INDRAMAYUUPDATE – Ratusan wadah anyaman bambu berbentuk bulat bertumpuk dan berderet rapi memenuhi pelataran salah satu rumah warga di Desa Malang Semirang, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).
Wadah tradisional yang dikenal dengan nama tenong tersebut bukan sekadar wadah makanan biasa.
Melainkan simbol persembahan rasa syukur sekaligus pengikat tali silaturahmi warga yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Hari ini, warga Desa Malang Semirang diketahui tengah bersuka cita menggelar acara adat unjungan desa mereka.
Warga berbondong-bondong datang memenuhi setiap sudut area Makam Buyut Nuresih, yang merupakan sesepuh Desa Malang Semirang.
Suasana riuh penuh kehangatan pun begitu terasa di lokasi. Mulai dari anak muda, orang dewasa, hingga para ibu-ibu ikut bergotong royong menyukseskan acara adat tersebut.
Pada tahun ini, diketahui tidak kurang dari 260 buah tenong disiapkan. Puncaknya, ratusan tenong tersebut diarak ke lokasi Makam Buyut Nuresih untuk disajikan kepada seluruh warga desa.
“Alhamdulillah tahun ini kami bisa kembali menggelar acara adat unjungan desa atau tenongan. Tahun ini kita ada sekitar 260 tenong,” kata Kepala Desa Malang Semirang, Rusmono Syafi’i selepas acara.
Tradisi Unjungan sendiri adalah sebuah ritual adat penghormatan kepada leluhur desa dengan cara berziarah.
Acara adat ini biasa digelar pasca-panen raya, sekaligus sebagai bentuk ungkapan rasa syukur petani atas hasil panen yang melimpah.
Sebenarnya, acara Adat Unjungan ini turut digelar oleh hampir seluruh desa yang ada di Indramayu. Namun, keberadaan tenong membuat Unjungan di Desa Malang Semirang terasa berbeda dan begitu istimewa.
“Sampai dengan saat ini kami masih mempertahankan tenongan. Di Indramayu tinggal dua desa saja yang masih menjalankan tradisi tenongan, yaitu di Malang Semirang dan satu lagi di Desa Longok Kecamatan Sliyeg,” kata Rusmono.
Kehadiran tenong di Desa Malangsemirang sendiri tidak terlepas dari akar sejarah yang sudah sangat melekat kuat dari desa yang berada di paling ujung Kecamatan Jatibarang ini.
Menurut cerita para sesepuh setempat, Desa Malang Semirang pada masa lampau merupakan desa utusan dari Keraton Kasepuhan Cirebon.
“Kita mengikuti tradisi leluhur. Dari dulu kita menggunakan tenong karena Desa Malang Semirang adalah desa utusan dari Keraton Kasepuhan. Setiap tahun, kalau kita mau ngirim hantaran atau seserahan makanan ke keraton, ditaruh di dalam tenong,” jelasnya.
Selain karena nilai historisnya, tenong tetap dipertahankan karena dipandang praktis dan estetik. Wadah tradisional ini juga diyakini mampu menjaga kebersihan isi makanan di dalamnya.
Lebih dari situ, Rusmono mengungkapkan, bahwa tenong ini merupakan simbol penghormatan setinggi-tingginya yang diberikan oleh warga atas keberkahan yang mereka terima selama ini.
Pantauan di lokasi, warga mulanya berkumpul di area Makam Buyut Nuresih untuk memulai acara adat ini.
Sebuah panggung besar juga dirikan megah di area makam sesepuh tersebut, di atas panggung itu turut digelar pertunjukkan seni sandiwara sebagai hiburan warga.
Di depan panggung megah itu, ribuan warga tampak duduk berjajar rapi saling berhadapan, mereka membentuk barisan panjang yang membentang memenuhi pelantaran makam Buyut Nuresih.
Puncak acara yang dinanti-nanti pun tiba. Para pemuda desa bergerak sigap mengarak tenong-tenong tersebut menuju lokasi makam.
Tenong lalu diletakkan tepat di tengah-tengah kelompok warga yang masing-masing terdiri dari empat orang.
Dengan penuh kehangatan, mereka membagi isi tenong dan memasukkannya ke dalam kantong plastik untuk dibawa pulang.
Isian dari tenong ini rupanya juga tidak asal-asalan. Rusmono mengatakan, isian tenong wajib berisikan Bekakak Sepetarangan, yaitu olahan ayam utuh beserta telur.
Uniknya, jumlah telur dalam tenong tidak dibuat sembarangan, minimal terdapat 12 butir telur.
Isian tenongan ini kemudian dilengkapi pula dengan beragam minuman, makanan, serta buah-buahan yang jumlahnya juga ditata dalam kelipatan empat.
“Isinya itu kelipatan empat. Kalau ada Fanta ya empat, Sprite empat, buah juga empat. Telurnya minimal 12 karena nanti dibagikan untuk empat orang. Tempat duduknya memang dikondisikan untuk empat orang,” tutur Rusmono.
Di balik kemeriahan Unjungan Tenongan di Desa Malang Semirang, sore itu, turut terselip sebuah cerita kebersamaan dan gotong royong yang kental.
Warga yang memiliki rezeki lebih diketahui secara sukarela menyumbang tenongan tanpa ada paksaan.
Selain itu ada pula yang menyumbang dengan tenaga, warga bahu-membahu menyiapkan acara tanpa mengharapkan bayaran sepeser pun.
Badrun (42), salah seorang warga, bahkan tak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas kekompakan masyarakat di desanya.
“Warga ini swadaya dan gotong royong. Termasuk tenaga, ini tenaga sosial semua. Itulah kekompakan dari masyarakat Desa Malang Semirang,” kata Badrun sumringah.
Menariknya, panitia kini menerapkan pola pengelolaan acara yang adaptif tanpa membebani kas desa atau patungan warga.
Untuk menutup operasional panggung dan hiburan, panitia membuka peluang kemitraan serta donasi dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal desa setempat maupun donatur dalam negeri.
Sebagai bentuk apresiasi, foto para donatur dipajang pada sebuah baliho besar di lokasi acara dan di setiap sudut desa.
Tak hanya itu, sebagian dana yang terkumpul juga disalurkan kembali untuk memberikan penghargaan bagi anak-anak desa yang berprestasi.
Tradisi Unjungan Tenongan di Desa Malangsemirang akhirnya bukan sekadar ritual tahunan melunasi janji pada sejarah.
Lebih dari itu, tenong-tenong yang berderet rapi hari itu menjadi saksi bisu betapa hangatnya kebersamaan, kepedulian sosial, dan kebanggaan atas identitas budaya yang terus dirawat zaman.