Bisnis  

Sisi Lain Babak Belurnya Rupiah Terhadap Dolar AS: Kiriman Uang dari PMI di Luar Negeri Ikut Naik

Screenshot

INDRAMAYUUPDATE – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menembus Rp 17.852 per dolar AS per Selasa (2/6/2026) hari ini membawa dampak berbeda bagi para Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Jika kondisi ini menjadi tantangan bagi sebagian sektor ekonomi, para PMI justru merasakan keuntungan dari meningkatnya nilai uang yang mereka kirim ke tanah air.

Sebagai salah satu daerah kantong PMI terbesar di Indonesia, Kabupaten Indramayu memiliki ribuan warganya yang bekerja di luar negeri. Data Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Indramayu mencatat sebanyak 21.182 penempatan PMI terjadi sepanjang 2025.

Salah seorang PMI asal Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Indramayu, Tunjinah (30), mengaku merasakan langsung dampak positif dari melemahnya rupiah. Perempuan yang akrab disapa Anah itu telah bekerja di Hong Kong selama empat tahun.

Setiap bulan, Anah menerima gaji sebesar 4.870 dolar Hong Kong. Dari jumlah tersebut, ia rutin mengirimkan sekitar 1.500 dolar Hong Kong kepada keluarganya di kampung halaman.

“Dulu saat kirim 1.500 dolar Hong Kong nilainya sekitar Rp 3 jutaan. Sekarang uang yang diterima keluarga jadi lebih besar karena kurs naik,” kata Anah di rumahnya.

Anah mengungkapkan, peningkatan kurs juga membuat total pendapatan yang dihitung dalam rupiah ikut bertambah. Jika sebelumnya setara sekitar Rp 9 juta per bulan, kini bisa mencapai Rp 11 juta.

Bagi Anah, tambahan nilai tersebut sangat berarti. Terlebih, sejak awal berangkat menjadi PMI, ia menjadi tulang punggung keluarga dan membiayai anaknya yang kini berusia 5 tahun.

Saat ini Anah sedang menjalani cuti dan pulang ke kampung halamannya di Indramayu. Momentum pelemahan rupiah pun dimanfaatkannya untuk memenuhi kebutuhan sang anak, termasuk membelikan sepeda baru menjelang masuk Taman Kanak-kanak (TK).

Meski masih bekerja di luar negeri, Anah mengaku memiliki rencana untuk kembali dan menetap di Indonesia suatu saat nanti. Ia berharap dapat mengumpulkan tabungan yang cukup untuk membuka usaha sendiri.

“Apa yang aku lakukan ini demi anak. Kalau bisa saya ingin anak sekolah lebih tinggi dari orang tuanya dan jadi orang yang pintar,” ujarnya.

Kondisi serupa juga dirasakan Dasniti, warga Desa Panyingkiran Lor, Kecamatan Cantigi, Indramayu. Ia mengaku kiriman uang dari anaknya yang bekerja di Singapura kini memiliki nilai yang lebih besar saat ditukar ke rupiah.

“Terasa banget bedanya. Dulu yang saya terima sekitar Rp 2 juta, sekarang bisa sampai Rp 3 juta,” kata Dasniti.

Menurutnya, kenaikan nilai kiriman tersebut membantu kebutuhan sehari-hari keluarga, termasuk biaya pendidikan adik-adik sang anak.

Tak hanya kiriman uang yang meningkat, Dasniti menyebut nilai gaji anaknya yang dikonversi ke rupiah juga ikut naik. Jika sebelumnya setara sekitar Rp 6 juta per bulan, kini mencapai sekitar Rp 7,5 juta.

“Kalau orang tua mah senang lihat anak sejahtera, semoga bisa membawa berkah juga,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *