Cerita Warga Berburu Bahan Pangan Murah di Tengah Serba Mahalnya Harga Pokok: Selisih Rp 1.000 Sudah Alhamdulillah

Warga Indramayu berburu sembako murah lewat Gerakan Pangan Murah di Malangsemirang. Beras SPHP dijual Rp 11.500 per kilogram.

INDRAMAYUUPDATE – Dua kantong plastik putih berukuran sedang tampak menggembung di tangan Nurtini (49). Isinya beragam, mulai dari mi instan, gula, minyak goreng, hingga sejumlah bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan dapur keluarganya.

Siang itu, Rabu (21/10/2026), Nurtini baru saja selesai berbelanja di Balai Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Ia sengaja datang untuk memanfaatkan Gerakan Pangan Murah yang digelar pemerintah desa setempat.

Bagi Nurtini, selisih harga seribu hingga dua ribu rupiah untuk satu barang bukan perkara sepele. Di tengah penghasilan keluarga yang tidak selalu menentu, penghematan sekecil apa pun bisa membantu menjaga uang belanja tetap cukup hingga akhir bulan.

“Bagi ibu-ibu mah, beda harga Rp 1.000 sampai Rp 2.000 saja sudah lumayan banget. Di sini harganya lebih murah daripada di warung,” kata Nurtini saat berbincang di lokasi kegiatan.

Nurtini bukan warga Desa Malang Semirang. Ia berasal dari Desa Longok, Kecamatan Sliyeg, yang merupakan desa tetangga. Namun, setelah mendengar kabar adanya pasar murah, ia tak ragu mengendarai sepeda motor untuk datang dan membeli sejumlah kebutuhan pokok.

Bagi ibu tiga anak itu, kesempatan mendapatkan bahan pangan dengan harga lebih terjangkau menjadi salah satu cara untuk menyiasati pengeluaran rumah tangga.

Penghasilan Tak Menentu, Uang Belanja Harus Diatur

Dalam kesehariannya, Nurtini merupakan ibu rumah tangga yang turut membantu usaha kecil-kecilan milik suaminya. Sang suami menerima pesanan pembuatan kaus sekaligus jasa permak pakaian.

Penghasilan dari usaha tersebut tidak selalu datang dengan jumlah yang sama. Kondisi itu membuat Nurtini harus cermat mengatur uang belanja agar kebutuhan makan keluarga, uang jajan anak, hingga pengeluaran lainnya tetap terpenuhi.

Ketika harga bahan pokok meningkat, ia mengaku harus menyesuaikan menu makanan dengan kondisi keuangan yang tersedia.

“Ya disyukuri saja, sebisanya kita. Kalau lagi ada uang ya bisa makan lauk enak, kalau enggak ada ya yang penting ada sayur, ada lauknya,” tuturnya.

“Rezeki mah insya Allah pasti selalu ada. Sekarang juga anak alhamdulillah masih bisa rutin nabung di sekolah,” lanjut Nurtini.

Bagi Nurtini, berbelanja di pasar murah bukan sekadar mencari barang dengan harga lebih rendah. Kegiatan itu juga memberinya ruang untuk menghemat pengeluaran tanpa harus mengurangi kebutuhan pokok keluarga.

Sejumlah bahan pangan yang dibelinya hari itu diharapkan dapat mencukupi kebutuhan dapur untuk beberapa waktu ke depan.

Karena itu, ia berharap kegiatan serupa tidak hanya digelar sesekali, tetapi bisa berlangsung secara rutin.

“Harapannya sih kegiatan kayak gini terus dirutinkan, sering diadakan lagi. Lumayan, harganya lebih murah,” ujarnya.

Bukan Hanya Warga Setempat yang Berburu Sembako Murah

Nurtini bukan satu-satunya warga dari luar Desa Malang Semirang yang memanfaatkan kesempatan tersebut.

Selamet Hidayat (49), warga Kecamatan Sindang, juga terlihat memilih sejumlah bahan pokok di lokasi kegiatan.

Berbeda dengan Nurtini yang sengaja datang setelah mendengar informasi pasar murah, Selamet justru menemukan kegiatan itu secara tidak sengaja.

Pagi itu, ia tengah memiliki urusan pekerjaan di Desa Malang Semirang. Saat melihat adanya penjualan bahan pokok dengan harga lebih murah, ia memutuskan untuk singgah sebelum melanjutkan aktivitasnya.

“Lumayan, soalnya kan lebih murah dibanding harga di pasar,” kata Selamet singkat.

Pemerintah Desa Malang Semirang memang membuka kegiatan tersebut bagi masyarakat umum. Warga dari luar desa pun diperbolehkan berbelanja tanpa harus menunjukkan kartu identitas atau memenuhi persyaratan khusus.

Ketersediaan barang yang beragam juga disiapkan agar masyarakat bisa memilih kebutuhan sesuai keperluan dan kemampuan belanja masing-masing.

Beras SPHP Dijual Rp 11.500 per Kilogram

Kepala Desa Malang Semirang, Rusmono Syafi’i, menjelaskan, Gerakan Pangan Murah digelar untuk menyambut tradisi Unjungan Desa atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai tenongan. Tradisi tersebut dijadwalkan berlangsung pada Kamis (22/10/2026).

Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan Hari Pangan Sedunia dan menyemarakkan Hari Jadi Kabupaten Indramayu ke-499.

Namun, menurut Rusmono, tujuan utamanya bukan sekadar memeriahkan agenda desa. Pemerintah desa ingin menghadirkan intervensi ekonomi secara langsung melalui penyediaan kebutuhan pokok dengan harga di bawah pasaran.

“Masyarakat kan butuh sembako. Kalau ada bazar pasar murah, harganya terjangkau, mereka tentu senang. Mereka juga enggak perlu jauh-jauh keluar desa seperti ke Jatibarang atau Indramayu Kota,” jelas Rusmono.

Untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut, pemerintah desa bekerja sama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Indramayu. Kolaborasi itu turut melibatkan sejumlah penyedia bahan pokok, di antaranya Perum Bulog dan Yogya Toserba.

Melalui kerja sama tersebut, berbagai komoditas dijual dengan harga yang lebih rendah dibandingkan harga pasar.

Beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), misalnya, dijual seharga Rp 11.500 per kilogram. Harga tersebut berada di bawah kisaran harga pasar yang disebut mencapai Rp 13.000-Rp 14.000 per kilogram.

Sementara itu, daging dijual dengan harga Rp 120.000-Rp 130.000 per kilogram, sedangkan harga di pasar dapat mencapai Rp 150.000 per kilogram.

Telur juga ditawarkan seharga Rp 24.000 per kilogram. Harga itu lebih rendah dibandingkan kisaran harga pasar yang mencapai Rp 27.000-Rp 29.000 per kilogram.

Selain bahan pangan, stan pakaian murah turut dihadirkan untuk memberikan pilihan belanja yang lebih beragam bagi masyarakat.

“Alhamdulillah, dari mereka juga support sehingga harga yang dijual di sini di bawah harga pasaran. Jadi, di sini itu bebas, semua boleh ikut belanja, enggak perlu nunjukkin KTP dan lain sebagainya. Silakan warga bisa belanja sepuasnya,” kata Rusmono.

Melalui Gerakan Pangan Murah, pemerintah desa berharap masyarakat dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga lebih terjangkau sekaligus menjaga daya beli keluarga di tengah perubahan harga kebutuhan sehari-hari.

Bagi Nurtini, manfaat kegiatan itu terasa sederhana, tetapi nyata. Selisih harga yang berhasil dihemat bisa menjadi tambahan ruang bagi keuangan rumah tangga—agar kebutuhan dapur tetap terpenuhi, sementara pengeluaran lain tetap bisa diatur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *