Muara Karangsong Indramayu Dangkal Parah Hingga Ancam Keselamatan Kapal, Perbaikan Breakwater Dijanjikan Pemerintah pada 2027

Pendangkalan Muara Karangsong, Indramayu, menghambat kapal besar dan mengancam keselamatan nelayan. Perbaikan breakwater ditargetkan mulai 2027.

INDRAMAYUUPDATE – Pendangkalan parah di muara Pelabuhan Perikanan Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menghambat aktivitas kapal penangkap ikan. Kapal berukuran di atas 60 gross tonnage (GT) menjadi salah satu yang paling terdampak karena kesulitan keluar-masuk pelabuhan.

Kondisi tersebut telah berlangsung selama satu tahun terakhir. Selain memperlambat aktivitas pelayaran, pendangkalan muara juga memicu kenaikan biaya operasional dan meningkatkan risiko kecelakaan bagi nelayan.

Sekretaris Jenderal Gerakan Nelayan Pantura (GNP), Robani Hendra Permana, mengatakan persoalan itu harus segera ditangani. Jika terus dibiarkan, produktivitas usaha perikanan tangkap di Indramayu dikhawatirkan semakin menurun.

“Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, lambat laun usaha tangkap ikan akan semakin tidak produktif,” ujar Robani saat ditemui di Pelabuhan Karangsong, Rabu (28/10/2026).

Breakwater Rusak, Sedimentasi Pasir Masuk ke Muara

Robani menjelaskan, pendangkalan sekaligus penyempitan alur muara Karangsong dipicu kerusakan pemecah gelombang atau breakwater.

Bangunan yang mulai dibangun pada 2003 tersebut kini telah berusia sekitar 23 tahun. Kondisinya disebut mengalami kerusakan parah sehingga tidak lagi optimal menahan sedimentasi pasir yang masuk ke kawasan muara.

Dampaknya, kapal-kapal berukuran besar kesulitan melintasi alur pelayaran, baik saat hendak melaut maupun ketika kembali membawa hasil tangkapan.

Situasi itu juga menimbulkan risiko keselamatan. Menurut Robani, sejumlah kapal sebelumnya dilaporkan karam ketika melintasi muara yang dangkal.

“Biaya operasional untuk aktivitas keluar-masuk muara otomatis membengkak, ada ancaman kecelakaan kerja di muara, waktu antrean keluar-masuk semakin lama, dan kerusakan pada badan kapal yang setiap keluar-masuk ditarik paksa,” tuturnya.

Kondisi tersebut menjadi beban tambahan bagi nelayan. Mereka harus menghadapi waktu tunggu yang lebih panjang serta biaya tambahan untuk memastikan kapal dapat melewati alur muara.

Nelayan Audiensi ke KKP, Perbaikan Ditargetkan 2027

Berbagai upaya telah dilakukan GNP untuk mendorong pemerintah menyelesaikan persoalan tersebut. Terbaru, perwakilan nelayan bersama Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra Indramayu mendatangi Kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Jakarta untuk melakukan audiensi pada Selasa (27/10/2026).

Dalam pertemuan itu, mereka meminta kepastian langkah pemerintah untuk menangani pendangkalan muara secara menyeluruh.

“Kami minta pertanggungjawaban dari pemerintah mau seperti apa, solusinya bagaimana untuk masalah pendangkalan muara Karangsong,” kata Robani.

Menurut dia, hasil audiensi tersebut menghasilkan komitmen penanganan dalam dua tahap, yakni jangka pendek dan jangka panjang.

Untuk penanganan jangka pendek, KKP disebut berjanji melakukan renovasi breakwater yang mengalami kerusakan. Pengerjaan perbaikan ditargetkan mulai pada awal 2027.

“KKP berjanji untuk perbaikan tersebut target pengerjaan dimulai pada awal tahun 2027,” jelas Robani.

Sementara itu, untuk jangka panjang, pemerintah merencanakan pembangunan pelabuhan baru berskala nasional di tepi laut. Proyek tersebut direncanakan mulai berjalan pada 2028 dengan dukungan pendanaan dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

Meski demikian, realisasi rencana tersebut masih dinantikan oleh para nelayan. Mereka berharap komitmen yang disampaikan dalam audiensi dapat diwujudkan sesuai jadwal.

“Semoga komitmen tersebut bisa terealisasi sesuai hasil rapat kemarin dan berdampak pada peningkatan produktivitas hasil tangkapan ikan nelayan,” ujar Robani.

Muara Karangsong Jadi Jalur Vital Nelayan

Muara Karangsong merupakan jalur penting bagi aktivitas perikanan tangkap di Kabupaten Indramayu. Pelabuhan ini juga menjadi salah satu pusat produksi dan pendaratan ikan terbesar di pantai utara Jawa Barat.

Karena itu, persoalan pendangkalan tidak hanya berkaitan dengan kelancaran kapal, tetapi juga menyangkut efisiensi usaha perikanan dan keselamatan awak kapal.

Nelayan berharap perbaikan breakwater dapat segera direalisasikan agar sedimentasi pasir bisa dikendalikan dan akses pelayaran kembali lancar.

Bagi mereka, kepastian penanganan muara menjadi penting untuk menekan biaya operasional, mengurangi risiko kecelakaan, dan menjaga produktivitas usaha perikanan tangkap di Karangsong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *