Kisah Salim dan Gerobak Rongsoknya yang Menembus Teriknya Jalanan Indramayu Demi Mencari Nafkah untuk Keluarga

INDRAMAYUUPDATE – Terik matahari menyengat pusat Kota Indramayu, Jawa Barat, Rabu (26/8/2026).

Debu jalanan beterbangan diterpa angin. Di tengah panasnya aspal, seorang pria tampak mendorong gerobak kayu berisi tumpukan kardus bekas.

Pria itu adalah Salim (51), warga Desa Terusan, Kecamatan Sindang. Dengan tubuh mungil dan topi lusuh di kepala, dia terus mendorong gerobaknya menyusuri jalanan demi mencari barang rongsokan.

Peluh membasahi kaus belang abu-putih yang dikenakannya. Kulitnya yang legam menjadi saksi kerasnya pekerjaan yang dilakoni Salim setiap hari.

Siang itu, Salim menepikan gerobaknya di bawah pohon mangga, tepat di seberang kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Indramayu. Dia beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Salim mengaku pekerjaan tersebut dilakukannya demi menghidupi istri dan dua anaknya.

“Setiap hari dorong gerobak cari rongsokan,” kata Salim saat ditemui, Rabu (26/8/2026).

Aktivitasnya dimulai sekitar pukul 07.00 WIB. Dari pagi hingga sore, Salim berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya mencari warga yang hendak menjual barang rongsokan.

Namun, kini dia tak selalu harus berkeliling. Salim sudah memiliki sejumlah pelanggan tetap yang menghubunginya ketika memiliki barang bekas.

Kardus, potongan besi tua hingga perabotan rusak menjadi barang yang biasa dikumpulkannya untuk kemudian dijual kepada pengepul.

“Alhamdulillah suka ada saja yang ngebel (telepon), ‘ini ada rongsokan’. Jadi saya enggak usah keliling, langsung datang ke lokasi rumahnya saja,” ujarnya.

Meski begitu, penghasilan Salim tidak pernah menentu. Ada kalanya dia harus menempuh perjalanan puluhan kilometer, tetapi pulang dengan gerobak yang masih kosong.

Jumlah rongsokan yang berhasil dikumpulkan menjadi penentu berapa uang yang bisa dibawa pulang untuk keluarga.

“Kadang sehari saat dijual pada pengepul, saat sedang sepi dapat Rp 20 ribu. Penghasilan tidak menentu, pernah juga dapat sampai Rp 300 ribu kalau gerobak penuh dan tidak muat,” tuturnya.

Bagi Salim, pekerjaan mengumpulkan barang bekas bukan sekadar mencari uang. Di balik setiap dorongan gerobaknya, ada tanggung jawab untuk memastikan keluarganya tetap bisa makan dan kebutuhan sehari-hari terpenuhi.

Teriknya matahari, debu jalanan hingga penghasilan yang tak menentu tak membuat Salim berhenti bekerja. Barang-barang yang bagi sebagian orang sudah tak terpakai, justru menjadi sumber penghidupan bagi keluarganya.

“Yang penting keluarga di rumah bisa makan, kebutuhan tercukupi. Kerjanya apa saja,” pungkas Salim sambil tersenyum.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page