INDRAMAYUUPDATE – Harapan petani untuk memanen padi setelah mengeluarkan biaya selama berbulan-bulan harus kandas. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, sebanyak 10.670 hektare sawah dilaporkan mengalami puso atau gagal panen akibat kekurangan air di tengah musim kemarau.
Tanaman padi yang semestinya tumbuh menghijau justru mengering sebelum menghasilkan bulir gabah. Ironisnya, sebagian besar tanaman yang mati itu masih berusia muda, sekitar 30 hari setelah tanam.
Ketua Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengatakan dampak kekeringan tersebut tersebar di sejumlah kecamatan, mulai dari Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol, hingga Balongan.
“Kondisi puso ini tersebar di beberapa area seperti Kecamatan Kroya, Gabuswetan, Terisi, Patrol, hingga Balongan,” ujar Sutatang saat dihubungi, Senin (19/10/2026).
Modal Tanam Petani Terancam Lenyap
Bagi petani yang terdampak, puso bukan sekadar tanaman yang mati di tengah sawah. Kondisi ini juga berarti hilangnya kesempatan memperoleh hasil dari modal yang sudah dikeluarkan sejak awal musim tanam.
Biaya pengolahan tanah, pembibitan, persemaian, hingga pemupukan pertama telah dikeluarkan. Namun, ketika tanaman mulai tumbuh dan membutuhkan pasokan air yang cukup, aliran irigasi justru menyusut hingga akhirnya tidak mampu menopang pertumbuhan padi.
Sutatang menjelaskan, minimnya pasokan air menjadi penyebab utama kegagalan panen tersebut. Dua sumber air yang diandalkan untuk mengairi persawahan, yakni Waduk Jatiluhur dan Bendung Cipanas, belum mampu memenuhi kebutuhan air secara optimal pada periode tersebut.
“Penyebab utama puso ini memang karena minimnya pasokan air dari sumber utamanya, yaitu Waduk Jatiluhur dan Bendung Cipanas,” ungkapnya.
Khusus untuk Bendung Cipanas, KTNA Indramayu menerima informasi mengenai belum optimalnya infrastruktur saluran air menuju areal persawahan. Kondisi itu turut menjadi persoalan dalam distribusi air bagi petani.
Meski begitu, Sutatang menyebut saluran tersebut kini dikabarkan telah kembali normal. Ia berharap perbaikan distribusi air bisa menjadi modal penting untuk mencegah kejadian serupa pada musim tanam berikutnya.
“Sekarang saluran tersebut dikabarkan sudah normal kembali. Insya Allah, ke depannya pasokan air dari Waduk Cipanas akan aman,” katanya.
Sebagian Petani Justru Panen 9 Ton per Hektare
Di tengah kabar buruk dari lahan yang mengalami puso, cerita berbeda datang dari petani yang masih mendapatkan pasokan air memadai.
Sebagian petani di Indramayu justru telah melewati masa panen raya dengan hasil yang cukup menggembirakan. Berdasarkan laporan yang diterima KTNA, produktivitas padi di sejumlah areal yang berhasil bertahan mencapai lebih dari 7 ton per hektare.
Bahkan, pada lahan dengan dukungan irigasi yang melimpah, hasil panen disebut dapat mencapai 9 ton per hektare.
“Puncak panen memang sudah terlewati, tapi sebagian lagi di beberapa titik ada juga yang masih sedang panen dan akan panen,” jelas Sutatang.
Hasil panen yang tinggi itu menjadi angin segar bagi petani yang lahannya tidak terdampak kekeringan parah. Namun, keberhasilan tersebut belum bisa dirasakan secara merata karena sebagian petani lainnya justru kehilangan tanaman sebelum masa panen tiba.
Harga Gabah Tinggi, tetapi Tak Semua Petani Menikmati
Kabar baik lainnya datang dari harga gabah di tingkat petani yang berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).
Sutatang menyebut harga Gabah Kering Panen (GKP) saat ini berkisar Rp 8.500 hingga Rp 9.000 per kilogram. Angka tersebut melampaui HPP GKP sebesar Rp 6.500 per kilogram.
Sementara itu, harga Gabah Kering Giling (GKG) di tingkat petani mencapai sekitar Rp 9.500 per kilogram, lebih tinggi dibandingkan HPP GKG yang disebut berada pada kisaran Rp 7.400 hingga Rp 8.000 per kilogram.
Menurut Sutatang, tingginya harga gabah diperkirakan berkaitan dengan berkurangnya pasokan akibat banyaknya areal persawahan yang mengalami puso di berbagai daerah.
“Melonjaknya harga ini diperkirakan akibat berkurangnya pasokan gabah secara nasional lantaran banyaknya areal persawahan yang puso di berbagai daerah,” katanya.
Namun, harga gabah yang tinggi tidak otomatis menjadi keuntungan bagi petani yang gagal panen. Tanpa hasil panen yang bisa dijual, mereka tetap harus menanggung biaya produksi yang telah dikeluarkan.
KTNA Minta Pemerintah Siapkan Antisipasi
Kondisi pertanian di Indramayu pada musim gadu kali ini memperlihatkan dua kenyataan yang berjalan beriringan. Sebagian petani menikmati hasil panen melimpah dan harga gabah tinggi, sementara sebagian lainnya harus menghadapi kerugian akibat kekurangan air.
Luas sawah yang mengalami puso mencapai 10.670 hektare menjadi pengingat bahwa ketersediaan air masih menjadi persoalan penting bagi keberlangsungan produksi pertanian, terutama ketika kemarau berlangsung.
KTNA Indramayu pun mendorong pemerintah menyiapkan langkah antisipasi yang lebih baik, mulai dari memastikan keandalan infrastruktur irigasi hingga menjaga kecukupan pasokan air untuk musim tanam mendatang.
Harapannya, keberhasilan panen yang dirasakan petani di wilayah dengan irigasi memadai tidak hanya menjadi cerita sebagian orang. Petani yang saat ini kehilangan hasil tanam juga perlu mendapat perhatian agar memiliki kesempatan untuk kembali menanam dan memanen dengan lebih aman pada musim berikutnya.