INDRAMAYUUPDATE – Polres Indramayu mengamankan lima orang yang diduga terlibat dalam kasus kematian Sanudin (44), petani yang ditemukan bersimbah darah di depan gerbang TPU Buyut Rendani, Desa Juntikebon, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat.
Kelima orang tersebut diamankan tidak lama setelah jasad Sanudin ditemukan pada Rabu (14/10/2026) pagi. Polisi masih mendalami peran masing-masing orang yang diamankan dalam peristiwa tersebut.
Kasi Humas Polres Indramayu, AKP Tarno, menyebut kelima orang itu masing-masing berinisial FHF alias A (20), R alias D (39), S alias K (36), AAA alias A (17), dan NS alias N (22).
“Dua di antara lima orang tersebut, yakni R alias D dan S alias K, diketahui merupakan kakak beradik warga Kecamatan Juntinyuat yang awal mulanya terlibat cekcok di lokasi kejadian,” kata Tarno di Mapolres Indramayu, Rabu (14/10/2026) malam.
Saat ini, kelimanya masih menjalani pemeriksaan di ruang penyidik Satreskrim Polres Indramayu. Penyidik juga tengah mencocokkan keterangan mereka dengan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) dan barang bukti yang telah diamankan.
“Penyidikan masih terus berjalan. Tim Inafis dan Satreskrim sedang mencocokkan hasil olah TKP, barang bukti yang diamankan, serta keterangan dari lima orang yang diamankan untuk mengkonstruksikan peran mereka secara jelas,” ujar Tarno.
Selain memeriksa lima orang tersebut, polisi telah meminta keterangan dari tujuh saksi untuk mengungkap rangkaian peristiwa yang berujung pada kematian Sanudin.
Berawal dari Cekcok Kakak Beradik
Berdasarkan keterangan sementara yang dihimpun penyidik, peristiwa itu diperkirakan terjadi sekitar pukul 03.30 WIB.
Sebelum kejadian, Sanudin diketahui baru selesai menonton pertunjukan sandiwara bersama rekan-rekannya di Desa Juntiweden, Kecamatan Juntinyuat.
Dalam perjalanan pulang, korban melintas di sekitar TPU Buyut Rendani dan mendapati keributan antara R alias D dan S alias K yang merupakan kakak beradik.
Sanudin kemudian menghampiri keduanya dengan maksud melerai pertengkaran. Namun, niat tersebut justru berujung petaka.
Polisi menduga perselisihan kemudian berlanjut menjadi penyerangan terhadap korban hingga terjadi pengeroyokan. Sanudin disebut sempat berusaha bertahan setelah terjatuh dalam posisi telentang.
“Korban juga sempat berusaha bertahan usai terjatuh telentang, namun ia menderita luka yang cukup parah akibat serangan terduga pelaku,” kata Tarno.
Korban akhirnya tergeletak di sekitar saluran irigasi yang berada di dekat lokasi kejadian.
Seorang saksi bernama Dulyani (31) bersama tiga rekannya yang melihat kondisi korban kemudian turun ke saluran irigasi untuk memberikan pertolongan.
Namun, setelah berhasil dievakuasi ke daratan, Sanudin sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.
“Nahas, saat berhasil dievakuasi ke daratan, Sanudin sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan,” ujar Tarno.
Ada Luka Diduga Akibat Benda Tajam
Polisi telah memasang garis polisi di sekitar lokasi untuk kepentingan penyelidikan. Sementara itu, jenazah Sanudin dievakuasi ke RS Bhayangkara Losarang untuk menjalani autopsi guna mengetahui penyebab pasti kematiannya.
Dari pemeriksaan awal, ditemukan luka pada leher sebelah kanan korban yang diduga akibat tusukan benda tajam. Selain itu, terdapat luka lecet pada siku kanan dan betis kanan serta bercak darah di sekitar TKP.
Petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti, yakni dua batang bambu dengan panjang masing-masing sekitar satu meter, sebuah batu nisan dengan bercak menyerupai darah, dua pasang sandal, sebuah topi denim biru, dan sebuah korek api.
Di sekitar lokasi, polisi turut menemukan dua botol bekas minuman keras jenis ciu dan satu botol kecil bekas minuman bir hitam.
“Seluruh barang bukti tersebut kini sudah kami amankan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut,” pungkas Tarno.
Hingga Rabu malam, penyidik masih mendalami konstruksi perkara dan keterlibatan masing-masing orang yang diamankan. Polisi juga menunggu hasil autopsi untuk membantu mengungkap penyebab pasti kematian korban.
