INDRAMAYUUPDATE – Musim tanam rendeng di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat telah berlalu. Panen raya di Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, ini pun menjadi penutup penyerapan musim tersebut, Rabu (15/7/2026).
Meski begitu, ada beberapa wilayah yang diketahui sudah lebih awal memulai musim tanam kedua atau musim gadu dan dalam waktu dekat dilaporkan akan segera melangsungkan panen raya, salah satunya seperti di wilayah Kecamatan Gantar.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu, Sugeng Heryanto mengatakan, pihaknya punya optimisme tinggi hasil produksi panen para petani Indramayu pada tahun ini bisa kembali melimpah.
Hal ini sekaligus upaya mempertahankan status Indramayu sebagai lumbung pangan nasional.
“Mohon doanya semoga hasil produksi dari Indramayu bisa kembali tinggi,” kata Sugeng saat mengawal serapan gabah petani di areal persawahan Desa Srengseng, Kecamatan Krangkeng, Indramayu.
Sugeng memaparkan, bahwa Indramayu memiliki Lahan Baku Sawah (LBS) seluas 125.000 hektare dengan indeks pertanaman 1,8, yang berarti sebagian besar lahan dapat dipanen hingga dua kali dalam setahun.
Sehingga luas panen dalam setahun diperkirakan mencapai sekitar 230.000 hektare.
“Berdasarkan data kami, produksi rata-rata mencapai 6,6 ton per hektare. Insya Allah, dalam satu tahun kita bisa menghasilkan panen di atas 1,6 juta ton. Ini estimasi kita,” papar Sugeng.
Sugeng pun meyakini estimasi tersebut tidak akan berbeda jauh dari realisasi produksi di lapangan pada akhir tahun 2026 nanti.
Dalam hal ini, Sugeng juga tidak menampik bahwa musim tanam gadu punya tantangan tersendiri yang jauh lebih berat dibanding musim tanam rendeng.
Kemarau panjang, kerap menjadi ancaman serius bagi petani karena berpotensi menyebabkan kekeringan hingga gagal panen atau puso.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkab Indramayu bersama berbagai pihak diketahui telah menyiapkan langkah mitigasi, salah satunya melalui pengaturan distribusi air irigasi.
“Upaya-upaya kita, kami juga dibantu oleh pak Dandim, pak Kapolres, dan jajaran yang lain untuk bagaimana kita mengamankan gilir-giring air,” kata Sugeng.
Selain itu, kata Sugeng, petani di wilayahnya juga telah menerima bantuan pompanisasi dari Kementerian Pertanian yang bisa dimanfaatkan untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian selama musim kemarau.
Pompanisasi ini akan menunjang upaya dari Pemkab Indramayu dalam memastikan keandalan air agar selalu tersedia di seluruh saluran irigasi di wilayahnya.
“Kita coba untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan di lapangan, karena memang untuk musim ini kita diperhadapkan dengan situasi dan kondisi alam yang sekarang seperti ini,” kata Sugeng.
Di sisi lain, walau kemarau panjang sudah mulai melanda Indramayu. Namun, hingga pertengahan Juli 2026, DKPP Indramayu mencatat belum ada laporan lahan sawah yang mengalami puso akibat kekeringan.
Meski begitu, ia mengakui bahwa saat ini memang ada beberapa wilayah yang mulai melaporkan kondisi kekeringan.
Sugeng pun memastikan, Pemkab Indramayu akan berupaya maksimal agar tanaman padi yang mengalami kekeringan itu bisa terselamatkan, sehingga produktivitas dari petani tidak sampai terganggu.
“Salah satunya itu, kita sedang berupaya mengatur dengan cara sistem gilir-giring air. Kita berdoa mudah-mudahan tanaman padi tersebut masih bisa diselamatkan,” paparnya.






