INDRAMAYUUPDATE – Dosen Politeknik Negeri Indramayu (Polindra), Jawa Barat, menciptakan alat pengayak beras tiga lapis atau 3 layer untuk membantu meningkatkan kualitas dan efisiensi produksi penggilingan padi.
Alat tersebut kini mulai digunakan oleh CV Putra Maju di Desa Wirakanan, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu.
Inovasi teknologi tepat guna ini dirancang untuk mempermudah proses penyortiran beras berdasarkan ukuran butirannya. Melalui tiga saluran keluaran, mesin tersebut dapat memisahkan beras utuh, beras patah, dan menir.
Ketua tim pengembangan alat, Syaeful Ilman, mengatakan inovasi tersebut berawal dari persoalan yang dihadapi pengusaha penggilingan padi, terutama terkait beragamnya kualitas gabah yang dibeli dari petani.
Di sisi lain, tidak semua penggilingan padi memiliki peralatan penyortiran yang memadai. Proses pemilahan beras pun masih kerap dilakukan menggunakan metode sederhana yang membutuhkan banyak tenaga dan waktu.
“Misal dalam proses produksi beras premium, tahapan penyortiran ini menjadi salah satu bagian penting karena ukuran dan kondisi butiran beras itu harus sesuai dengan kualitas produknya saat dipasarkan,” kata Syaeful saat ditemui di kampus Polindra, Jumat (9/10/2026).
Menurutnya, penyortiran menjadi tahapan penting untuk membantu pengusaha penggilingan menjaga konsistensi mutu beras sebelum dipasarkan kepada konsumen.
Dirancang Dosen Teknik Polindra
Syaeful menjelaskan, pengembangan alat pengayak beras tiga lapis tersebut melibatkan empat dosen dari Jurusan Teknik Polindra.
Selain dirinya sebagai ketua tim, inovasi ini dikerjakan bersama Ir Dedi Suwandi, Mohammad Azwar Amat, dan Ir Baruzzaman.
Mesin yang dikembangkan memiliki panjang 2,6 meter, lebar 1 meter, dan tinggi 1,2 meter. Rangka mesin menggunakan besi UNP 65, sedangkan bagian saringan menggunakan pelat perforated berbahan stainless steel SUS 201.
Cara kerja alat ini relatif sederhana. Beras hasil penggilingan dimasukkan ke mesin, kemudian getaran membantu butiran beras melewati saringan sesuai ukuran masing-masing.
Hasil penyortiran selanjutnya keluar melalui tiga saluran berbeda, yakni untuk beras utuh, beras patah, dan menir.
“Teknologi ini kami harapkan dapat mempercepat tahapan penyortiran dibandingkan proses yang kurang efisien, sekaligus memudahkan pengelola penggilingan dalam mengelompokkan hasil produksi sesuai kualitasnya,” ujarnya.
Langsung Diterapkan di Penggilingan Padi
Alat pengayak beras tersebut telah diserahkan kepada CV Putra Maju di Desa Wirakanan, Kecamatan Kandanghaur, Indramayu, untuk diterapkan dalam kegiatan produksi.
Direktur CV Putra Maju, Nurdani, menyambut baik bantuan teknologi yang diberikan Polindra. Menurutnya, keberadaan mesin tersebut diharapkan dapat membantu pekerjaan penyortiran beras menjadi lebih praktis.
Pihak Polindra juga memberikan pendampingan mengenai cara pengoperasian alat agar dapat dimanfaatkan oleh pengelola penggilingan.
“Bagi kami teknologi ini sangat membantu sekali. Harapannya proses penyortiran beras bisa semakin mudah, cepat, dan sesuai mutu,” kata Nurdani.
Bagian dari Pengabdian kepada Masyarakat
Pengembangan alat pengayak beras tiga lapis ini sekaligus menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, khususnya pengabdian kepada masyarakat.
Syaeful mengatakan perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam kegiatan pendidikan dan penelitian, tetapi juga perlu menghadirkan solusi yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat maupun pelaku usaha.
“Iya ini menjadi bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi, sebagai perguruan tinggi kami juga berkewajiban untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat,” jelasnya.
Melalui inovasi tersebut, Polindra berharap penerapan teknologi tepat guna dapat membantu pelaku usaha penggilingan padi meningkatkan efisiensi kerja dan menjaga kualitas hasil produksi.
Bagi Kabupaten Indramayu yang dikenal sebagai salah satu daerah sentra produksi beras di Jawa Barat, dukungan teknologi dalam proses pascapanen menjadi salah satu upaya untuk memperkuat daya saing usaha pengolahan hasil pertanian.




