INDRAMAYUUPDATE – Setiap hari, Sukimah (48) mengayuh sepeda menyusuri jalanan Desa Sukaurip, Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu. Di atas sepeda tuanya, ibu dua anak itu berangkat menjadi buruh cuci hingga berkeliling menjajakan roti demi menghidupi keluarganya.
Di balik rutinitas mencari nafkah tersebut, tersimpan perjuangan yang tak banyak diketahui orang. Sukimah merupakan ibu tunggal yang membesarkan dua anak seorang diri, sekaligus masih berjuang meraih gelar sarjana.
“Bismillah saja mas, rezeki mah sudah ada yang mengatur,” ujar Sukimah saat ditemui, Rabu (29/7/2026).
Kehidupan Sukimah berubah sejak rumah tangganya berakhir pada 2016. Sejak saat itu, ia menjadi tulang punggung keluarga dan harus memenuhi seluruh kebutuhan kedua anaknya.
Bukannya menyerah, kondisi tersebut justru menjadi penyemangat baginya. Menurut Sukimah, masa depan anak-anaknya tak akan berubah jika hanya diisi dengan keluhan.
Sehari-hari, Sukimah bekerja sebagai buruh cuci dan setrika di rumah-rumah warga. Ia juga menjaga kantin sekolah yang berada tak jauh dari rumahnya. Saat masih memiliki waktu luang, ia kembali mengayuh sepeda untuk berjualan roti keliling.
Semua pekerjaan itu dijalani demi memastikan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Di tengah kesibukannya, Sukimah tetap menyempatkan diri menuntut ilmu. Kini ia tercatat sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam di STAI Sayid Sabiq Indramayu.
Baginya, menyandang gelar sarjana merupakan impian yang ingin diwujudkan. Bukan semata-mata demi pekerjaan, tetapi agar ilmu yang diperolehnya dapat bermanfaat bagi masyarakat.
“Saya ingin menjadi sarjana. Meskipun nantinya tidak menjadi pegawai, saya berharap ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat bagi banyak orang, terutama di tengah masyarakat,” katanya.
Semangat pantang menyerah itu telah tertanam sejak muda. Setelah lulus SMA, Sukimah pernah bekerja sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk membantu ekonomi orang tuanya sekaligus membiayai sekolah kedua adiknya.
Pengalaman tersebut membuatnya tetap tegar ketika harus menghadapi perceraian dan menjadi orang tua tunggal.
“Tetap semangat menjalani hidup. Nikmati, syukuri, dan pokoknya jangan pernah ada kata menyerah,” ucapnya.
Perjuangan Sukimah juga mendapat perhatian dari pemerintah. Belum lama ini, Baznas Kabupaten Indramayu memberikan bantuan renovasi rumah yang selama ini ditempatinya bersama kedua anaknya.
Meski bersyukur atas bantuan tersebut, Sukimah menegaskan bahwa ia tidak ingin bergantung pada bantuan. Baginya, bantuan itu justru menjadi penyemangat untuk terus berjuang menjalani kehidupan.
“Pokoknya jangan ada kata menyerah, syukuri, dan jalani,” pungkasnya.






