Ancaman Kekeringan Makin Serius di Indramayu, Bupati Lucky Hakim Bersama Warga Gelar Salat Istisqa

INDRAMAYUUPDATE – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu bersama warga menggelar salat istisqa guna memohon diturunkannya hujan di tengah musim kemarau panjang yang saat ini sedang melanda wilayah Indramayu.

Bupati Indramayu, Lucky Hakim mengatakan, salat istisqa tersebut dilakukan di halaman Masjid Besar Baitur Rohman, Kecamatan Anjatan, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Jumat (24/7/2026) kemarin.

Selain Bupati, sejumlah kepala dinas, camat, hingga tokoh ulama, juga hadir dalam pelaksanaan salat tersebut.

Langkah ini ditegaskan Lucky menjadi ikhtiar batin, di samping beragam upaya yang telah dilakukan Pemkab dalam upaya menyelamatkan ribuan hektare area persawahan yang kini terancam gagal panen atau puso di Indramayu.

“Lewat salat istisqa ini saya mengajak semua teman-teman, masyarakat, semuanya, untuk sama-sama kita berdoa memohon kepada Allah SWT, semoga Allah kabulkan hujan di Kabupaten Indramayu,” ujar Lucky, Sabtu (25/7/2026).

Lucky menjelaskan, mayoritas masyarakat Indramayu berprofesi sebagai petani dan nelayan.

Saat musim kemarau tiba, kekeringan menjadi ancaman serius yang menghantui para petani.

Terlebih kondisi saat ini, banyak petani yang baru saja memulai musim tanam, membuat kebutuhan petani terhadap air sangat besar.

Kebutuhan yang sangat besar itu tidak sebanding dengan ketersediaan sumber air yang tersedia imbas musim kemarau. Dampaknya, sejumlah areal persawahan kini mulai dilanda kekeringan dan terancam puso.

Berdasarkan laporan yang diterima dari Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Indramayu, diketahui ada sekitar 10.673 hektar tanaman padi petani yang tersebar di enam kecamatan di Indramayu berstatus terancam puso.

Lucky menegaskan, Pemkab Indramayu tidak diam, berbagai upaya pun telah dilakukan, mulai dari perbaikan saluran irigasi, pendistribusian air dimaksimalkan semaksimal mungkin, hingga mengatur jadwal gilir air agar semua hamparan sawah mendapat jatah air secara merata.

“Termasuk kita juga sudah meninjau sumber-sumber air, tapi memang kondisinya saat ini debit air semakin sedikit, sehingga memicu perebutan air,” ujarnya.

Setelah dilakukannya berbagai upaya tersebut, ditambah dengan salat istisqa, Lucky berharap upaya pemerintah dalam mencukupkan kebutuhan air bagi para petani di Indramayu dapat diberikan kelancaran.

“Kita sama-sama berdoa, karena Allah adalah senjata utamanya umat Muslim, mudah-mudahan doa ini dapat menggetarkan langit, semoga awan-awan pun berkumpul dan hujan pun turun,” harap Lucky.

Diketahui Indramayu bagian barat menjadi wilayah yang paling parah terdampak kekeringan pada musim kemarau tahun ini.

Sebanyak enam camat di wilayah yang terdampak kekeringan tersebut bersama dengan petani, bahkan sampai melakukan intervensi dengan mendatangi langsung Bendung Salam Darma pada Rabu (22/7/2026) lalu.

Keenam pemimpin wilayah tersebut adalah Camat Sukra, Camat Patrol, Camat Anjatan, Camat Bongas, Camat Gabuswetan, dan Camat Kandanghaur.

Camat Sukra, Sigit Widiyanto menegaskan, bahwa upaya yang dilakukannya bersama para camat lainnya tersebut adalah untuk menyelamatkan tanaman padi petani sebelum benar-benar mati kekurangan air.

“Kami para camat bersama KTNA berkomitmen penuh menyukseskan program ketahanan pangan nasional. Namun, komitmen ini harus didukung dengan pasokan air yang cukup. Faktanya di lapangan, debit air saat ini memang sangat minim,” kata Sigit saat dihubungi.

Berdasarkan hasil pantauan di lapangan saat itu, diceritakan Sigit, aliran air di Bendung Salam Darma diketahui tercatat hanya berada di angka 14 meter kubik per detik.

Angka ini dinilai sangat jauh dari batas minimal untuk mampu mengairi lahan pertanian di Kecamatan Sukra dan wilayah barat Indramayu lainnya.

Meski demikian, pihak pengelola Bendung Salam Darma diketahui telah menyatakan komitmennya untuk mengakomodasi permintaan air dari Indramayu.

Mereka berjanji akan segera berkoordinasi dengan otoritas terkait agar pasokan dari Waduk Jatiluhur dapat ditingkatkan, sehingga debit air yang mengalir ke Indramayu Barat bisa bertambah mencapai 20-25 meter kubik per detik.

“Pemerintah daerah memastikan akan terus mengawal dan memperjuangkan nasib para petani agar sektor pertanian lokal tetap produktif menghasilkan panen yang maksimal,” pungkas Sigit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page