Lebih dari 50 Hari Tanpa Hujan, BMKG Tetapkan Status Awas Kekeringan di Ciayumajakuning

INDRAMAYUUPDATE – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Barat menetapkan status awas kekeringan meteorologis di sejumlah wilayah.

Kawasan Ciayumajakuning yang meliputi Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan termasuk daerah yang masuk dalam status tersebut.

Status awas berlaku pada 21-31 Agustus 2026. Secara keseluruhan, terdapat 17 daerah yang ditetapkan BMKG dalam status awas kekeringan.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Kertajati, Kabupaten Majalengka, Muhammad Syifaul Fuad, membenarkan wilayah Ciayumajakuning turut masuk dalam daftar tersebut.

Menurut Fuad, salah satu pemicu utama penetapan status awas adalah kondisi Hari Tanpa Hujan (HTH) yang berlangsung cukup panjang.

“Hal itu mengingat hari tanpa hujan yang tercatat di Stasiun Meteorologi Kertajati dan Jatiwangi mencapai lebih dari 50 hari tanpa hujan,” kata Fuad saat dihubungi, Senin (24/8/2026).

Fuad menegaskan, status awas tidak serta-merta berarti seluruh wilayah Ciayumajakuning mengalami krisis air secara bersamaan.

Dampak kekeringan, kata dia, sangat bergantung pada kondisi geografis serta ketersediaan sumber air di masing-masing wilayah.

“Misalnya, satu desa masih memiliki sumber air yang cukup, sementara desa lain yang hanya mengandalkan sumur dangkal sudah mengalami kekurangan air,” ujarnya.

Menurut Fuad, status awas merupakan penanda bahwa risiko dampak kekeringan sudah tergolong serius. Karena itu, masyarakat dan berbagai sektor diminta mulai melakukan langkah antisipasi.

Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling berisiko terdampak. Kemarau panjang membuat petani kesulitan memperoleh pasokan air untuk kebutuhan lahan pertanian.

Kondisi serupa juga dapat dirasakan warga yang mengandalkan sumur dangkal maupun mata air lokal. Para peternak juga perlu mewaspadai ketersediaan air untuk kebutuhan minum ternak.

BMKG turut mengimbau pelaku usaha yang menggunakan air dalam proses produksi untuk segera mengamankan pasokan cadangan.

Masyarakat umum juga diminta mulai menghemat penggunaan air dan tidak menunggu sampai sumber air benar-benar habis.

“Bagi masyarakat umum dianjurkan mulai menghemat penggunaan air, jangan menunggu air benar-benar habis,” kata Fuad.

Selain persoalan ketersediaan air, kemarau panjang juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di kawasan dengan kondisi lahan yang semakin kering.

“Kami juga imbau masyarakat untuk menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran lahan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page