Mengenal Makna dan Sejarah Kirab Tunggul Pataka yang Tak Pernah Absen di Puncak Hari Jadi Indramayu

Kirab Tunggul Pataka kembali digelar pada Hari Jadi Indramayu ke-499. Simak sejarah, makna, rute, benda pusaka, hingga tradisi becak.

INDRAMAYUUPDATE – Kirab Tunggul Pataka kembali digelar untuk memeriahkan puncak Hari Jadi Indramayu ke-499, Rabu (7/10/2026). Ratusan becak yang membawa para pejabat daerah bergerak dari Pendopo Indramayu menuju Gedung DPRD Indramayu.

Pantauan di lokasi, masyarakat dan pelajar telah memadati sejumlah titik di sepanjang Jalan Mayjen Sutoyo hingga Jalan Jenderal Sudirman. Mereka tampak antusias menyaksikan iring-iringan kirab yang menjadi salah satu tradisi tahunan setiap 7 Oktober tersebut.

Di bagian depan rombongan, Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) berjalan membawa panji-panji kebesaran Kabupaten Indramayu dan sejumlah benda pusaka. Iring-iringan tersebut semakin semarak dengan penampilan marching band yang menarik perhatian warga.

Pamong Budaya Bidang Cagar Budaya Kabupaten Indramayu, Suparto Agustinus atau yang akrab disapa Tinus, mengatakan Kirab Tunggul Pataka bukan sekadar kegiatan seremonial.

Menurutnya, kirab menjadi sarana untuk mengumumkan kepada masyarakat bahwa Kabupaten Indramayu tengah memperingati hari jadinya. Di sisi lain, kegiatan tersebut juga menjadi media edukasi mengenai benda-benda peninggalan leluhur Indramayu.

“Pada intinya Kirab Tunggul Pataka ini adalah sebagai pengumuman kepada publik bahwa hari ini Indramayu sedang berulang tahun serta edukasi masyarakat soal benda-benda peninggalan leluhur Indramayu,” kata Tinus saat ditemui di Gedung DPRD Indramayu.

Berawal dari Penetapan Hari Jadi

Tinus menjelaskan, tradisi Kirab Tunggul Pataka tidak dapat dipisahkan dari sejarah penetapan Hari Jadi Indramayu.

Tradisi tersebut mulai muncul pada 1977, setelah penyusunan buku sejarah Indramayu rampung. Sejarah tersebut kemudian menjadi dasar penetapan tanggal 7 Oktober 1527 sebagai Hari Jadi Indramayu melalui Peraturan Daerah.

“Melalui Sidang Pleno DPRD pada tanggal 24 Januari 1977, disetujui bahwa tanggal 7 Oktober 1527 ditetapkan sebagai Hari Jadi Indramayu. Setelah Perda itu ditetapkan, barulah dilaksanakan Kirab Tunggul Pataka ini,” ujarnya.

Pada awal pelaksanaannya, rute kirab berbeda dengan yang dikenal masyarakat saat ini.

Kirab kala itu dimulai dari Kecamatan Sindang. Wilayah tersebut merupakan pusat pemerintahan awal Indramayu pada masa pemerintahan Raden Mangbei.

Dari Sindang, rombongan bergerak menuju Pendopo Indramayu, kemudian memutar kawasan alun-alun dan berakhir di Gedung Dewan yang pada masa itu masih berada di sekitar Pendopo.

Rute tersebut berubah setelah Gedung DPRD Indramayu berpindah ke kawasan Jalan Jenderal Sudirman pada sekitar dekade 1980-an.

“Nah, setelah Gedung DPRD dibangun di lokasi sekarang, rutenya berubah. Dari Pendopo ke Gedung Dewan, seperti yang kita saksikan tadi pagi rutenya,” jelas Tinus.

Makna Tunggul Pataka dan Benda Pusaka

Nama Kirab Tunggul Pataka juga memiliki makna tersendiri.

Tinus menjelaskan, tunggul merupakan tetenger atau bendera panji yang memuat logo Kabupaten Indramayu. Sementara pataka merupakan lambang kesatuan daerah berupa panji Gagak Winangsih yang dikenal sebagai lambang awal daerah Indramayu.

Selain panji, sejumlah benda pusaka peninggalan leluhur juga turut dibawa dalam prosesi kirab. Di antaranya adalah senjata berbentuk tombak.

Namun, tidak seluruh benda pusaka diikutsertakan.

Salah satu pusaka yang tidak pernah lagi dikirab adalah Cakra milik Raden Arya Wiralodra, tokoh yang dikenal sebagai pendiri Indramayu.

“Cuma Cakra yang tidak dikirab hari ini. Karena melihat kondisi Cakra, mengingat usianya, tidak mungkin dikirab,” ungkap Tinus.

Menurutnya, keputusan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi dan usia benda pusaka tersebut.

Sejak 2002, Pejabat Naik Becak

Ada pemandangan khas yang selalu menarik perhatian dalam Kirab Tunggul Pataka, yakni penggunaan becak sebagai kendaraan para pejabat daerah.

Namun, tradisi tersebut ternyata tidak ada sejak awal pelaksanaan kirab.

Tinus menyebut, ketika pertama kali digelar pada 1977, kirab dilakukan dengan berjalan kaki.

Penggunaan becak baru dimulai pada 2002. Gagasan tersebut muncul pada masa Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin atau Yance.

Pelibatan becak bukan hanya dimaksudkan untuk mempertahankan keberadaan kendaraan tradisional tersebut. Lebih jauh, pemerintah ingin memberikan ruang kepada para tukang becak yang kala itu menjadi salah satu kelompok pekerja yang cukup banyak di Indramayu.

“Pada masa itu, sebelum gempuran transportasi online menjamur, profesi tukang becak ini sangat mendominasi di Indramayu. Mereka kemudian sengaja dilibatkan sebagai upaya pemerintah berbagi kepada masyarakat di Hari Jadi Indramayu,” kata Tinus.

Tradisi tersebut kemudian terus dipertahankan hingga sekarang.

Bukan Sekadar Kirab

Bagi pemerintah dan masyarakat Indramayu, Kirab Tunggul Pataka pada akhirnya bukan hanya soal kemeriahan perayaan hari jadi.

Prosesi ini menjadi semacam woro-woro kepada masyarakat luas bahwa Indramayu sedang memperingati hari kelahirannya.

Di saat bersamaan, benda-benda pusaka yang dibawa dalam kirab menjadi pengingat bahwa perayaan hari jadi memiliki keterkaitan erat dengan perjalanan sejarah daerah.

Tinus berharap tradisi tersebut dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah Indramayu sekaligus menumbuhkan kebanggaan terhadap daerahnya.

“Tujuannya sebagai edukasi kepada masyarakat Indramayu dan pengetahuan pada generasi-generasi yang sekarang, hingga menimbulkan rasa bangga terhadap Indramayu. Agar kita betul-betul menghargai jasa-jasa para leluhur,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *