Momen Ibu di Indramayu yang Khawatir Tak Ingin Anaknya Terjerumus Pergaulan Negatif Hingga Minta Bantuan Polisi

Khawatir anaknya enggan sekolah dan kerap pulang larut malam, seorang ibu di Indramayu meminta bantuan polisi untuk melakukan pembinaan.

INDRAMAYUUPDATE – Kekhawatiran seorang ibu di Desa Tenajar Lor, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, terhadap perilaku anaknya yang masih duduk di bangku SMP berujung pada permintaan bantuan kepada polisi.

Sang ibu mengaku kesulitan menasihati anaknya yang mulai enggan berangkat sekolah. Selain itu, anak tersebut kerap bermain di luar rumah hingga larut malam, bahkan pernah tidak pulang tanpa memberikan kabar.

Kondisi itu membuat sang ibu khawatir anaknya terpengaruh pergaulan negatif, mulai dari geng motor dan tawuran hingga penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Kapolsek Sukagumiwang AKP Suripto mengatakan, pihaknya menerima laporan dari ibu tersebut yang berharap anaknya mendapatkan pembinaan sebelum perilakunya semakin jauh menyimpang.

“Jadi, ceritanya ibu tersebut sangat khawatir anaknya terpengaruh pergaulan negatif. Yang dia takutkan itu anaknya ikut-ikutan geng motor hingga tawuran,” ujar Suripto, Minggu (25/10/2026).

Polisi Datangi Rumah dan Sekolah

Menindaklanjuti laporan tersebut, Suripto mendatangi kediaman ibu itu pada Kamis (22/10/2026). Ia didampingi PS Panit Binmas Polsek Sukagumiwang Aiptu Sarip dan Bhabinkamtibmas Aiptu Slamet S.

Dalam pertemuan di rumah tersebut, sang ibu menyampaikan kegelisahannya sekaligus meminta bantuan agar anaknya mendapat pendampingan.

Setelah mendengarkan keterangan ibu itu, polisi kemudian mendatangi sekolah tempat anak tersebut menimba ilmu. Pembinaan dilakukan dengan melibatkan kepala sekolah agar anak mendapat pemahaman dari lingkungan keluarga maupun pendidikan.

Menurut Suripto, petugas terlebih dahulu memberikan kesempatan kepada anak tersebut untuk mengungkapkan alasan di balik keengganannya bersekolah dan kebiasaannya menghabiskan waktu di luar rumah bersama teman-temannya.

Pendekatan dilakukan secara persuasif dan humanis. Polisi mengajak anak itu memahami pentingnya pendidikan serta perlunya menjaga pergaulan demi masa depannya.

Petugas juga memberikan edukasi mengenai risiko kenakalan remaja, termasuk tawuran dan penyalahgunaan obat-obatan seperti tramadol dan hexymer.

Menangis dan Berjanji Berubah

Dalam proses pembinaan tersebut, polisi turut mengingatkan anak itu tentang kekhawatiran yang dirasakan ibunya. Orang tua, kata Suripto, tentu menginginkan anaknya tumbuh dengan baik dan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Pendekatan dari hati ke hati itu kemudian membuahkan respons positif. Anak tersebut mengakui kesalahannya dan meminta maaf kepada sang ibu.

“Anak itu berjanji bakal rajin lagi sekolah, mematuhi nasihat orang tua dan guru, serta meminta maaf kepada ibunya dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” tutur Suripto.

Suripto berharap pembinaan tersebut menjadi titik awal bagi anak itu untuk memperbaiki perilakunya, kembali fokus belajar, serta menjauhi lingkungan pergaulan yang berisiko.

Ia juga mengimbau para orang tua agar tidak ragu meminta bantuan kepolisian ketika menghadapi persoalan perilaku anak yang membutuhkan pendampingan.

“Semoga langkah yang kami lakukan tersebut menjadi awal yang positif bagi anak tersebut agar kembali fokus belajar dan membangun masa depan yang jauh lebih baik,” pungkasnya.

Exit mobile version