Muara Karangsong Dangkal Parah, Nelayan Indramayu Ancam Demo ke Jakarta Jika Pemerintah Tidak Turun Tangan

INDRAMAYUUPDATE – Pendangkalan parah di Muara Karangsong, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memicu protes keras dari para nelayan. Mereka mendesak pemerintah segera melakukan penanganan permanen dengan memperbaiki breakwater (pemecah gelombang) yang dinilai menjadi penyebab utama sedimentasi.

Jika tuntutan itu tak kunjung direspons, nelayan yang tergabung dalam Gerakan Nelayan Pantura (GNP) mengancam akan menggelar aksi demonstrasi hingga ke Jakarta.

Ketua GNP Kajidin mengatakan, kondisi Muara Karangsong saat ini sudah sangat memprihatinkan. Bahkan, KM Gajah Samudra yang membawa hasil tangkapan ikan dari perairan Papua dilaporkan terjebak di muara selama empat hari dan belum bisa bersandar di Pelabuhan Karangsong.

“Ini bukan lagi seberapa parah, tapi sudah parah sekali. Terbaru KM Gajah Samudra sudah memasuki hari keempat tersendat di muara,” kata Kajidin kepada wartawan, Senin (27/7/2026).

Menurutnya, bukan hanya kapal yang hendak bongkar muat yang terdampak. Sejumlah kapal yang dijadwalkan berangkat melaut juga gagal berlayar karena tidak bisa melintasi alur muara yang dangkal.

Kajidin menyebut sedimentasi di Muara Karangsong merupakan persoalan lama yang terus berulang. Ia menilai akar masalahnya berada pada kondisi breakwater yang sudah rusak sehingga tidak lagi mampu menahan endapan lumpur yang terbawa arus laut.

Karena itu, para nelayan meminta pemerintah tidak hanya mengandalkan pengerukan, tetapi juga membangun kembali breakwater agar persoalan tidak terus berulang.

“Kami ingin suara ini sampai ke KKP, Gubernur Jawa Barat, Bupati Indramayu, sampai Presiden,” ujarnya.

GNP juga berencana melayangkan surat resmi kepada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun apabila tidak ada tindak lanjut, para nelayan siap menggelar aksi yang lebih besar.

“Kalau pemerintah tidak menggubris gerakan kita, tidak menutup kemungkinan teman-teman akan konvoi ke Jakarta. Kita akan terus perjuangkan agar suara nelayan sampai ke Istana Negara,” tegas Kajidin.

Sementara itu, Ketua Koperasi Perikanan Laut (KPL) Mina Sumitra, Suwarto, mengatakan selama ini pihaknya terpaksa melakukan pengerukan secara swadaya menggunakan dana yang berasal dari hasil penjualan ikan para nelayan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Karangsong.

KPL juga mengerahkan dua kapal tongkang untuk membantu kapal-kapal yang terjebak keluar masuk muara. Namun upaya tersebut dinilai belum mampu mengatasi persoalan.

“Kami berharap breakwater segera dibangun kembali, kalau bisa diperpanjang, sekaligus ada penanganan alur muara secara berkelanjutan dari pemerintah,” kata Suwarto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page