INDRAMAYUUPDATE — Suara sorak-sorai dan gelak tawa terdengar dari halaman Sekolah Luar Biasa (SLB) Gandasari, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Selasa (18/8/2026).
Puluhan anak berkebutuhan khusus ikut memeriahkan peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia melalui berbagai perlombaan yang digelar pihak sekolah.
Beragam lomba khas perayaan 17 Agustus digelar dengan sejumlah penyesuaian agar dapat diikuti para siswa.
Salah satunya lomba joget balon. Jika biasanya peserta berjoget dengan heboh, beberapa siswa SLB Gandasari justru asyik menggerakkan tangan mengikuti irama dengan gerakan sederhana.
Keseruan juga terlihat dalam lomba balap karung. Sejumlah peserta sempat terjatuh di tengah lintasan. Namun, mereka kembali bangkit dan melanjutkan perlombaan.
Ada pula peserta yang memilih berjalan santai daripada melompat menggunakan karung hingga garis finis.
Momen tak kalah menggemaskan terjadi saat lomba makan kerupuk.
Panitia bahkan harus memegangi kedua tangan peserta agar tidak digunakan untuk memegang kerupuk yang bergoyang tertiup angin.
Alih-alih membuat suasana tegang, tingkah polos para peserta justru mengundang tawa para guru dan wali murid yang menyaksikan dari pinggir lapangan.
Kemeriahan tidak hanya dirasakan para siswa. Pihak sekolah juga menggelar perlombaan khusus untuk orang tua siswa.
Sejumlah lomba seperti estafet air hingga mencari koin di dalam tumpukan tepung digelar.
Suasana semakin pecah ketika wajah para orang tua berubah putih penuh tepung.
Kali ini, giliran anak-anak yang tertawa melihat tingkah orang tua mereka.
Kepala SLB Gandasari Anggun Gamelia mengatakan, perlombaan tersebut sengaja digelar agar para siswa berkebutuhan khusus dapat merasakan kemeriahan perayaan 17 Agustus seperti anak-anak lainnya.
“Untuk siswa kami di sini ada sebanyak 138 siswa, itu berasal dari jenjang TK sampai SMA. Untuk perlombaannya sendiri kami mengikuti tren, tetapi dimodifikasi sesuai kebutuhan anak-anak,” kata Anggun kepada Kompas.com di lokasi.
Menurut dia, kemenangan bukan menjadi tujuan utama dalam kegiatan tersebut.
Yang lebih penting, kata Anggun, para siswa memiliki ruang untuk berani berekspresi, bersosialisasi, dan menikmati suasana penuh kegembiraan.
Ia berharap pengalaman tersebut dapat menjadi bekal bagi para siswa agar kelak mampu mandiri dan terus berusaha meski memiliki keterbatasan.
Perlombaan untuk orang tua juga sengaja dibuat agar kebahagiaan tidak hanya dirasakan siswa, tetapi menjadi momen kebersamaan seluruh keluarga besar SLB Gandasari.
Anggun mengatakan kegiatan tersebut turut mendapat dukungan dari komunitas Jabar Bergerak. Komunitas itu membantu menyediakan hadiah bagi para pemenang sekaligus memberikan sejumlah ide perlombaan yang disesuaikan dengan kondisi siswa.
Ketua DPC Jabar Bergerak Kabupaten Indramayu Ridha Triana mengatakan keterlibatan pihaknya merupakan bentuk dukungan terhadap semangat inklusivitas.
Menurutnya, kemerdekaan merupakan hak seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
“SLB Gandasari membuktikan bahwa peringatan kemerdekaan bukan sekadar rutinitas tahunan, tetapi wujud kebersamaan, penerimaan, dan ruang kebahagiaan yang setara bagi seluruh anak bangsa,” ujar Ridha.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat menjadi penyemangat bagi para siswa untuk semakin giat belajar sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap Tanah Air.
Di halaman SLB Gandasari, makna kemerdekaan terasa dalam bentuk sederhana.
Anak-anak bebas berekspresi, tertawa, bermain, dan menikmati perlombaan bersama teman, guru, serta orang tua mereka.
Sebab, bagi mereka, merdeka bukan hanya soal perayaan. Merdeka juga berarti memiliki kesempatan yang sama untuk bahagia.
