INDRAMAYUUPDATE – Sejumlah pegiat dan peneliti sejarah mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu untuk segera menindaklanjuti hasil penelitian sejarah terbaru sebagai bahan pengkajian ulang dasar penetapan hari jadi daerah tersebut.
Dorongan tersebut mengemuka dalam pertemuan yang digelar di Museum Bandar Cimanuk, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Pertemuan tersebut dihadiri oleh sejumlah tokoh dan pemhati sejarah, di antaranya Urip Sucipto, Haris Solihin, Supali Kasim, Rusmanto, serta Nang Sadewo.
Urip Sucipto, yang merupakan peserta sekaligus pemakalah dalam seminar sejarah Indramayu pada tahun 1976, mengungkapkan bahwa penentuan hari jadi Indramayu pada masa lalu lebih banyak didasarkan pada kesepakatan bersama antarpeserta seminar.
“Pada waktu itu saya menjadi peserta, sekaligus salah satu pemakalah. Mengenai putusan hari jadi, hal itu lebih berdasarkan konsensus-konsensus,” ujar Urip.
Melihat banyaknya sumber literatur serta temuan sejarah baru yang kini tersedia, Urip mendorong adanya penelitian lanjutan yang komprehensif. Namun, ia menekankan bahwa langkah tersebut membutuhkan dukungan penuh dari pihak eksekutif maupun legislatif.
Dalam kesempatan yang sama, Supali Kasim menyebutkan bahwa rangkaian penelitian sejarah Indramayu sebenarnya telah dilakukan pada tahun 2023 dan 2024. Hasil dari kajian tersebut pun sudah diserahkan kepada pihak berwenang.
Meski demikian, Supali menyayangkan belum terlihatnya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk melanjutkan hasil kajian tersebut ke tahap penyusunan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda).
Padahal, pemberitaan resmi Pemkab Indramayu pada April 2023 lalu telah mencatat adanya ekspose laporan akhir kajian sejarah, yang juga menyertakan dorongan untuk menyusun Raperda baru terkait hari jadi.
Sikap terbuka juga disampaikan oleh pihak keturunan pendiri Indramayu. Haris Solihin dari Yayasan Raden Bagus Wiralodra menyatakan bahwa pihak trah Wiralodra pada prinsipnya tidak berkeberatan dengan adanya penelitian yang lebih intensif.
“Kini, saatnya upaya tersebut dilanjutkan, karena banyak dukungan dari para peneliti dan pencinta sejarah Indramayu lainnya,” kata Haris.
Selain itu, diskusi dalam pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya membedakan tiga aspek historis utama, yakni usia peradaban lokal, pertama kali kemunculan nama Dermayu, serta momen terbentuknya struktur pemerintahan kabupaten. Menurut para pegiat, ketiga hal tersebut bisa jadi merujuk pada rentang waktu yang berbeda, sehingga dasar penetapan hari jadi perlu dijelaskan secara presisi.
Para peserta pertemuan sepakat untuk melakukan pendekatan ke Pemkab dan DPRD Indramayu guna mendorong percepatan proses ini. Mereka berharap seluruh sumber sejarah yang digunakan ditelaah secara kritis agar argumen di balik penetapan hari jadi Indramayu kelak dapat dipertanggungjawabkan serta dipahami dengan jelas oleh masyarakat luas.




