INDRAMAYUUPDATE – Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati siap menjadi bandara alternatif apabila penerbangan dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) kembali dialihkan akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau.
Executive General Manager BIJB Kertajati, Nuril Huda, memastikan kesiapan tersebut baik dari sisi sarana-prasarana maupun personel. Menurutnya, Bandara Kertajati memang disiapkan sebagai salah satu bandara alternatif bagi Soetta.
“Kita sudah prepare-kan semuanya,” kata Huda di Bandara Kertajati, Minggu (6/9/2026).
Kesiapan Bandara Kertajati juga didukung hasil pengujian terhadap keberadaan partikel abu vulkanik di udara. Huda menyebut pihaknya telah beberapa kali melakukan paper test dan hasilnya negatif.
Artinya, berdasarkan hasil pengujian tersebut, tidak ditemukan partikel abu vulkanik yang mengganggu operasional penerbangan di kawasan Bandara Kertajati.
Kesiapan itu bahkan telah dibuktikan dengan pendaratan dua pesawat Garuda Indonesia pada Minggu sore. Kedua pesawat tersebut sebelumnya dijadwalkan mendarat di Bandara Soetta.
Namun, penerbangan dialihkan ke Bandara Kertajati menyusul penutupan sementara Bandara Soetta akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Garuda Indonesia GA 961 dari Madinah menjadi pesawat pertama yang mendarat di Kertajati pada pukul 14.25 WIB. Selanjutnya, Garuda Indonesia GA 983 dari Jeddah tiba sekitar pukul 15.00 WIB.
Kedua pesawat tersebut membawa jemaah umrah dan berhasil mendarat tanpa kendala.
“Bandara Kertajati ini juga merupakan bandara alternatif dari Bandara Soekarno-Hatta. Jadi, kita sudah prepare-kan semuanya,” ujar Huda.
Siap Layani Penerbangan Domestik
Huda mengatakan Bandara Kertajati tidak hanya siap menerima penerbangan internasional, tetapi juga penerbangan domestik apabila sewaktu-waktu diperlukan.
“Termasuk untuk pendaratan domestik, kalau memang diperlukan kami siap,” katanya.
Meski demikian, pihak Bandara Kertajati saat ini masih fokus memberikan pelayanan kepada ratusan penumpang dari dua penerbangan Garuda Indonesia yang dialihkan dari Soetta.
Menurut Huda, pihaknya tidak dapat memastikan apakah nantinya akan ada penerbangan lain yang kembali dialihkan ke Kertajati.
Sebab, kondisi penerbangan sangat bergantung pada perkembangan sebaran abu vulkanik dan keputusan otoritas penerbangan.
“Itu karena tidak bisa diprediksi ya, memang alam itu kan kita juga tidak bisa memprediksi bagaimana,” ucapnya.
Pesawat Sudah Terbang Saat Soetta Ditutup
Huda menjelaskan, pengalihan dua pesawat Garuda Indonesia tersebut dilakukan karena pesawat sudah terlanjur mengudara dari Madinah dan Jeddah ketika informasi mengenai penutupan sementara Bandara Soetta dikeluarkan.
Setelah dilakukan koordinasi, kedua pesawat kemudian diarahkan untuk mendarat di Bandara Kertajati.
Koordinasi tersebut dilakukan antara AirNav Indonesia, Kementerian Perhubungan, serta pihak maskapai.
“Namun pada prinsipnya kita siap untuk melayani alternatif dari Cengkareng,” pungkas Huda.
