Nyesek! Perjuangan Seorang Ayah Rela Bawa Putra Kecilnya Keliling Naik Sepeda Cari Pelanggan Sol Sepatu Karena Sang Ibu Telah Tiada

INDRAMAYUUPDATE – Di tengah teriknya matahari, Dulmukti (56) terus mengayuh sepeda tuanya menyusuri jalanan di Kabupaten Indramayu. Di boncengan belakang, sang anak bungsu yang baru berusia 5 tahun setia menemaninya mencari nafkah.

Bukan tanpa alasan Dulmukti membawa anaknya berkeliling. Sejak istrinya meninggal dunia dua tahun lalu, ia tak memiliki siapa pun yang bisa menjaga putranya, Mauludin atau yang akrab disapa Udin.

“Anak namanya Mauludin, biasa dipanggil Udin. Istri sudah nggak ada jadi dibawa-bawa,” kata Dulmukti saat ditemui di Desa Tambak, Kecamatan Indramayu, Senin (8/6/2026).

Warga Desa Penganjang, Kecamatan Sindang itu kini menggantungkan hidup sebagai tukang sol sepatu keliling. Bermodalkan sepeda tua warna krem, ia berkeliling dari satu desa ke desa lain menawarkan jasa memperbaiki alas kaki.

Padahal sebelumnya Dulmukti bekerja sebagai kuli bangunan. Namun usia yang semakin senja dan kewajiban mengasuh anak membuatnya tak lagi sanggup menjalani pekerjaan tersebut.

“Dulu saya tukang bangunan, tapi sekarang sudah tidak lagi. Soalnya tidak ada yang menjaga anak di rumah. Ditambah usia juga sudah segini, tenaga sudah nggak kuat,” ujarnya.

Dulmukti sebenarnya memiliki tiga anak. Namun satu anaknya telah meninggal dunia, sementara anak lainnya sudah berkeluarga dan tinggal di luar kota. Kini, hanya dirinya dan Udin yang tinggal bersama di rumah sederhana mereka.

Karena tak ada keluarga dekat yang bisa dititipi, Udin akhirnya ikut menemani ayahnya bekerja setiap hari.

“Sejak istri meninggal, anak jadi suka dibawa-bawa. Tidak ada yang mengurus di rumah,” tuturnya.

Profesi sebagai tukang sol sepatu dipilih Dulmukti setelah mendapat bantuan dan pelatihan dari seorang kerabat. Sejak saat itu, ia mulai berkeliling menawarkan jasa sol sepatu dengan peralatan sederhana yang dibawanya di atas sepeda.

Setiap pekan, Dulmukti memiliki rute tetap. Mulai dari Desa Tambak, Pabean Udik, Pekandangan, Sindang hingga Lemah Mekar. Jarak yang ditempuh cukup jauh, terlebih ia harus membonceng Udin sepanjang perjalanan.

“Kalau ada masjid biasanya saya istirahat dulu. Kasihan Udin, biar istirahat sebentar baru lanjut lagi cari pelanggan,” katanya.

Tak jarang Udin menangis karena lelah atau kepanasan. Saat itu terjadi, Dulmukti hanya bisa membujuk putra kecilnya agar tetap sabar menemaninya bekerja.

“Pastinya sedih, kasihan lihat anak harus kepanasan di jalan. Kalau dia sudah mulai rewel, saya kasih HP supaya anteng di boncengan,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ponsel tanpa kuota internet itu menjadi hiburan sederhana bagi Udin. Bahkan Dulmukti terkadang meminta izin kepada pelanggan untuk menyambungkan ponselnya ke jaringan WiFi agar anaknya bisa lebih betah menunggu.

Meski bekerja dari pagi hingga sore, penghasilan Dulmukti jauh dari pasti. Ia hanya mematok tarif Rp 15 ribu untuk satu pasang sepatu yang diperbaiki.

Hari itu, Dulmukti mengaku cukup beruntung karena mendapat enam pasang sepatu untuk disol. Dari pekerjaannya tersebut, ia membawa pulang Rp 90 ribu. Selain itu, ada pelanggan yang memberikan makanan dan jajanan untuk Udin.

Namun keberuntungan tidak selalu berpihak kepadanya. Tak sedikit hari yang dilalui tanpa satu pun pelanggan datang menghampiri.

“Tapi sering juga tidak dapat pelanggan. Jadi nggak ada pemasukan. Kalau sudah begitu ya mau bagaimana lagi, sedih iya, bingung juga iya,” ujarnya.

Momen paling berat pernah ia rasakan saat tiga hari berturut-turut tidak memperoleh penghasilan sama sekali. Persediaan makanan di rumah habis, sementara uang tak tersisa.

Beruntung, kepedulian para tetangga menjadi penyelamat bagi Dulmukti dan Udin.

“Pernah tiga hari nggak dapat uang sama sekali. Alhamdulillah saya dikelilingi tetangga yang baik. Mereka bawa makanan untuk saya dan Udin,” katanya.

Di atas sepeda tua yang terus dikayuh setiap hari, Dulmukti mungkin tak tahu berapa banyak sepatu lagi yang akan ia jahit esok hari. Namun satu hal yang pasti, selama tenaganya masih ada, ia akan terus berjuang demi masa depan putra bungsunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *