Berita  

Jalur Pendakian Ciremai Ditutup, Ibu Rimba: Kalau Lama Saya Tak Dapat Pemasukan

Penutupan seluruh jalur pendakian Gunung Ciremai mulai 6 September 2026 turut memukul pedagang yang selama ini mengandalkan ramainya aktivitas pendaki.

INDRAMAYUUPDATE – Penutupan sementara seluruh jalur pendakian menuju puncak Gunung Ciremai tak hanya membuat pendaki harus menunda perjalanan. Warga yang menggantungkan penghasilan dari ramainya aktivitas pendakian ikut terdampak, termasuk para pedagang di sepanjang jalur.

Salah satunya Mimin. Perempuan yang akrab disapa ‘Ibu Rimba’ oleh para pendaki itu selama belasan tahun berjualan di jalur pendakian Trisakti Sadarehe, Desa Payung, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Warung sederhana miliknya berada di pos pertama jalur pendakian. Pos tersebut dikenal dengan nama Rimba. Dari situlah para pendaki kemudian menjulukinya sebagai Ibu Rimba.

Mimin mengaku penutupan jalur pendakian yang mulai berlaku Minggu (6/9/2026) otomatis membuat pemasukan dari warungnya terhenti.

“Saya sih berharapnya semoga penutupan jangan lama-lama, kalau ditutup lama saya gak dapat pemasukan dari sini,” kata Mimin saat ditemui di warungnya.

Warung tersebut menyediakan berbagai kebutuhan pendaki. Mulai dari mi, telur, gorengan, makanan ringan hingga minuman tersedia untuk para pendaki yang singgah sebelum melanjutkan perjalanan.

Namun, Mimin memang tidak membuka warung setiap hari. Ia biasanya berjualan saat akhir pekan, libur nasional atau ketika jumlah pendaki sedang ramai.

“Enggak setiap hari jualannya, paling Sabtu-Minggu sama kalau libur,” ujarnya.

Salah satu pertimbangannya adalah biaya operasional. Untuk mengangkut barang dagangan menuju warung di jalur pendakian, Mimin harus menggunakan jasa ojek dengan tarif sekitar Rp 50 ribu sekali jalan.

Jika harus bolak-balik, biaya transportasi yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp 100 ribu.

“Kalau bolak-balik ya Rp 100 ribu. Cukup berat di ongkos, jadi enggak setiap hari,” katanya.

Meski begitu, Mimin masih memiliki pekerjaan lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat warungnya tidak beroperasi, ia mengandalkan pekerjaan sebagai petani sayuran.

Karena itu, penutupan jalur pendakian tidak sepenuhnya membuat aktivitas ekonominya berhenti. Hanya saja, pemasukan tambahan dari warung di jalur pendakian untuk sementara harus hilang.

Di sisi lain, Mimin memahami alasan pengelola menutup seluruh jalur pendakian. Ia mendukung kebijakan tersebut demi menjaga kelestarian kawasan Gunung Ciremai sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Mimin pun berpesan kepada para pendaki agar lebih peduli terhadap kondisi lingkungan ketika jalur pendakian nantinya kembali dibuka.

Salah satu yang menjadi perhatiannya adalah sampah dan puntung rokok yang dibuang sembarangan.

“Pesannya jangan sampai buang sampah sembarangan, terutama buang puntung rokok. Bekas rokok harus dijaga, jangan sampai ada bakar-bakaran di atas,” ujarnya.

Jalur Pendakian Ciremai Ditutup

Pengendali Ekosistem Hutan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) Seksi Pengelolaan Wilayah II Majalengka, Robi Gumilang, mengatakan penutupan seluruh jalur pendakian merupakan tindak lanjut dari Surat Edaran Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) serta Surat Edaran Gubernur Jawa Barat.

Penutupan dilakukan sebagai langkah antisipasi kebakaran hutan dan lahan. Selain itu, kebijakan tersebut bertujuan menjaga keselamatan pendaki serta kelestarian ekosistem Gunung Ciremai.

Menurut Robi, informasi mengenai penutupan jalur telah disampaikan melalui pengumuman resmi Balai TNGC dan akun Instagram resmi TNGC @gunung_ciremai.

“Kebijakan ini berlaku untuk seluruh jalur pendakian menuju puncak Gunung Ciremai, termasuk di Jalur Trisakti Sadarehe ini,” kata Robi.

Belum diketahui kapan jalur pendakian akan kembali dibuka. Menurut Robi, keputusan tersebut akan melihat hasil evaluasi kondisi cuaca dan informasi dari BMKG.

“Kalau untuk pembukaan sementara kita menunggu informasi dari BMKG. Dikarenakan menunggu kondisi cuaca,” ucapnya.

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kawasan Gunung Ciremai berada di dua wilayah, yakni Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan.

Terdapat lima jalur resmi pendakian menuju puncak Ciremai. Di wilayah Majalengka terdapat Jalur Apuy dan Trisakti Sadarehe. Sementara di Kabupaten Kuningan terdapat Jalur Palutungan, Linggarjati dan Linggasana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *