INDRAMAYUUPDATE – Tragedi kecelakaan maut yang menewaskan 12 orang di Jalur Pantura, Desa Kiajaran Kulon, Kecamatan Lohbener, Kabupaten Indramayu, menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Di balik musibah itu, keluarga salah satu korban mengaku sempat merasakan firasat yang tak biasa.
Salah satu korban meninggal dunia adalah Karsinih (60), warga Desa Cempeh, Kecamatan Lelea, Indramayu. Jenazahnya telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Cempeh, Senin (13/7/2026).
Menantu korban, Kuniwati, menceritakan bahwa sebelum berangkat mengantar pengantin, ibu mertuanya sempat dilarang oleh sang suami untuk ikut rombongan yang menggunakan mobil pikap.
Awalnya, Karsinih disebut menuruti permintaan suaminya. Ia bahkan sudah berganti pakaian dan bersiap menghadiri pengajian di dekat rumah.
“Sebenarnya ibu sempat setuju tidak ikut mengantar pengantin. Beliau sudah ganti baju mau ikut pengajian di dekat rumah,” kata Kuniwati saat ditemui di TPU Desa Cempeh.
Namun, tak lama kemudian Karsinih tiba-tiba kembali ke rumah, berganti pakaian lagi, lalu memutuskan menyusul rombongan pengantar pengantin menuju Desa Parean, Kecamatan Kandanghaur.
Keluarga mengaku heran dengan perubahan sikap tersebut. Sebelum berangkat, Karsinih juga sempat mengajak cucunya ikut dalam rombongan, tetapi sang cucu menolak dan memilih menghadiri pengajian.
“Ibu juga sempat ngajak anak saya, tapi nggak mau. Akhirnya anak saya ikut pengajian,” ujar Kuniwati.
Tak hanya itu, firasat lain juga dialami anak korban yang bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Jepang. Menurut Kuniwati, beberapa hari sebelum kecelakaan, kerabatnya tersebut berulang kali mengalami mimpi buruk hingga selalu menelepon keluarga di Indramayu sambil menangis.
Keluarga menduga mimpi tersebut menjadi pertanda atas musibah yang akhirnya menimpa Karsinih.
“Mungkin firasat kejadian ini bakal terjadi,” ucapnya.
Keluarga baru mengetahui kabar kecelakaan setelah video dan informasi peristiwa itu ramai beredar di media sosial. Mereka kemudian mendapat kepastian bahwa Karsinih menjadi satu dari 12 korban meninggal dunia.
Karsinih mengembuskan napas terakhir di RS Bhayangkara Indramayu setelah mengalami luka berat akibat terpental ke jalan saat kecelakaan.
Meski masih diliputi duka, keluarga berusaha mengikhlaskan kepergian almarhumah.
“Minta doanya, semoga almarhumah ditempatkan di tempat yang terbaik,” tutup Kuniwati.






