INDRAMAYUUPDATE – Aksi massa dari Aliansi Topi Jerami yang melempar ular ke area Pendopo Indramayu pada Kamis (7/5/2026) berbuntut panjang.
Tindakan tersebut menuai kecaman keras dari Komunitas Reptil Indramayu yang menilai penggunaan hewan hidup dalam demonstrasi adalah tindakan yang tidak bijak.
Perwakilan Komunitas Reptil Indramayu, Sulthon Agung, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tersebut. Menurutnya, satwa tidak seharusnya dilibatkan dalam urusan politik atau penyampaian aspirasi manusia.
“Hewan tidak bersalah dan seharusnya berada di habitatnya. Sangat disayangkan jika dijadikan alat dalam aksi demonstrasi,” ujar Sulthon dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Diketahui, aksi pelemparan ular tersebut merupakan bentuk protes massa karena tidak ditemui oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim.
Massa berdalih bahwa ular tersebut adalah sindiran terhadap kinerja pemerintah yang dianggap hanya bersifat simbolis tanpa dampak nyata bagi rakyat.
Namun, Sulthon menegaskan bahwa alasan apa pun tidak dapat membenarkan penggunaan satwa sebagai alat demo. Ia menilai tindakan tersebut masuk dalam kategori eksploitasi hewan karena membahayakan satwa.
Aksi tersebut juga mencederai upaya pelestarian lingkungan dan keseimbangan ekosistem yang selama ini digaungkan oleh banyak pihak.
Senada dengan Sulthon, anggota komunitas lainnya, Bambang Utomo, menekankan bahwa pihaknya sangat menghargai hak warga negara untuk berunjuk rasa.
Meski begitu, ada batasan etika yang harus dipatuhi, terutama menyangkut makhluk hidup.
“Kami tidak melarang aksi penyampaian pendapat, itu hak semua pihak. Tetapi jangan sampai hewan dijadikan objek atau alat. Itu tidak bijak dan berpotensi merusak ekosistem,” kata Bambang.
Dari kejadian ini, Komunitas Reptil Indramayu mengimbau masyarakat untuk lebih peduli terhadap perlindungan satwa liar. Mereka berharap aksi serupa tidak terulang kembali di masa depan.
“Kami berharap kejadian serupa tidak kembali terulang, sekaligus mendorong meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan dan habitat satwa liar,” pungkasnya.
