Berita  

Lewat “Peri Cahaya”, Ibu-ibu Balongan Indramayu Rajut Mimpi Bawa Produk Lokal Naik Kelas

Screenshot

INDRAMAYUUPDATE – Gurihnya bawang goreng, legitnya bolu gulung, hingga aroma khas sambal kering tak lagi sekadar menjadi pelengkap di meja makan.

Di tangan 10 perempuan tangguh asal Desa Rawadalem dan Desa Tegalurung, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, produk rumahan tersebut adalah simbol kemandirian ekonomi yang sedang mereka perjuangkan.

Para ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok dengan nama “Berkah” ini pun menegaskan soal mimpi besar mereka.

Yakni, ingin produk yang mereka buat bisa menembus pasar yang lebih luas demi menopang perekonomian keluarga.

Pagi hari ini, suasana di Balai Desa Rawadalem tampak berbeda. Gurat semangat terpancar jelas dari wajah para ibu pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) ini.

Hari itu menjadi babak baru bagi perjalanan usaha mereka melalui peluncuran program Perempuan Berdikari Cerdas Bersahaja dan Berdaya, atau yang disingkat “Peri Cahaya”.

Program ini merupakan inisiasi dari Pertamina EP Zona 7. Perusahaan plat merah tersebut mencoba hadir untuk jawaban mimpi besar para perempuan produktif di kawasan pesisir Indramayu tersebut.

Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP Zona 7, Wazirul Luthfi mengatakan, selama ini ibu-ibu kelompok Berkah diketahui sangat aktif memproduksi beragam komoditas lokal.

“Mereka memproduksi beragam produk lokal, mulai dari sambal kering, rengginang, bawang goreng, bolu gulung, hingga keripik ungu. Tidak hanya sektor pangan, ada pula produk kerajinan tangan atau ecraft. Produk-produk ini tentunya punya potensi yang besar,” kata Wazirul di lokasi, Jumat (10/7/2026).

Meski dinilai mempunyai potensi besar, tapi jalan para ibu-ibu ini rupanya tidak mudah.

Persoalan klasik seperti keterbatasan modal, legalitas, hingga strategi pemasaran menjadi dinding penghalang yang kerap mereka temui.

Melihat kondisi tersebut, Pertamina EP Zona 7 mencoba hadir memberikan suntikan energi baru.

Langkah awal program Peri Cahaya pun ditandai dengan pembekalan motivasi pengembangan usaha.

Pertamina EP Zona 7 pun sengaja mengundang Darwinah, sosok inspiratif sekaligus Founder Rumah Edukasi Kenanga.

Melalui sentuhan motivasinya, para peserta diajak untuk mengubah pola pikir dari sekadar berjualan untuk bertahan hari ini menjadi berbisnis untuk tumbuh berkelanjutan.

“Kami berkomitmen memberikan pendampingan usaha yang komprehensif, mulai dari pengurusan legalitas hingga strategi peningkatan pemasaran. Tujuannya jelas, agar kapasitas mereka meningkat dan UMKM ini bisa benar-benar naik kelas,” ujar Wazirul Luthfi.

Wazirul menegaskan, esensi utama dari Peri Cahaya bukan sekadar memberikan bantuan yang selesai dalam sehari, melainkan pemberdayaan masyarakat seutuhnya untuk menumbuhkan kemandirian yang berkelanjutan.

Di sisi lain, bagi Saturih (41), Ketua Kelompok UMKM Berkah sekaligus perajin sambal kering, menilai bahwa program ini seperti oase di tengah perjuangannya dalam membesarkan usaha.

Ia tidak menampik, sesi pembekalan yang diikutinya tersebut telah membuka wawasannya soal produk rumahan yang rupanya bisa juga eksis di pasar nasional.

Ada banyak contoh nyata yang sudah lebih dahulu membuktikan hal tersebut.

Produk-produk yang sudah besar itu sejatinya tidak jauh berbeda dengan produk yang diproduksi oleh ibu-ibu Kelompok Berkah, namun produk tersebut dikemas dengan profesional sehingga punya nilai jual lebih.

Pada kesempatan itu, Saturih dan kawan-kawannya juga diajarkan soal potensi besar memasarkan produk lewat digital.

“Kami sangat senang dan bersyukur. Kegiatan ini benar-benar membuka wawasan dan menambah pengetahuan kami dalam menjalankan usaha,” kata Saturih dengan mata berbinar penuh optimisme.

Bagi Saturih dan sembilan rekannya, naik kelas kini bukan sekedar slogan keren yang terpajang di spanduk acara.

Melainkan menjadi target nyata yang sedang mereka perjuangkan.

Para ibu-ibu tersebut bermimpi, suatu hari nanti, sambal kering hingga rengginang buatan mereka tidak hanya berputar di warung-warung tetangga, melainkan bisa pula berjejer rapi di rak-rak minimarket modern atau bahkan melanglang buana ke luar daerah.

“Kami ingin menjadi UMKM yang naik kelas,” tegas Saturih, menutup perbincangan dengan penuh keyakinan.

Melalui program Peri Cahaya, secercah harapan baru kini tumbuh bagi 10 ibu-ibu di Kecamatan Balongan, Indramayu, untuk meraih kemandirian ekonomi.

Perjalanan menuju pasar yang lebih luas tentunya tidak akan mudah. Namun, dengan pendampingan yang berkelanjutan, mereka optimistis mampu mengembangkan produk lokal hingga memiliki daya saing.

Para ibu-ibu ini pun memiliki tekad kuat untuk membuktikan bahwa pilar ekonomi juga bisa lahir dari dapur-dapur sederhana di rumah mereka, yakni dengan dibarengi semangat, ketekunan, dan kerja keras untuk terus bertumbuh.

You cannot copy content of this page

Exit mobile version