INDRAMAYUUPDATE – Harga gabah kering panen (GKP) di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menembus Rp 9.200 per kilogram. Kondisi ini membuat pengusaha penggilingan padi tertekan karena harga jual beras masih dibatasi Harga Eceran Tertinggi (HET).
Meski demikian, para pengusaha penggilingan padi menyatakan tetap beroperasi untuk menjaga pasokan beras sekaligus mendukung pengadaan beras pemerintah.
Komitmen tersebut disampaikan dalam deklarasi bersama pengusaha penggilingan padi, Perum Bulog, dan instansi terkait dalam rapat evaluasi pengadaan beras di Kabupaten Indramayu, Selasa (15/9/2026).
Ketua DPC Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Kabupaten Indramayu, Oktavian Gatra Barbehen Sagala, mengatakan harga gabah di tingkat petani saat ini sudah jauh di atas harga yang sebelumnya ditetapkan pemerintah, yakni Rp 6.500 per kilogram.
“Harga gabah tertinggi yang kami dapati dari keluh kesah penggiling itu bisa sampai Rp 9.200 per kilogram. Kalau diolah jadi beras dengan HET Rp 14.900 per kilogram, jelas rugi karena tidak sebanding dengan biaya olah dan transpor. Namun, kami berikrar tetap beroperasi dan bersinergi dengan pemerintah agar tidak ada yang gulung tikar,” kata Gatra.
Menurutnya, tingginya harga bahan baku membuat margin usaha penggilingan semakin tertekan. Di sisi lain, harga jual beras tidak bisa mengikuti kenaikan harga gabah secara bebas karena adanya ketentuan HET.
Gatra menilai harga gabah yang lebih ideal untuk menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan keberlangsungan usaha penggilingan berada di kisaran Rp 7.000 per kilogram.
Perpadi juga mendorong Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengkaji fleksibilitas HET beras dengan mempertimbangkan kondisi harga gabah dan biaya produksi saat ini.
Pengusaha Tetap Suplai Beras ke Bulog
Komitmen untuk tetap beroperasi juga disampaikan salah satu mitra kerja Bulog Indramayu dari PT SPG, Muhadi. Dia memastikan pihaknya tetap mendukung program pengadaan stok beras pemerintah meski harga bahan baku mengalami kenaikan.
“Kalau kami selalu siap mendukung. Garda terdepan pengadaan Bulog Indramayu adalah kami selaku mitra,” ujar Muhadi.
Muhadi mengatakan harga gabah yang ideal bagi pengusaha penggilingan berada di kisaran Rp 7.000 per kilogram. Namun, kondisi di lapangan saat ini berbeda.
Harga gabah melonjak karena pasokan terbatas, sementara permintaan dari berbagai daerah cukup tinggi.
“Yang pasti faktor yang paling menentukan ya itu tadi. Bahannya terbatas, pembelinya banyak,” terangnya.
Dia berharap pemerintah ikut memperhatikan kondisi pengusaha penggilingan padi agar usaha tetap berjalan. Dengan begitu, penyerapan hasil panen petani juga dapat terus berlangsung.
Serapan Bulog Indramayu Lampaui Target
Sementara itu, Pimpinan Cabang Perum Bulog Indramayu, Apip Wijaya, mengapresiasi komitmen para pengusaha penggilingan yang tetap aktif mengolah gabah dan menyuplai beras ke gudang Bulog.
Apip mengatakan dinamika harga gabah tidak menghentikan upaya Bulog melakukan penyerapan. Bahkan, realisasi pengadaan beras Bulog Indramayu pada 2026 telah melampaui target.
“Alhamdulillah untuk target tahun 2026 sebesar 174.000 ton setara beras, kita sudah mencapai lebih dari 100 persen. Walau ada dinamika harga, kami di Bulog Indramayu tetap melakukan optimalisasi penyerapan gabah dan beras hingga akhir tahun,” ungkap Apip.
Menurutnya, penyerapan gabah dan beras dilakukan untuk menjaga harga di tingkat petani sekaligus memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).
Cadangan tersebut nantinya digunakan untuk mendukung stabilisasi pasokan dan harga beras.
“Jadi kami terus melakukan optimalisasi penyerapan sampai akhir tahun,” pungkasnya.






