INDRAMAYUUPDATE – Aksi unjuk rasa yang digelar massa Aliansi Topi Jerami di depan Pendopo Indramayu, Jawa Barat, viral di media sosial usai diwarnai aksi pelemparan ular, Kamis (7/5/2026).
Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk kekecewaan massa karena tidak ditemui langsung oleh Bupati Indramayu, Lucky Hakim.
Koordinator aksi, Rakhmat Hidayat, mengatakan ular yang dilemparkan ke area pendopo merupakan simbol kritik terhadap kondisi Indramayu yang dinilai belum banyak mengalami perubahan.
“Simbol lempar ular ini menjadi bentuk kritik kami terhadap kebijakan yang terkesan simbolis. Masyarakat membutuhkan solusi yang benar-benar dirasakan dampaknya,” kata Rakhmat saat dihubungi, Jumat (8/5/2026).
Dalam aksi tersebut, massa membawa sejumlah tuntutan terkait persoalan yang dinilai masih menjadi keresahan masyarakat. Mulai dari masalah sampah, pendidikan, hingga kondisi ekonomi warga.
Menurut Rakhmat, persoalan sampah menjadi salah satu isu yang paling banyak dikeluhkan masyarakat. Ia menyebut banyak sampah menggunung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) karena tak kunjung diangkut.
“Padahal masyarakat membuang sampah di TPS, bukan sembarangan. Tapi karena tidak diangkut, akhirnya menggunung dan menimbulkan bau,” ujarnya.
Selain itu, Aliansi Topi Jerami juga menyoroti sejumlah program pemerintah daerah yang disampaikan dalam Laporan Keterangan Pertanggungjawaban (LKPJ). Mereka menilai capaian yang disampaikan belum sepenuhnya sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Kami menuntut Bupati Indramayu untuk membuka secara transparan seluruh kebijakan dan program kerja yang selama ini diklaim berhasil, serta mempertanggungjawabkan secara jujur capaian yang faktanya tidak dirasakan oleh masyarakat,” ucapnya.
Meski diwarnai aksi pelemparan ular, polisi memastikan unjuk rasa berlangsung aman dan tertib hingga massa membubarkan diri.
Kasi Humas Polres Indramayu, AKP Tarno, mengatakan petugas langsung mengamankan ular yang dilemparkan massa aksi.
“Alhamdulillah unjuk rasa berjalan kondusif,” kata Tarno.
Ia menjelaskan ular yang dilempar pendemo bukan jenis berbahaya, melainkan ular sawah.
“Kami bersama petugas gabungan lainnya langsung menangkap ular-ular yang dilemparkan massa aksi,” pungkasnya.






