INDRAMAYUUPDATE — Bau busuk langsung menusuk hidung saat memasuki area Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Pecuk, Desa/Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Gunungan sampah terlihat sejauh mata memandang di lahan seluas sekitar 13 hektare tersebut. Bagi orang yang tak terbiasa, aroma menyengat bercampur debu dan kondisi lingkungan TPA mungkin membuat perut mual.
Namun, bagi para pemulung, bau tersebut sudah menjadi bagian dari keseharian. Mereka tetap bertahan mengais barang bekas demi mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Salah satunya Gunawan (41). Selama sekitar satu tahun terakhir, Gunawan bersama istrinya setiap hari bergelut dengan tumpukan sampah di TPA Pecuk.
Dengan karung lusuh di pundak dan pengait besi di tangan, Gunawan memilah botol plastik, kardus, serta berbagai barang bekas lainnya yang masih memiliki nilai jual.
“Biasanya mulai dari jam 7 pagi, pulang 4 sore, begitu terus setiap hari,” kata Gunawan saat ditemui di sela aktivitasnya, Minggu (23/8/2026).
Barang-barang yang dikumpulkan kemudian dipilah berdasarkan jenisnya sebelum dijual kepada pengepul.
Namun, kerja keras selama hampir seharian ternyata hanya menghasilkan pendapatan yang relatif kecil. Gunawan mengaku rata-rata hanya membawa pulang sekitar Rp 30 ribu dalam sehari.
Pendapatan tersebut pun tidak selalu sama. Besarnya uang yang didapat bergantung pada jumlah dan jenis barang bekas yang berhasil dikumpulkan.
Harga jual di tingkat pengepul juga tergolong rendah. Botol plastik, misalnya, hanya dihargai sekitar Rp 2.500 per kilogram. Sementara jenis plastik lainnya sekitar Rp 1.500 per kilogram.
“Jadi memang berapa jumlah sampah yang dikumpulkan, jadi nggak tentu tiap harinya,” ujarnya.
Menjadi pemulung bukan sekadar pekerjaan dengan penghasilan minim. Ada berbagai risiko yang harus dihadapi setiap hari.
Selain bau menyengat, debu dan kotoran, pemulung juga bersentuhan langsung dengan berbagai jenis sampah yang berpotensi membawa penyakit.
Mereka juga harus berhati-hati terhadap gas metan yang dihasilkan dari proses pembusukan sampah.
Pengelola TPA pun memberlakukan larangan merokok di area pembuangan. Percikan api dari puntung rokok berpotensi memicu kebakaran, bahkan ledakan apabila menyambar gas yang terperangkap di bawah tumpukan sampah.
Di tengah risiko tersebut, Gunawan tetap menjalani rutinitasnya. Setiap pagi ia datang, mengais sampah, memilah barang bekas, lalu pulang ketika sore tiba.
Ketika ditanya mengapa masih bertahan dengan pekerjaan tersebut meski penghasilannya kecil dan risikonya cukup besar, Gunawan sempat terdiam. Jawabannya pun singkat.
“Karena tidak ada pekerjaan lain,” katanya.
Bagi sebagian masyarakat, TPA Pecuk mungkin hanya menjadi tempat berakhirnya sampah yang sudah tidak digunakan. Namun, bagi Gunawan dan para pemulung lainnya, gunungan sampah tersebut justru menjadi tempat mereka menggantungkan hidup.
Menjadi pemulung bukanlah pekerjaan yang sejak awal dicita-citakan Gunawan. Ia bahkan berharap suatu hari bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
“Pengennya, sih, kerja yang lebih baik. Bukan jadi pemulung. Tapi sementara ini, saya nyari duitnya di sini dulu,” pungkasnya.
Di tengah gunungan sampah dan bau yang menyengat, Gunawan memilih terus berjalan. Bukan karena pekerjaan itu mudah atau ia mencintainya, melainkan karena dari sanalah dapur rumahnya tetap bisa mengepul.
Bagi Gunawan, selama tubuh masih kuat untuk bekerja, pekerjaan apa pun akan dijalani demi menyambung hidup.




