tradisi ini sarat makna simbolik, spiritual, hingga filosofi kehidupan. Warga meyakini pendidikan anak sudah dimulai sejak dalam kandungan. Selain itu, memitu juga menjadi ikhtiar orang tua untuk memohon keselamatan dan menolak bala.

Usia kandungan tujuh bulan dianggap sebagai fase penting karena organ tubuh janin telah berkembang sempurna. Hal tersebut dikaitkan dengan nilai-nilai keislaman, seperti proses penciptaan manusia dalam QS Al-Mu’minun ayat 12-14 serta rasa syukur dalam QS Al-A’raf ayat 189.

Seiring perkembangan zaman, tradisi memitu juga beradaptasi dengan nilai agama Islam. Jika dahulu diisi pembacaan kidung, kini prosesi lebih banyak diisi lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Beberapa surat yang biasa dibacakan di antaranya QS Al Fatihah, QS Al Baqarah, QS Lukman, QS Maryam, QS Yusuf, QS Yasin, QS Al Kahfi, QS Muhammad, QS Ar Rahman, QS Al Waqiah, QS Al Mulk, QS Al Ikhlas, QS Al Falaq, hingga QS An Nas.

Pembacaan ayat suci dilakukan oleh tujuh orang yang terdiri dari keluarga, tetangga, sahabat, hingga tokoh masyarakat. Bahkan dalam beberapa pelaksanaan, dilakukan pula khataman Al-Qur’an 30 juz sebelum prosesi siraman.

“Setelah selesai mengaji dilakukan pembacaan doa dengan air sebagai wasilah yang nantinya digunakan untuk mandi calon ibu dan jabang bayi dalam kandungan. Air itu menjadi simbol doa untuk meminta keselamatan, kelancaran, hingga kesehatan selama bayi dalam kandungan, saat persalinan, hingga setelah melahirkan,” ujarnya.

Prosesi memitu diawali dengan gotong royong warga membuat bilik pemandian dan menyiapkan hidangan bagi tamu undangan. Setelah pembacaan Al-Qur’an dan doa, air bunga tujuh rupa digunakan untuk prosesi siraman calon ibu.

Siraman dilakukan secara bergantian oleh suami, orang tua kandung, mertua, hingga kerabat dekat sebagai simbol penyucian diri secara spiritual.

Di sejumlah desa, masih terdapat tradisi tambahan seperti membelah kepala gading berukir wayang dan memecahkan kendi berisi air siraman di persimpangan jalan. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol harapan agar proses persalinan berjalan lancar tanpa hambatan.

Rangkaian acara kemudian ditutup dengan sungkeman ibu hamil kepada suami dan orang tua untuk memohon maaf serta doa restu, dilanjutkan jamuan makan bersama.

Khoeri menuturkan, setiap daerah memiliki penyebutan dan tata cara berbeda terkait tradisi tujuh bulanan. Namun tujuan utamanya tetap sama, yakni ungkapan rasa syukur dan doa keselamatan.

“Intinya konsep utama memitu yaitu ungkapan rasa syukur dan panjatan doa keselamatan dan memohon kelancaran selama proses kehamilan hingga pasca persalinan,” terang Khoeri.

Sementara itu, warga Desa Leuwigede, Amar Ma’ruf, mengaku senang tradisi memitu masih terus dilestarikan.

Menurutnya, warga turut merasakan kebahagiaan ketika ada ibu hamil yang akan segera melahirkan. Mereka pun bersama-sama memanjatkan doa demi keselamatan ibu dan bayi.

“Saya juga turut merasakan senang, selain menjaga silaturahmi, orang-orang yang datang juga berharap dan berdoa yang sama agar ibu hamil serta bayinya selamat dunia akhirat,” kata Amar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *