INDRAMAYUUPDATE – Selama hampir 4 dekade lamanya, tangan Suherri (58) tak pernah jauh dari lem, benang nilon, dan sepatu-sepatu yang perlu diperbaiki. Dari lapak sederhana di Desa Sukawera, Kecamatan Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pria yang akrab disapa Herri itu membesarkan keluarganya hingga berhasil mengantarkan sang anak menjadi seorang guru.
Bagi sebagian orang, pekerjaan tukang sol sepatu mungkin dipandang sebelah mata. Namun bagi Herri, pekerjaan itu telah menjadi jalan hidup sekaligus sumber keberkahan.
“Alhamdulillah sekarang anak saya sudah jadi guru, ngajar di Kota Malang,” ujar Herri di rumahnya, Jumat (7/8/2026).
Perjalanan menuju titik itu tidaklah mudah. Sebelum menetap membuka lapak di rumahnya, Herri menghabiskan masa mudanya dengan memikul peralatan sol sepatu sambil berkeliling dari satu daerah ke daerah lain mencari pelanggan.
Saat itu, ongkos memperbaiki sepasang sepatu hanya Rp 300.
“Dulu peralatan saya dipikul sendiri. Keliling ke Subang, Cirebon, sampai Jakarta juga pernah,” kenangnya.
Panas dan hujan menjadi teman sehari-hari. Rupiah demi rupiah dikumpulkan untuk menghidupi keluarga dan membiayai pendidikan anak-anaknya.
Kini perjuangan panjang itu mulai berbuah. Lapak kecil di rumahnya tak pernah sepi. Dalam sehari, sekitar 20 hingga 30 pelanggan datang untuk memperbaiki sepatu atau membeli alas kaki bekas yang masih layak pakai.
Herri mematok tarif sol sepatu hanya Rp 10 ribu. Harga itu lebih murah dibandingkan jasa serupa yang umumnya berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 20 ribu.
Baginya, selisih beberapa ribu rupiah bisa sangat berarti bagi keluarga yang sedang berhemat, terutama saat musim masuk sekolah.
Selain jasa sol sepatu, Herri juga menjual sepatu dan sandal bekas berkualitas. Sepatu sekolah yang di toko bisa dijual puluhan hingga ratusan ribu rupiah, di lapaknya cukup ditebus sekitar Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu.
Beberapa di antaranya bahkan merupakan merek ternama seperti Kickers dan Crocodile. Herri mendapatkannya dari pemasok sisa stok toko yang tutup, lalu membersihkan dan memperbaikinya sebelum dijual kembali.
Meski murah, Herri mengaku tak pernah mengorbankan kualitas.
“Yang utama menjaga kualitas. Saya tidak ingin mengecewakan orang lain,” katanya.
Kepercayaan pelanggan pun tumbuh dari mulut ke mulut.
Salah satu pelanggan setianya, Jarwono, mengaku sudah berkali-kali membeli sandal maupun sepatu di lapak Herri.
“Soalnya murah. Sandal ada yang Rp 15 ribu, sepatu Rp 25 ribu sampai Rp 35 ribu. Kalau beli baru model seperti ini bisa Rp 70 ribuan. Kualitasnya juga bagus,” ujar Jarwono.
Namun bagi Herri, usaha ini bukan sekadar mencari keuntungan.
Ia mengaku sering memberikan sepatu secara cuma-cuma kepada anak yatim atau warga yang benar-benar membutuhkan.
“Saya kasihan kalau melihat orang yang kurang mampu. Kadang ada anak yatim datang butuh sepatu, saya kasih saja. Tidak usah bayar. Yang penting mereka tetap bisa sekolah dan pakai sepatu yang layak,” tuturnya.
Prinsip itu pula yang membuatnya tetap mempertahankan harga murah.
“Kalau modal Rp 15 ribu, saya jual Rp 20 ribu juga sudah cukup. Untung sedikit tidak apa-apa, yang penting usaha tetap jalan dan bisa bantu orang lain,” katanya.
Di sudut Desa Sukawera, Herri membuktikan bahwa sebuah pekerjaan sederhana bisa melahirkan kisah yang luar biasa. Berbekal lem, benang, dan ketekunan selama puluhan tahun, ia bukan hanya berhasil menyekolahkan anak hingga menjadi guru, tetapi juga terus membantu banyak warga agar tetap memiliki sepatu yang layak tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
