INDRAMAYUUPDATE – Bupati Majalengka, Eman Suherman, menyatakan dukungan penuhnya terhadap pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai pahlawan nasional.
Dukungan ini Eman sampaikan saat membuka Seminar Nasional Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional KH Abbas Abdul Jamil di Aula Gedung KH Abdul Chalim, MA Unggulan Amanatul Ummah 02 Leuwimunding, Kabupaten Majalengka pada Minggu (9/8/2026).
“Atas nama Pemerintah Kabupaten Majalengka dan masyarakat Majalengka, kami mendukung pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional,” ujar Eman berdasarkan keterangan tertulis yang diterima, Senin (10/8/2026).
Menurut Eman, KH Abbas merupakan salah satu ulama yang memiliki peran penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Dari catatan sejarah, perjuangan mempertahankan kemerdekaan ini tidak hanya diperjuangkan oleh kalangan militer saja, tetapi juga oleh ulama, pesantren dan santri.
Sosok ulama yang punya peran penting itu adalah KH Abbas Abdul Jamil, sosoknya bahkan dijuluki sebagai ‘Singa dari Jawa Barat’.
Eman pun mendorong agar sosok ulama satu ini harus diperkenalkan luas kepada generasi muda.
“Sosoknya harus dikenalkan kepada generasi muda. Sejarah jangan sampai putus di generasi sekarang,” kata Eman.
KH Abbas Abdul Jamil diketahui lahir pada 1883 dan wafat pada 1947. Ia dikenal sebagai salah satu ulama penting dari lingkungan Buntet Pesantren, Cirebon.
Dalam seminar tersebut terungkap bahwa pengusulan KH Abbas Abdul Jamil sebagai Pahlawan Nasional ini turut diperkuat dengan penelitian dan penelusuran berbagai dokumen sejarah.
Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP), Prof Dr Usep Abdul Matin, mengatakan tim telah melakukan penelitian terhadap KH Abbas sejak 2024 dan kembali dilanjutkan pada 2025 hingga 2026.
Dalam kajian itu, tim berhasil mengumpulkan sebanyak 95 sumber, yang sebagian besarnya merupakan sumber primer.
“Dari 95, 74-nya sumber primer dan 23-nya sumber sekunder,” ujar Usep.
Menurut Usep, sumber primer tersebut antara lain berasal dari arsip dan dokumen yang dibuat pada masa terjadinya peristiwa sejarah, termasuk catatan pemerintahan kolonial Belanda.
Dokumen-dokumen tersebut dinilai penting untuk memperkuat rekam jejak KH Abbas sebagai tokoh agama sekaligus bagian dari jaringan perjuangan kemerdekaan.
Bahkan, kata Usep, terdapat dokumen kolonial yang menggambarkan KH Abbas sebagai tokoh yang dinilai memiliki pengaruh besar bahkan dianggap berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda.
“Kalau musuh yang mengatakan, kan kuat. Berbeda kalau yang mengatakan itu dari dalam,” ujar Usep.
Usep pun memaparkan rekam jejak perjuangan dari KH Abbas Abdul Jamil berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan.
Salah satunya peran penting KH Abbas adalah saat rangkaian peristiwa menjelang Pertempuran Surabaya pada November 1945.
Ia menjelaskan, setelah Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Indonesia menghadapi ancaman pasukan Sekutu dan Belanda yang ingin kembali merebut kekuasaan atas Indonesia.
Dalam situasi tersebut, jaringan ulama, pesantren dan santri turut mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan.
Pada 6 November 1945, KH Abbas disebut menggelar musyawarah bersama keluarga, para kiai dan santri untuk menentukan pemimpin ulama dan santri yang akan terlibat dalam perjuangan di Surabaya.
KH Abbas kemudian berangkat menuju Tebuireng, Jombang. Ia berangkat bersama putranya, KH Abdullah Abbas, dan para santri.
Dalam rangkaian peristiwa tersebut, KH Abbas disebut memberikan arahan mengenai waktu serangan pada 10 November 1945.
“KH Abbas mengatakan, besok subuh harus kita serang. Artinya besok subuh itu 10 November 1945,” ujar Usep.
Selain perjuangan bersenjata, penelitian juga menelusuri kiprah KH Abbas melalui jaringan pesantren, ulama dan organisasi Nahdlatul Ulama.
KH Abbas disebut membangun jaringan kader melalui lingkungan pesantren dan menjaga semangat perjuangan di tengah masyarakat.
“Jadi sampai akhir hayatnya terus menggunakan jaringan NU, jaringan pesantren, kesejawatan dengan teman-temannya, kiai dan santri untuk meraih kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan,” kata Usep.
Ketua Umum Pergunu Prof KH Asep Saifuddin Chalim menambahkan, bahwa pengusulan KH Abbas sebagai Pahlawan Nasional bukan sekadar upaya menyematkan gelar kehormatan kepada sosok ulama tersebut.
Menurut Asep, pengusulan ini merupakan bagian dari tanggung jawab generasi saat ini untuk memastikan jasa tokoh-tokoh perjuangan bangsa tercatat dalam sejarah.
Asep sendiri diketahui adalah putra Pahlawan Nasional KH Abdul Chalim. Ia mengatakan, KH Abbas dan KH Abdul Chalim merupakan dua ulama yang berada dalam satu barisan perjuangan.
“Keduanya adalah sahabat seperjuangan yang tidak mencari gelar. Mereka berjuang untuk kemerdekaan, bukan untuk dikenang. Tetapi sebagai generasi penerus, kita wajib menghormati jasa beliau,” ujar Asep.
Ia mengatakan, proses pengusulan KH Abbas sebelumnya belum memenuhi seluruh persyaratan. Karena itu, penelitian kembali diperkuat dengan melibatkan akademisi dan peneliti serta menelusuri sumber-sumber sejarah.
Puluhan sumber primer yang telah berhasil dikumpulkan, diyakini Asep cukup untuk membuktikan KH Abbas Abdul Jamil layak diakui sebagai Pahlawan Nasional.
“Insya Allah, dengan lebih dari 67 sumber primer yang telah kami kumpulkan, tahun ini KH Abbas layak dan harus diakui sebagai Pahlawan Nasional,” pungkasnya.






